oleh

Tradisi Toleransi Desa Muslim di Bali

121217_NIKOMANG1_ID_SERANGAN_VG-310_207
Seorang warga etnis Bugis di Serangan, Bali melantunkan lagu keagamaan. Tetangga Muslim dan Hindu telah hidup dan beribadah berdampingan dengan damai di pulau kecil itu selama berabad-abad, dan menghormati hari-hari suci satu sama lain dengan memberi kado dan makanan. [Ni Komang Erviani/Khabar].

Satu Islam, Denpasar – Pada suatu sore yang cerah, panggilan adzan bersuara dari sebuah masjid tua di pulau kecil Serangan di Bali, memanggil penduduk Kampung Bugis untuk melaksanakan salah satu dari lima sholat harian mereka. Tetangga mereka yang beragama Hindu tidak mengeluhkan suara keras tersebut.

Kampung Bugis merupakan salah satu desa Muslim yang terletak di Pulau Bali yang mayoritas Hindu. Kampung ini terletak di pulau kecil Serangan, tepat di sebelah selatan ibukota Bali, Denpasar.

Di Serangan juga terdapat salah satu dari kuil Hindu paling keramat di Bali, Pura Sakenan. Ribuan umat Hindu burkumpul di sana untuk beribadah setiap tahunnya di hari peringatan kuil tersebut. Hanya beberapa blok dari tempat itu terdapat Masjid Assyuhada, yang sudah berdiri di lokasi itu sejak abad ke-17.

Umat Muslim dan Hindu hidup berdampingan di Kampung Bugis dan meneruskan tradisi ngejot – saling memberi bingkisan makanan dan kue pada hari besar agama seperti Galungan atau Idul Fitri.

“Kami sudah tinggal di sini selama lebih dari tiga abad dengan harmonis bersama tetangga Hindu kami di Bali. Kami hidup dengan membangun dasar saling pengertian, daripada membanding-bandingkan agama kami yang berbeda,” kata Muhammad Mansyur, seorang pemimpin di Kampung Bugis, kepada Khabar Southeast Asia.

Permulaan penuh keberanian

Masyarakat setempat percaya bahwa Masjid Assyuhada dibangun oleh Haji Mukmin, seorang bangsawan dari kelompok etnis Bugis dari Sulawesi Selatan yang tidak ingin tunduk kepada penjajah Belanda di kampung halamannya dan melarikan diri menggunakan kapal.

Mukmin beserta 40 orang awaknya akhirnya menetap di Serangan, setelah raja dari yang sekarang merupakan kabupaten Badung di Bali, yang juga mencakup Denpasar, memberi 2,5 hektar lahan untuk kelompok tersebut. Sebagai gantinya, Mukmin mendukung raja dalam perjuangannya melawan kerajaan Bali lainnya.

“Masjid Assyuhada dibangun dengan dukungan penuh raja Badung,” kata Muhammad.

Aslinya terbuat dari kayu, masjid tersebut kini merupakan bangunan yang lebih permanen dan tempat peristirahatan Mukmin, yang disebut makam Puak Gede, merupakan obyek wisata populer bagi pengunjung dan tempat suci bagi umat Muslim di Bali.

Pembauran etnis baru

Pada saat ini, sekitar 90 keluarga bertempat tinggal di Kampung Bugis, namun demikian hanya tiga keluarga merupakan etnis Bugis. Sisanya datang dari Jawa, Madura, Lombok, dan tempat lain di Indonesia. Desa Muslim tersebut sekarang dihuni oleh berbagai kelompok etnis.

“Banyak keluarga Bugis yang lambat laun pindah ke pusat kota Denpasar karena perekonomiannya telah menjadi lebih baik. Mereka digantikan oleh imigran dari Jawa,” kata Muhammad.

“Kami senang bahwa hal itu tidak mengubah apa-apa. Sikap toleran masih dipertahankan. Sampai saat ini, kami tetap melestarikan tradisi lama,” tegasnya.

Kampung Bugis juga memiliki tradisi unik. Setiap tahun pada hari kesembilan dari bulan pertama (Muharram) kalender Islam, umat Muslim mengadakan perarakan dan mengelilingi Kampung tersebut dengan membawa Al-Qur’an dan menyanyikan doa. Perarakan ini berhenti di empat sudut desa untuk melakukan panggilan untuk doa.

Menurut ahli antropologi IBG Pujaastawa, kawasan ini memiliki sejarah toleransi dan saling menerima di antara kelompok yang berbeda.

“Toleransi tersebut tidak hanya terjadi antara umat Hindu dengan Muslim saja, tetapi juga antara orang Bali dengan Kristen, dan Bali dengan Cina. Berbagai tradisi menunjukkan akulturasi sempurna di antara berbagai kelompok etnis,” jelas Pujaastawa, sekretaris Pusat Penelitian Pariwisata dan Kebudayaan di Universitas Udayana di Bali.

“Sebagai contoh, ada banyak desa Muslim di seluruh pulau di mana umat Muslim hidup berdampingan dengan damai dengan tetangga mereka yang beragama Hindu dan Kristen,” tambahnya.

Akan tetapi ia mengatakan bahwa ada potensi untuk terjadinya konflik di masa depan, jika keharmonisan tersebut tidak dijaga dengan ketat.

“Sumber konflik yang paling berpotensial adalah ekonomi – kesenjangan antara kaya dan miskin atau antara penduduk lokal dan pendatang, juga populasi yang tumbuh dengan pesat. Meningkatnya jumlah penduduk, yang kebanyakan dipicu datangnya imigran, menyebabkan masalah perekonomian dan lingkungan. Kita harus mengantisipasi masalah sosial yang mungkin terjadi,” ia memperingatkan. (Khabar Asia Tenggara)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed