oleh

Tradisi Buka dan Sahur Mancanegara

510

Satu Islam, Jakarta – Sahur merupakan ritual yang dilakukan untuk melengkapi kesempurnaan Ramadan. Dan, bagaimana tradisi sahur di mancanegara?

Momen yang datangnya setahun sekali ini selalu ditunggu umat Islam di seluruh dunia. Daya tariknya bukan hanya dari sisi ibadah, tapi juga dari sisi tradisi yang begitu khas, dan mungkin hanya dapat Anda nikmati di saat Ramadan.

Berbicara tentang tradisi, tentu Indonesia jagonya. Berbagai macam cara dilakukan kaum muslim di negeri ini, mulai kebiasaan khas Ramadan, di antaranya mandi untuk menyucikan diri, ngabuburit (jalanjalan menjelang beduk berbuka), menziarahi makam leluhur serta kerabat, tradisi memukul beduk, sampai tradisi khas sahur.

Namun, di lain sisi, Indonesia bukan negara satu-satunya yang memiliki beragam tradisi khas saat Ramadan. Negara- negara di mancanegara pun memiliki tradisi unik, bahkan tergolong orisinil dan sangat khas. Berikut beberapa Negara diantaranya.

1. Hareera dan Shabakia, Maroko

Saat sahur, warga muslim Maroko memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan ringan, seperti oatmeal, yogurt, croissant, kurma, dan roti. Untuk minumannya mereka menghidangkan kopi, susu, dan teh mint. Cukup sederhana, tapi ketika waktu berbuka, umat muslim di Maroko cenderung menyajikan makanan lezat.

Kurma selalu muncul bersama beragam jus, susu, kopi dan teh. Selain itu, orang-orang di sana makan sup khas Maroko yang disebut Hareera, bersama kue pastry madu Maroko yang disebut Shabakia. Hareera adalah sup berbasis tomat, yang merupakan menu berbuka harian selama Ramadan.

2. Mousaheratis, Irak

Pada intinya, kegiatan sahur hampir menyerupai tradisi membangunkan sahur lainnya. Namun, tradisi ini sudah hampir punah di Irak. Hanya beberapa yang mencoba mempertahankan tradisi ini. Di masa lalu, masing-masing kampung memiliki mousaherati sendiri-sendiri. Biasanya anakanak menyebutnya dengan jeritan kebahagiaan, tapi sekarang malah sebaliknya, masyarakat seperti enggan melakukannya lagi karena ketidakamanan situasi.

3. Pukul Beduk, Turki

Di saat sahur Turki memiliki tradisi unik untuk membangunkan orang sahur, dengan cara menggelar tradisi pukul beduk di lingkup permukiman sampai jalan kota. Dengan adanya tradisi ini, warga Turki tak perlu khawatir tertinggal waktu sahur. Suara meriah dari tabuhan beduk yang dimainkan sekelompok pria ini memang terhitung bising, tapi bertujuan agar umat Islam bangun untuk sahur.

4. Bagarakan, Indonesia

Tradisi membangunkan sahur ini terdapat di Kalimantan Selatan (Kalsel). Bagarakan Sahur yang berarti membangunkan orang untuk bersahur merupakan aktivitas sekelompok pemuda Kalsel yang bangun di tengah malam selama bulan puasa dengan tujuan membangunkan kaum muslim untuk makan sahur. Pada era ‘60 hingga ‘70-an, Bagarakan Sahur menjadi hiburan rakyat yang populer setiap Ramadan. Saat itu, tak hanya besi tua yang menjadi alat yang dipukul, tetapi ditambah dengan suara seruling, gendang, dan gong.

5. Mengetuk Pintu, Arab Saudi

Tradisi yang populer sejak 1.400 tahun silam ini merupakan tradisi membangunkan orang untuk sahur. Tradisi ini ditandai dengan arak-arakan sejumlah pria menabuh gendang dan mengalunkan lagu-lagu klasik khas Arab sembari meneriakkan, “Ayo bangun sahur!” Sambil berkeliling kampung, pria-pria itu juga suka mengetuk pintu-pintu rumah di sekitar tempat tinggalnya hanya untuk membangunkan atau mengingatkan jika waktu sahur tiba.

6. Lodra, Albania

Setiap datang Ramadan, mereka menggelar kesenian yang dinamakan Lodra. Kesenian ini mirip dengan tradisi memukul beduk di Nusantara. Yang membedakan, kesenian beduk Lodra Albania ini menggunakan dua buah tabung yang masingmasing menggunakan kulit kambing dan domba. Alat pemukulnya menggunakan dua buah stik yang berbeda sehingga menghasilkan dua jenis suara yang berbeda pula. Biasanya Lodra beserta alat musik pelengkapnya ini kerap digunakan untuk mengiringi saat sahur (syfyr) atau berbuka puasa (iftar).

7. Medames dan Molokheya, Mesir

Ketika Ramadan, Kairo berubah menjadi kota sejuta lampu. Tradisi memasang lampu tradisional di semua rumah sudah dimulai sejak zaman Dinasti Fattimiyah. Lampu yang dipasang disebut dengan lampu Fanus. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menyambut kedatangan pasukan Raja Mesir yang akan berkunjung ke Kairo. Jadi jangan heran ya kalau sebelum bulan puasa, warga Kairo ramai-ramai berbelanja lampu.

Negara yang datarannya didominasi gurun ini memiliki menu khas berbuka puasa yaitu Medames dan Molokheya. Medames merupakan menu sederhana berbahan utama Broad Bean atau Fava Bean yang ditumbuk kemudian ditumis dengan minyak zaitun, cacahan parsley, bawang putih, bawang merah, dan sari jeruk lemon.

Sedangkan Molokheya sendiri tampilannya seperti sup bayam. Hanya saja, tidak menggunakan bayam melainkan daun Corchorus yang sering dijumpai pada sajian Timur Tengah atau Afrika . Rasanya sedikit pahit dan kuahnya terasa ‘tebal’ seperti kari. Biasanya sup ini ditambahkan dengan daging ayam, daging kambing, atau daging kelinci.

8. Feeding Fasting, Austria

Negara yang terletak di Eropa Tengah dan beribukota Vienna ini mempunyai tradisi unik selama Ramadan. Walaupun hanya 4 persen penduduknya yang beragama Islam, namun tradisi memberikan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina tetap terjaga.

Feeding Fasting Palestinians ini sukses membuat umat Islam di Austria berbondong-bondong memberikan sebagian hartanya untuk sesama umat Islam di Palestina yang disalurkan oleh lembaga-lembaga sosial di Palestina.

Hebatnya lagi, kerukunan beragama di Austria tetap terjaga. Terbukti dengan narapidana muslim di Austria mendapatkan makanan untuk sahur dan berbuka dengan menu daging yang halal. Mereka pun diizinkan menunaikan shalat tarawih.

9 Kladanj, Bosnia

Pada awal Ramadan, warga Bosnia memiliki ritual memanjatkan doa dan pembersihan diri dengan air di sebuah gua yang terletak di Kladanj. Sekitar 50 km dari Ibukota, Sarajevo. Tradisi ini dipercaya dapat memberikan kesuksesan, selain itu air dari gua juga dipercaya dapat memancarkan inner beauty. Selain di Albania, roti Pita menjadi andalan warga muslim Bosnia sebagai menu buka puasa. Adonan tipis ini berisi bayam, daging, kentang, atau keju. Selain itu, ada juga menu khas Topa.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.