Home / Umum / Mengurai Hakikat di Balik Kebenaran lewat Filsafat Nietzsche

Mengurai Hakikat di Balik Kebenaran lewat Filsafat Nietzsche

Satu Islam – Setiap agama, ideologi, aturan, undang-undang, ilmu pengetahuan, atau segala pegangan hidup dianggap kebenaran. Bahkan, dalam masalah sepele seperti memilih sekolah, makanan, atau baju tertentu terselip kepercayaan sebagai dasar bahwa semua itu lebih bagus dari lainnya.

Maka, tidak heran ketika kepercayaan dijadikan pegangan menciptakan benturan dengan kebenaran-kebenaran yang dipercaya orang lain. Teokrasi bentrok dengan demokrasi. Paradigama khilafah berbenturan dengan Pancasila, liberalisme dengan konservatisme, serta antara kepercayaan satu agama dengan agama lain juga mengalami serupa.

Sulit memercayai semua sebagai kebenaran dengan asumsi perbedaan sudut pandang lantaran untuk sampai pada tingkat kepercayaan demikian memerlukan wawasan luas serta keyakinana mantap terhadap kebenaran yang dipegang.

Namun, bagi Nietzsche, orang yang hanya memercayai dan menerima kebenaran lalu menegasikan yang dianggap batil adalah orang lemah. Dia tidak kuasa beradaptasi dengan realitas kehidupan (hlm 238). Bagi filsuf Jerman ini, hidup mengandung kebenaran dan kebatilan sekaligus.

Menerima kebenaran saja berarti menolak sisi hidup lain yang hakikatnya elemen penyempurna kehidupan itu sendiri. Setiap kebenaran tidak memiliki kepastian benar dalam diri sendiri. Kepastian semata dibuat orang yang memercayai. Ini berlaku untuk semua persoalan. Tidak penting apakah yang dipercaya itu benar atau salah. Sebab manusia hanya memerlukan kepercayan pada suatu hal sebagai penyokong hidup yang lemah. Karena tidak mungkin orang kuat memerlukan dukungan dari luar dirinya (hlm 122).

Misalnya, Tuhan dipercaya manusia ketika putus asa berhadapan dengan hal-hal yang di luar kemampuan. Dulu, kepercayaan pada gunung, binatang buas, bulan, dan yang luar biasa bisa menghindarkan dari musibah. Ini representasi pengakuan kelemahan manusia terhadap berbagai persoalan tersebut. Begitu kekuatan manusia meningkat, kepercayaan juga berubah.

Tidak heran, Feuerbach, pendahulu Nietzsche, berkata bahwa Tuhan merupakan bayangan manusia tentang kesempurnaan diri mereka secara konseptual yang sulit dirasakan dalam ranah riil. Menyembah Tuhan sebenarnya konsep kesempurnaan manusia yang naifnya dibuat manusia itu sendiri.

Seperti Feuerbach, Nitzsche juga atheis karena beranggapan, percaya kepada Tuhan adalah pengakuan kelemahan manusia. Apalagi percaya terhadap hal-hal selain Tuhan. Paradigma Nietzche ini jelas sulit diterima kaum beragama atau penganjur ideologi. Namun, perkataan Nietzsche sangat bermanfaat untuk melihat sisi terdalam kebenaran yang kerap diperjuangkan. Kadang memperjuangkan kebenaran tanpa disadari juga dimotivasi kebutuhan psikologi, ekonomi, politis, dan lainnya (hlm 219).

Dengan menggunakan pandangan Nietzsche, manusia bisa menelisik lebih jauh tentang anasir tersembunyi dari kebenaran yang selama ini dipegang sehingga bisa mendapat alasan mendasar dan autentik. Kita juga bisa terbuka dengan kebenaran orang lain sebagai cara menutupi sisi kelemahan hidup mereka.

Problem yang sering terjadi di Indonesia, banyak kelompok mengaku memperjuangkan kebenaran, namun tidak menyadari alasan mendasarnya sehingga proses perjuangannya menggunakan cara-cara tidak benar.

Diresensi Muhammad Aminulloh, lulusan STAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Judul : Gaya Filsafat Nietzsche

Penulis : A Setyo Wibowo

Penerbit : Kanisius

Cetakan : Pertama, 2017

Tebal : 440 halaman

ISBN : 978–979-21-5131-2

Sumber: Koran Jakarta

 

About Abu Nisrina

Check Also

Absennya NU dalam Hiruk Pikuk Isu PKI

Satu Islam, Jakarta – Dalam hiruk pikuk isu Partai Komunis Indonesia (PKI) belakangan ini, organisasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *