oleh

TRANSENDENTALISME, PENALARAN LOGIS DAN SAINS

Oleh : Biiznillah

Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam memahami bagaimana sebuah pengetahuan apapun itu, dapat terbentuk. Yakni konsep tentang transendentalisme dan Penalaran Logis. Sains adalah satu diantara banyak aspek dari pengetahuan manusia yang tidak bisa lebas dari setidaknya salah satu dari dua konsep di atas.

Transendentalisme adalah pandangan yang meyakini bahwa keberadaan alam semesta ini sesungguhnya ditopang oleh sesuatu yang melampaui kategori-kategori yang difahami manusia secara nalar. Apapun bukti yang diajukan oleh para filosof mengenai hal ini, bisa saja dipercaya bisa juga diragukan. Tapi kita akan mulai setidaknya dari satu aspek yang paling berpeluang untuk diterima oleh semua cabang ilmu yakni penalaran logis. Dari isi ilmu pengetahuan modern kita mengenal adanya kaidah yang mengatakan bahwa setiap ilmuan harus menerapkan penalaran logis dalam menafsirkan hasil dari proses eksperimentasinya.

Penalaran logis adalah berbicara mengenai “kategori-kategori”. Sumber dari kategori-kategori ini sendiri dapat diekspresikan secara material misalnya dalam contoh penjumlahan benda-benda material. Namun “kategori” dari sisi subtansinya sendiri bukanlah bersifat material, melainkan bersifat abstrak. Contohnya, realitas dari kategori “kualitas” tidak kita temui dialam material, begitu juga “kuantitas” (alias tidak ada materinya) namun keduanya adalah sebuah “kenyataan mental”. Kedua hal ini bukan hanya kata, tapi sebuah kenyataan “Universal” yang nalar dalam logika harus tunduk pada kategori-kategori ini. Pertanyaanya, jika kaum materialis hanya meyakini bahwa kenyataan yang ada dialam semesta hanya yang bersifat material, maka darimanakah mereka bisa mendapatkan “kategori-kategori” ini?, para saintis akan menjawab, mereka melakukan proses abstraksi dari kenyataan material. Tepat!. Sekalipun para materialis ini hanya meyakini bahwa yang eksis hanya materi, mereka tidak dapat menolak kenyataan bahwa ketika yang bersifat materi ini mau “di abadikan”, maka dia harus di abstraksi.

Hukum-hukum fisis seperti fisika, kimia dan biologi pada realitasnya terjadi secara reduksionis, namun konsep tentang hukum tersebut seperti misalnya postulat-postulat saintifik tidak dapat bersifat reduksionis. Postulat-postulat ini harus di asumsikan bersifat “universal” agar dapat diterapkan ulang. Tingkat universalitasnya pun bergantung pada seberapa kuat asumsi pada fenomena kejadian fisik tersebut berlaku pada kenyataan kongkrit.

Dengan kata lain, dapat difahami bahwa proses observasi dan eksperiment adalah upaya yang dilakukan para saintis secara induksi untuk menemukan watak umum dari kejadian fisis agar dapat di simpulkan secar universal. Inilah cara saintis dalam mengabadikan sebuah kejadian fisis yang partikular untuk dijadikan hukum-hukum fisis seperti misalnya hukum gravitasi, coloumb, mekanikan dan quantum. Dari sini dapat difahami, bahwa walaupun para materialis dan mungkin saja para saintis tidak meyakini adanya kenyataan yang bukan bersifat material, tapi secara tidak langsung mereka tidak dapat lepas dari kebergantungan terhadap konsep-konsep abstrak ini.

Dalam diskursus transendentalisme dikatakan bahwa, ketika manusia melakukan proses abstraksi, sebenarnya dirinya sedang melakukan proses “melampaui” dirinya. Yakni melucuti sifat-sifat kematerialnya. Ketika dia berfikir, sebenarnya dia sedang masuk ke-alam “konsep” yang bukan material. Masalahnya, kemampuan manusia untuk berfikir dan memunculkan “konsep mental” dalam dirinya tidak serta merta muncul begitu saja. Sebelum berfikir, manusia haruslah terlebih dahulu memilki “modal” untuk berfikir. Modal ini adalah “kesadaran” itu sendiri. kesadaran” tidak bisa dikonseptualisasikan, justru “konsep-konsep” sangat bergantung pada eksistensi kesadaran. Bukti bahwa “kesadaran” tidak bisa di konseptualisasikan adalah dirinya tidak bisa didefinisikan karena tidak dapat ditemukan Genus dan Diferentianya pada struktur konsep tentang entitas atau Naw’. Kesadaran hanya dapat dirasakan secara intuitif atau dideskripsikan secara terbatas. Karena kesadaran tidak terkomposisi, maka kesadaran tidak mungkin dapat dicapai dengan pembentukan konsep dalam fikiran.

By the why, gagasan-gagasan ini bersumber dari teori-teori filsafat mengenai bagaimana sebuah pengetahuan dapat dicapai. Apapun itu, setiap isu mengenai ilmu pengetahuan, layak untuk diletakkan dalam suasana diskursif. Inilah watak ilmu. Expandable.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed