oleh

Trump dan Keputusan Kebijakan Luar Negerinya yang Bodoh

Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk menarik pasukan AS dari Suriah setelah kekhalifahan ISIS telah terkalahkan. Penarikan ini bukan hanya menjadi pukulan keras bagi Kurdi Suriah, yang telah memimpin perjuangan darat melawan ISIS sejak tahun 2014 di bawah naungan dukungan militer AS. Penarikan ini juga menjadi langkah yang memenuhi tujuan Turki di Suriah utara, terlepas dari tindakan pembangkangan Turki baru-baru ini terhadap aliansi NATO.

Keputusan Presiden Trump ini jelas akan mengikis kredibilitas AS di Timur Tengah dan akan menghantui kebijakan luar negeri Amerika di kawasan itu untuk tahun-tahun mendatang.

Tiba-tiba menjelaskan, melalui pernyataan pers Gedung Putih, bahwa Turki akan “segera bergerak maju dengan operasi yang telah direncanakan ke Suriah Utara,” dan memikul tanggung jawab atas semua militan ISIS yang ditangkap di daerah itu, adalah langkah serius yang harus dipahami dalam konteks proses pemakzulan Trump.

Ini bisa jadi merupakan suatu upaya oleh presiden untuk mengalihkan perhatian publik dari tuduhan terhadapnya. Namun, keputusan ini merumitkan kebijakan luar negeri AS di kawasan itu dan hubungan pemerintah AS dengan Turki.

Seperti yang telah diketahui, populasi Kurdi di Suriah utara telah menjadi sekutu AS yang jauh lebih setia dalam perang melawan ISIS daripada Turki sejak kebangkitan ISIS pada musim panas 2014. Turki telah meremehkan ISIS secara langsung pada tahun 2014, menyebut kelompok itu sebagai “sekelompok pria muda yang marah.”

Tetapi ketika pria-pria muda yang berbahaya itu mendatangkan malapetaka di Suriah, Kurdi adalah satu-satunya kelompok di wilayah tersebut yang bersedia dan mampu untuk melawan dan mengambil alih daerah-daerah—seperti Kobane—yang direbut oleh ISIS. Para pejuang Kurdi terbukti ulet dan loyal terhadap perang melawan kelompok teroris, terutama pada saat sel-sel ISIS ditemukan di kota-kota Turki seperti Adiyaman.

Baca juga: Bagaimana Pandangan Ahli Tentang Kebijakan Luar Negeri Trump?

Dengan latar belakang ini, Amerika Serikat telah memutuskan untuk lebih lanjut mendukung Kurdi secara militer dengan mengorbankan sekutu NATO-nya. AS bertekad untuk mengalahkan ISIS, dan suku Kurdi memenuhi kualifikasi untuk tugas itu tanpa harus mengerahkan pasukan AS di lapangan.

Dengan pengumuman Trump pada Minggu (6/10) malam, suku Kurdi Suriah dibiarkan tanpa perlindungan, sedangkan operasi militer Turki di Suriah utara untuk melawan Kurdi secara militer telah direncanakan sejak lama.

Memang, Angkatan Bersenjata Turki telah terlibat dalam operasi militer sedikit demi sedikit di Suriah untuk mencegah pembentukan wilayah Kurdi yang berdekatan di sepanjang perbatasan selatannya.

Penarikan AS—yang dimulai pada Senin (7/10) dini hari—membersihkan medan tersebut, baik secara militer maupun politik, agar Turki dapat melakukan intervensi dengan kekuatan penuh. Membiarkan Turki masuk ke Suriah bukanlah cara terbaik bagi AS untuk berterima kasih kepada Kurdi Suriah.

Meminta Turki untuk berurusan dengan militan ISIS yang saat ini ditahan di penjara-penjara yang dijaga oleh Kurdi Suriah, juga berpotensi merusak tujuan kebijakan luar negeri AS di kawasan itu, yaitu, pemberantasan terorisme ekstremis agama. Beberapa kota Turki seperti Adiyaman dan lainnya di perbatasan Turki-Suriah telah terkenal menjadi pusat ISIS.

Pada 2015—selama puncak perang melawan ISIS—sebuah laporan oleh harian Turki Cumhuriyet mengungkapkan bahwa Turki telah mentransfer senjata ke ISIS dalam upaya untuk melemahkan rezim Assad dan melawan Kurdi Suriah. Kemudian tahun ini, Amerika Serikat menyerahkan militan ISIS ke Turki begitu saja.

Apa yang bisa menghentikan Turki agar tidak menutup mata terhadap kemungkinan militan yang melarikan diri, atau lebih buruk lagi, bekerja sama dengan militan untuk bertarung atas namanya? Para militan mengetahui medan, dan mereka tentu memiliki kemauan untuk melawan orang Kurdi. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan memiliki setiap alasan untuk meminimalkan jumlah pasukan; dia memiliki posisi genting di dalam negeri seiring ekonomi menyusut.

Keputusan untuk mundur adalah posisi yang membingungkan bagi Amerika Serikat karena alasan lain. Tampaknya Trump baru saja menahan diri dari menghukum Erdogan terkait dengan pembelian sistem pertahanan rudal udara Rusia, yang berarti secara terbuka menentang Amerika Serikat dan mitra-mitra NATO-nya.

Pembelian kontroversial ini secara alami memicu gelombang perdebatan di antara para pembuat kebijakan AS tentang apa tanggapan yang tepat untuk Turki, mulai dari menunda penjualan F-35 hingga sanksi ekonomi.

Trump mengetwit pada Senin (7/10) bahwa ia akan ‘melenyapkan’ perekonomian Turki jika negara itu melakukan “apa pun” yang menurutnya “terlarang.” Tetapi kredibilitas apa yang didapat AS mengingat keputusannya di Timur Tengah justru memenuhi ambisi Turki? Tidak ada.

Keputusan Trump pasti datang pada saat yang kritis baginya. Dia telah menunjukkan kepada kita berkali-kali bahwa dia tidak takut mengambil keputusan kebijakan luar negeri yang bodoh, terutama saat dia ingin mengalihkan perhatian di dalam negeri. Hasilnya adalah memenuhi tuntutan Turki tanpa alasan yang jelas, dan tanpa imbalan apa pun yang diterima Amerika Serikat.

Tujuan kebijakan luar negeri AS yang lebih luas di Timur Tengah tidak akan terpenuhi selama perilaku tidak konsisten AS berlanjut. Keputusan penarikan pasukan AS adalah kemenangan besar bagi Erdogan, tetapi telah melemahkan kredibilitas AS di wilayah tersebut.

Sibel Oktay adalah Asisten Profesor Ilmu Politik di University of Illinois dan anggota Public Voices 2019-2020.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata Mata Politik. [MMP/The Hill]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed