Home / Opini / Menyoal “Obsesi Mensyiahkan Habib Rizieq”

Menyoal “Obsesi Mensyiahkan Habib Rizieq”

Dok : Republika
Dok : Republika

“Mensyiahkan”

Beberapa hari lalu beredar artikel dari laman suara islam pada hari Jumat (13/12) lalu. Di artikel tersebut penulisnya (saya lupa namanya) menyebutkan seolah membela dan mengdavokasi Habib Rizieq Syihab (Selanjutnya disingkat dengan HRS) yang sedang terkena fitnah karena membela Syiah dengan judul “Obsesi Mensyiahkan Habib Rizieq”.

Paragraf pertama artikel itu berisi sebagai berikut:
“Isu Habib Rizieq Syiah atau cenderung Syiah atau minimal membela Syiah beredar massif di dunia maya. Bahkan supaya lebih hot dibumbui foto-foto lama ketika Habib Rizieq diundang ke Iran tahun 2006 bersama sejumlah tokoh NU dan Muhammadiyah. Tentu itu fitnah kepada Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) yang sudah kenyang dengan fitnah dan hujatan dari media massa dan kaum liberal.”

Paragraf diatas bahkan artikel tersebut secara umum tak penting ditanggapi karena penulisnya, dari pilihan katanya, melakukan klarifikasi yang ditujukan kepada sevisi dan sepola pikirnya.

Tapi yang menarik untuk dibahas adalah judulnya, “Obsesi Mensyiahkan Habib Rizieq” .

Ada 2 kemungkinan pengertian “mensyiahkan” atau “men-X-kan”:
1. Membuat seseorang terlihat menjadi bagian, menyetujui, atau setidaknya mendukung “Syi`ah” atau “X” terlepas dari seperti seperti apa keyakinannya sebenarnya
2. Mengubah keyakinannya (secara persuasif ataupun paksa) menjadi “Syi`ah” atau “X” dari keyakinan awalnya.

Mari kita coba bahas langkah demi langkah:
1. Keyakinan dalam arti hakiki, yaitu apa yang benar-benar dipercayai oleh seseorang, adalah sesuatu yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena itu, penilaian keyakinan seseorang secara lahiriah hanya bisa diketahui dari apa yang diucapkannya, dituliskannya, dan dilakukannya.

Dalam konteks HRS, kita hanya dapat menilai seperti apa keyakinan HRS terhadap Syi`ah dengan mengumpulkan secara lengkap pendapatnya persis selengkap apa yang dituliskan, diucapkan, atau dilakukannya, bukan penggalan atau, yang lebih parah, manipulasi yang dilakukan oleh media takfiri yang mendistorsi makna dan konteks.

Tentu saja, apa yang dilakukan media takfiri ini bertentangan dengan semangat dan perintah Islam sehingga kita heran bagaimana mungkin mereka sebagai orang yang mengaku Muslim bisa menjustifikasi perbuatannya, terlebih dengan mengingat bahwa segala tindakan kita akan diperhitungkan sampai sekecil-kecilnya di hari akhir nanti.

2. Pengertian pertama “mensyiahkan” seperti yang tersebut di atas akurat kalau terbukti suatu manipulasi atau distorsi yang dilakukan sehingga image yang digambarkan tentang seseorang berbeda dengan apa yang dituliskan, diucapkan, atau dilakukannya. Kalau media takfiri tersebut menuduh pihak Syi`ah melakukan hal ini, maka mereka harus membuktikan adanya deviasi, yaitu dengan menuliskan gambaran yang dilakukan pihak Syi`ah vs apa yang dikatakan, diucapkan, atau dilakukan oleh HRS. Justru dari tulisan media takfiri ini, mereka yang mengadakan manipulasi dengan adanya distorsi gambaran HRS versi mereka (anti semua Syi`ah yang harus dilarang eksistensinya dalam bentuk UU) dan pendapat HRS yang sesungguhnya. Jadi, dalam pengertian di atas, kita dapat mengatakan bahwa mereka sedang berusaha “mentakfirikan” HRS.

3. Yang perlu juga ditanyakan lebih lanjut adalah media takfiri tersebut mewakili siapa? Karena jelas kita lihat bahwa pendapat HRS berbeda sekali dengan pendapat media takfiri dalam hal menyikapi Syi`ah dan, secara umum, golongan yang bermadzhab berbeda. Media takfiri ini juga perlu menjelaskan kriteria sesat mereka karena jangan-jangan bahkan HRS sendiri termasuk dalam kriteria tersebut.

4. Dalam definisi “mensyiahkan” yang kedua, media takfiri harus membuktikan tuduhan bahwa ada usaha dari pihak Syi`ah untuk mengubah keyakinan HRS menjadi Syi`ah baik secara persuasif ataupun paksaan. Tanpa bukti, tentu saja ini namanya tuduhan palsu atau fitnah. Cara terbaik untuk memverifikasi hal ini adalah menanyakan langsung kepada HRS sendiri.

5. Selain itu, tentu saja pengertian kedua tidak sesuai dengan semangat Islam seperti yang jelas tertera di al-Qur’an: “la ikroha fid din” dan, khususnya untuk konversi paksa, bertentangan langsung dengan Pancasila dan konstitusi di Republik Indonesia.

Selain itu, “mesnsyiahkan” (juga mensunnikan) adalah kata tak bermakna dan paradoksal, karena;

1. Keyakinan adalah peristiwa metafisik dan psikis. Ia adalah premis-premis dan logos yang terbentuk dalam benak secara otomatis, bahkan kadang tidak disadari oleh subjek,terutama bila dihadirkan melalui narasi besar atau premis fundamemtal, disebut apriori.

Karena bersifat subjektif dan metafisik juga psikis, maka ia tidak tunduk pada hukum fisik, termasuk pemaksaan. Hal itu karena pemaksaan hanya akan mencapai hasil maksimal berupa pengakuan verbal semata.

2. Pemindahan keyakinan bahkan tentang sesuatu yang tidak bertalian dengan agama mungkin hanya bisa dilakukan bila pihak yang menjadi objek tidak memiliki keyakinan tentang masalah itu, meski secara sosial dianggap penganut keyakinan tertentu berdasarkan hukum relasi tempat.

Karena itu, Indonesia sulit untuk dianggap sebagai negeri berpenduduk mayoritas Sunni. Sunni (secara terminologis bukan “selain Syiah”, tapi sebuah mazhab kalam yang didasarkan pada prinsip keadilan sahabat Nabi yang diyakini sebagai penghubung umat Islam dengan Nabi atau Quran dan Sunnah atau Hadis. Artinya, yang benar-benar Sunni secara kemzhaban itu bukan mayoritas.

3. Pensyiahan adalah frase yang nampaknya hanya menemukan terapannya dalam dunia khayal. Karena jauh hari sebelumnya digemborkan bahwa Syiah adalah kelompok yang menyembunyikan keyakinan asli atau bertaqiyah.
Bila taqiyah digambarkan oleh pensesat Syiah sebagai topeng guna menyembunyikan keyakinan, tentu tuduhan pensyiahan tidak menemukan terapan objektif. Orang yang menyembunyikan keyakinan karena menghindari intimidasi orang-orang intoleran tidak akan berkesempatan untuk mengajak orang-orang yang mengiranya semazhab dengannya untuk menganut mazhab yang dirahasiakannya.

4. Keyakinan adalah logos teologis dan keagamaan manusia. Ia mestinya tertanam berdasarkan pilihan karena kepuasan dan kemantapan, tanpa dipengaruhi oleh faktor selain itu. Karenanya, pensyiahan dan pensunnian atau modus misionari lainnya tidak akan berpengaruh.

Strategi Takfiri Menghadapi HRS
Pihak takfiri sepertinya kelabakan dalam menyikapi HRS. Di satu sisi, mereka mengharapkan HRS mendukung mereka dalam menghadapi Syi`ah mengingat jumlah anggota FPI yang tergolong besar. Di sisi lain, posisi HRS yang berseberangan dengan mereka dalam beberapa isu seperti Syi`ah membuat mereka tidak mau dan tidak bisa berkoalisi dengan HRS, dan HRS pun tidak mau mengasosiasikan dirinya dengan mereka.

Kebingungan ini terlihat dalam sikap mereka yang ambigu. Sebagian menuduh HRS sebagai “Syi`ah”. Sebagian lain berusaha “menyadarkannya” tentang ajaran “Ahlus Sunnah yang sejati” (padahal maksudnya lebih ke penafsiran ala ibn Taymiyyah yang kaku yang seringkali bertentangan dengan penafsiran para imam mazhab termasuk asy-Syafi`i). Sebagian lain berusaha mendistorsi pandangannya untuk menunjukkan bahwa HRS berada dalam golongan mereka. Selain ditafsirkan sebagai kebingungan, ada alternatif penafsiran lain, yaitu strategi terkoordinasi para takfiri dalam menjebak dan mengkotakkan HRS, mirip dengan strategi “Good Cop, Bad Cop” yang sering kita lihat di TV. Dengan strategi ini, mereka mengharapkan HRS menjadi tidak nyaman dan kemudian berubah memusuhi, mensesatkan, dan mengkafirkan seluruh Syi`ah.

Alhamdulillah, HRS tidak terjebak maupun terpengaruh dengan ambiguitas ini. Beliau tetap konsisten dalam pendiriannya yang dapat kita lihat dalam beliau membagi Syi`ah dalam 3 kelompok, yaitu Ghulat, Rofidhoh, & Mu`tadilah yang kemudian ditanggapi oleh ABI dengan menunjukkan bagaimana, apa dan siapa Syi`ah yang mayoritas ada di Indonesia sebenarnya.

Kita harapkan beliau tetap beristiqamah dalam keyakinannya sebagai Ahlus Sunnah bermadzhab kalam Asy`ari, bermazhab fiqh Syafi`i, dan menentang para takfiri yang tindakannya berbahaya bagi kehidupan beragama di Indonesia.

Jangan jadi Syiah!
Orang-orang Syiah berharap HRS tetap konsisten dengan kesunniayannya, tetap menjadi palang pintu dan benteng Sunni Asy’ari Syafii yang cinta Ahlulbait dan dzurriyyah menghadapi para penumpang gelap yang belakangan mulai brrani membajak nama Sunni dan mencatut atribut Salafi, yang sebenarnya secara temurun telah menjadi atribut tetap Kaum Sunni Syafii, yang suka memuji Nabi, tidak mengingkari nasab keturunan Nabi, bertawassul, bertabarruk, berziarah ke makam para wali, dan tidak membid’ahkan semua tradisi baik para ulama Ahlussunnah dan para Habab terkemuka.

Pengalaman-pengalaman banyak HRS bergaul dan berinteraksi dengan para ulama Syiahdan tokoh-tokohnya di Indonesia cukup menjadi bukti dan alasan bagi HRS untuk menyimpulkan tidak adanya upaya mensyiahkan beliau. Orang-orang Syiah sadar bahwa tindakan itu sama dengan tidak menghormati pilihan keyakinan beliau yang luas ilmu dan hikmahnya.

Orang-orang Syiah yakin bahwa opini syiahiasasi sejumlah tokoh terkemuka di Indonesia adalah upaya pembunuhan karakter sebagai cara culas melucuti popularitas dan posisi pentingnya di tengah umat. Bagi orang-orang Syiah, tokoh Sunni toleran dan adil dalam sikap lebih diharapkan daripada tokoh yang dikenal Syiah, apalagi setelah kampanye intensif pensesatan dan pengkafiran Syiah di seluruh penjuru Tanah Air.

Menggunakan kata “obsesi mensyiahkan HRS” bisa dianggap sama dengan menganggap HRS sebagai umpan dan sasaran yang begitu mudah dibentuk keyakinannya. Kadang pemilihan kata yang tidak cermat malah mengungkap tendensi yang disembunyikan oleh pemilih kata. Dari pilihan kata itu, tercium gelagat skenario “Good Cop, Bad Cop” untuk mencitrakan bahhwa HRS adalah salah satu dari kelompok intoleran radikalis. Terduga ada semacam pembagian tugas. Salah satu gerombolan menyerang beliau dengan mencapnya sebagai Syiah yang bertaqiyah atau Syiah. Gerombolan lain membersihkan HRS dari tuduhan itu. Dengan skenario kampungan ini, mereka berfantasi dengan menafikan kecerdasan dan kompetensi beliau, HRS menganulir sikap toleran dan pernyataan tegasnya tentang kemusliman Syiah yang bukan ghulat.

Mereka nampaknya kurang puas dengan klasifikasi yang disampaikan HRS tentang Syiah Rofidhoh, Ghulat dan Mu’tadilah. Karena itu, segala upaya dilakukan demi memasukkan FPI dan HRS dalam kelompoknya yang sebenarnya lebih kecil dari FPI. Karena sadar bahwa eksistensinya lebih bersifat virtual dengan modal beberapa situs penganjur kebencian, mereka ingin mengaktualkan eksistensi dengan membonceng ormas besar FPI.

Tapi, alhamdulillah kerendahan hati dan ketinggian nalar HRS menggagalkan operasi adu domba ini.

Semoga FPI semakin matang sebagai organisasi Sunni Asyari Syafii yang menganjurkan kebaikan dan ukhuwah. Srmoga HRS makin tabah dan makin kuat menghadapi segala skenario pelemahan umat Islam yang terus disibukkan dengan provokasi dan propaganda adu domba dan kebencian.

Kepada Yth HRS
Anda tak perlu mengambil hati dan barter sikap soal Syiah dengan orang-orang yang mengalami kebangkrutan nalar. Percayalah bahwa masa depan akan dimenangkan oleh Islam bernalar, yang santun, bukan Islam yang dihadirkan dengan wajah beringas, ucapan kasar, teriakan lantang, dan hiruk pikuk intimidasi.

Anda sudah cukup berhasil membuktikan bahwa ketegasan Islam tidak hanya diwakili oleh Wahabisme. Anda sudah memberikan bukti nyata bahwa menjadi Muslim yang tegas berbeda dengan menjadi ekstremis dan radaklis yang intoleran. Anda punya bamyak alasan untuk dihormati dan dijadikan sebagai contoh pembanding yang berbasis dari mazhab Sunni Asy’ari Syafii.

Anda saat ini sedang mengalami ujian berat. Banggalah dengan kesunnian orisinil anda, dengan keasy’ariyahan keyakanan anda, dengan kesyafiian fikih anda dan dengan kealawiyahan tasawuf anda. Orang-orang yang mungkin menjadi alasan pertimbangan oerubahan sikap anda adalah jenis Sunni yang tidak berteologi Asyari, berfikih Syafii dan pasti tidak mengerti tentang tariqah alawiyah. Mereka adalah penganut teologi yang dibangun diatas reruntuhan puing Daulah Al-Asyraf di Hijaz dan diatas mayat2 yang dibantai oleh klan Saud yamg datang dari gurun Nejed lalu menjadikan tanah persrembahan Ibrahim AS itu srbagai properti satu keluarga.

Akhirnya, bagi Syiah, siapapun Anda, penganut mazhab apapun, Sunni Asyari maupun Salafi, selama mengucapkan dan mengimani dua syahadat, adalah Muslim. Sikap ini tidak ditujukan sebagai transaksi sikap dan permohonan dari Syiah agar tidak disesatkan atau dikafirkan. Dikafirkan atau dimuslimkan, Muslim adalah pengucap dan pengiman La ilaha illah dan Muhammad rasulullah… Bila menampar wajah kami, akan kami katakan itu “salah meletakkan tangan”.

[Yanda Sadra]

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Mahabbah Modal Awal Jalin Komunikasi kepada Pencipta

Satu Islam – Imam al-Ghazali mengatakan, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *