oleh

Ulama Syiah: Peringatan Asyura Harus Selaras dengan Budaya Setempat

Ayatollah Ali Taskhiri (kiri) dan KH Tolhah Hasan (kanan) – Foto: jakfari.wordpress.com

Satu Islam, Jakarta –  Dua orang Syiah Indonesia melakukan wawancara dengan ulama asal Iran, Ayatullah Syeikh Muhammad Ali Taskhiri seputar beberapa isu penting yang berkaitan dengan persatuan.

Salah satu isu krusial yang diontarkan dalam wawancara tersebut berkenaan dengan ritual peringatan Asyura. Sebab, ritual ini bagi muslim Indonesia yang mayoritas Sunni difahami sebagai ritual penyiksaan diri. Apalagi ritual ini kerap dijadikan amunisi kelompok takfiri untuk membubarkan peringatan Asyura, meski peringatan Asyura tidak harus diidentikkan dengan ritualnya Syiah.

Berikut penggalan wawancara tersebut yang dikutip dari majalah Syiar:

Syiar: Bagaimana dengan uapacara dan ritual yang dilakukam oleh orang Syiah di Iran dan di tempat lain, khususnya di hari-hari Asyura, yang kadangkala menyebabkan saudara-saudara kita dari Ahlussunnah merasa “risih” dan mengingkarinya sebagai sebuah praktik keagamaan, seperti memukul kepala dengan pedang dan pisau, memukul-mukul dada dengan rantai hingga berdarah-darah atau sejenisnya?

Syekh Taskhiri: Sebagian dari apa yang mereka lakukan, seperti menangis dan bersedih dengan apa yang menimpa Ahlul Bait adalah hal yang wajar dan banyak teks hadits yang menguatkannya, agar kita bersedih di saat Ahlul Bait sedih dan bergembira disaat mereka bergembira. Sebagian yang lain dari praktik-praktik itu adalah ekspresi spontan (floklori) yangmana setiap bangsa memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan kesedihannya, misalnya sebagian bangsa mengenakan baju hitam, sebagian yang lain menutup segala sesuatu dengan kain hitam, membuat makanan khusus dan membagi-bagikan nya kepada yang membutuhkan. Semua hal ini selama tidak mengandung unsur-unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak ada larangan.

Islam tidak pernah melarang adat istiadat dan budaya suatu bangsa yang tidak bertentangan dengan ajaran islam, seperti memberikan makanan pada fakir miskin, menampakkan kesedihan, tidak tertawa di hari-hari Asyura, bahkan sebagian tidak merayakan akad nikah karena menghormati Imam Husain. Semua masalah ini adalah wajar-wajar saja dan saya tidak mendapatkan adanya larangan. Satu hal lagi kita tidak boleh ekstrim/ kaku seperti sebagian salafiah yang mengatakan bahwa segala sesuatu harus ada contohnya di zaman Rasulullah.

Menurut kami tidak harus begitu, sebab banyak dari masalah yang masuk dalam area mubah. Sekalipun kita berilabel agamis. Seperti yang saya contohkan sebelumnya, misalnya tidak melakukan perayaan akad nikah di hari-hari Asyura atau Muharram demi penghormatan kepada Imam Husein. Adapun lebih dari itu dengan melakukan hal-hal yang membahayakan bagi diri sendiri atau melakukan upacara-upacara yang dinisbahkan kepada agama atau melakukan hal-hal aneh dan menakjubkan semua itu tidak pernah diajarkan oleh Islam dan saya meyakini hal itu sebagai bid’ah dan penyelewengan yang tidak pernah diturunkan di dalam wahyu dan tuntunan Allah SWT, seperti melukai diri, memukul kepala dengan pedang, berjalan di atas kobaran api dan sejenisnya yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam dan jika kita melihat juga ada ulama yang melakukannya, maka itu termasuk ujian yang dihadapinya dari penyakit awam. Sebenarnya hal itu tidak hanya terbatas pada apa yang dilakukan oleh umat Syiah saja, namun mencakup apa yang dilakukan oleh sebagian Ahlussunnah atau kaum Sufi juga.

Syiar: Apakah seharusnya kita memperingati hari-hari besar keagaamaan seperti Asyura atau lainnya dengan mencontoh apa yang dilakukan di suatu negara tertentu lalu kita terapkan di Indonesia secara seratus persen?

Syekh Taskhir: Seharusnya Anda memperhatikan kondisi umum masyarakat Indonesia dan penerimaan mereka. Dan yang penting adalah bagaimana kita menebarkan kesedihan pada masyarakat kita dimana kita tinggal di hari-hari sedih Ahlul Bait tidak lebih dari itu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed