loading...
loading...

Yang Mutlak dan Relatif

Oleh: Abdul Hakim

Dalam bahasan filosofis pasangan yang mutlak itu adalah yang relatif. Kalau dibawa ke pembahasan agama akan kita dapatkan bahwa Tuhan menyatakan diri sebagai kebenaran mutlak, “Al-Haqqu min Rabbika,” demikian firmanNya. Itu artinya di luar Tuhan bukan kebenaran mutlak, tetapi kebenaran relatif atau terbatas.

Sejalan dengan itu, wahyu Tuhan yang kebenarannya mutlak itu diterima oleh manusia sempurna (Insan Kamil), yaitu Nabi saw, yang kemudian menyampaikan kebenaran mutlak itu kepada umat manusia. Dan Allah Swt sendiri yang menjamin kebenaran seluruh kata-katanya, karena apa yang dikatakan Nabi bukan menurut dorongan hawa nafsunya, melainkan sepenuhnya berdasarkan wahyu.

Pada paparan tersebut jelas sudah bahwa Tuhan, wahyu, dan Nabi berada pada tataran kebenaran mutlak itu. Pada sisi lain, harus dikatakan bahwa pemahaman yang kita dapatkan atas kebenaran mutlak itu merupakan kebenaran relatif dan terbatas. Ketika ada orang dan kelompok yang memutlakkan kebenaran yang mereka pahami sebagai sama dengan Nabi dan wahyu itu sendiri, berarti mereka telah mengangkat diri mereka sederajat dengan Nabi atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Dari pemahaman mereka yang mengklaim sebagai pemegang kebenaran mutlak seperti inilah kemudian muncul di tengah masyarakat kelompok-kelompok intoleran, fanatis, radikalis, ekstremis, dan teroris, sebagaimana yang kita kenal sekarang ini yang memonopoli kebenaran agama dan seolah memegang mandat dari Tuhan untuk menentukan nasib manusia lainnya. Siapa sajakah mereka itu?

Secara ringkas mereka itu terdiri dari: pertama, kelompok puritan yang mengusung doktrin tentang pemurnian agama. Slogan mereka adalah kembali kepada Alquran dan Sunnah, sebagai cara untuk mengikuti ajaran agama seperti aslinya; kedua, kelompok fundamentalis yang mengusung doktrin tentang khilafah dan politik Islam untuk menghidupkan kembali kekhalifahan Islam; dan ketiga, kelompok teroris yang merupakan gabungan dari doktrin puritan dan fundamentalis, yang menjadikan diri mereka sebagai monster yang siap untuk menghancurkan siapa pun yang menghalangi gerakan mereka. Agama yang suci dan luhur mereka jadikan ideologi dan ajaran horor  untuk berjihad melawan pemerintah.

Keberadaan kelompok-kelompok religius fanatis intoleran seperti disebutkan di atas tentu sangat mengancam kedamaian yang ada di tengah masyarakat. Di samping itu, mereka juga bisa menyebabkan hancurnya persatuan dan membuat perpecahan yang akan berujung pada kekacauan dan bahkan perang saudara dalam sebuah negara yang berdaulat secara sah.

Ketika mengamati dan merenungi perkembangan buruk seperti itu, saya teringat sebuah tulisan cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia, Nurcholis Madjid. Ia mengangkat salah satu doktrin yang populer di kalangan Sufi bahwa “jalan menuju Tuhan itu sebanyak tarikan nafas hamba-Nya.”

Doktrin tersebut kalau kita kaji dan renungi secara mendalam akan menunjukkan kebenarannya kalau kita kaitkan dengan realitas religiusitas yang ada di tengah umat manusia. Karena dalam kehidupan masyarakat manusia, kita menemukan ada banyak agama dan kepercayaan yang menandai hubungan antara manusia dan Tuhannya.

Berangkat dari realitas seperti itu dengan menggunakan kejernihan akal sehat seharusnya setiap orang bisa menghargai adanya berbagai perbedaan agama dan keyakinan dalam kehidupan masyarakat itu. Apalagi kalau perbedaan itu sekadar perbedaan pemahaman dalam sebuah agama, yang muncul sebagai aliran teologis dan mazhab-mazhab.

Meyakini kebenaran suatu agama dan mazhab tertentu adalah logis dan perlu. Karena setiap orang memang perlu memiliki pegangan yang jelas dalam menjalani kehidupannya. Namun, fanatisme terhadap keyakinan sendiri yang kemudian dijadilan alasan untuk menafikan keyakinan orang lain adalah tidak logis. Karena pemahaman seseorang terhadap suatu kebenaran, terlebih kalau itu kebenaran mutlak sudah pasti terbatas.

Jadi, terhadap sesama penganut kebenaran yang terbatas dan relatif, seharusnya sikap toleran dan saling menghargai lebih dikedepankan. Pemaksaan untuk mengikuti suatu keyakinan tertentu dengan cara menyesatkan dan mengafirkan mereka yang berbeda keyakinan dan faham agama atau mazhabnya, tentu sangat bermasalah dalam segala sisi dengan segala keburukannya. Karena itu, dalam beragama kita perlu memiliki kelapangan hati untuk menerima perbedaan dengan tidak memutlakkan pendapat sendiri. Karena Tuhan sendiri sebagai pemilik kebenaran yang mutlak itu pun sudah menegaskan, “Tiada paksaan dalam beragama.”

 

 

 

loading...

Check Also

Potensi Konflik Sunni- Syiah adalah Propaganda Barat

Potensi Konflik Sunni- Syiah adalah Propaganda Barat

Satu Islam, Jakarta – Terlalu simplisistik jika konflik di Arab khususnya Suriah dikaitkan langsung antara …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

loading...