Home / Tokoh / Zakarya Ar-Razi Ilmuwan Serbabisa

Zakarya Ar-Razi Ilmuwan Serbabisa

Persian_Scholar_pavilion_in_Viena_UN_(Rhazes1)
Patung Ilmuwan Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi – Foto: Wikipedia

Satu Islam, Teheran – Ar-Razi yang punya lengkap Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi adalah seorang pakar sains berkebangsaan Iran. Ar-Razi yang di dunia barat dikenal dengan nama Rhazes, diketahui sebagai ilmuwan yang serbabisa dan dianggap sebagai seorang ilmuwan terbesar dalam Islam. Ia lahir di Rayy, Teheran pada 251 H/865 M dan meninggal pada 313 H/925 M.

Nama Razi yang disandangnya berasal dari nama kota Rayy, tempat kelahirannya. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran dataran tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran. Di kota ini pula Ibnu Sina, seorang pakar kedokteran Islam paling terkenal, menyelesaikan hampir seluruh karyanya.

Saat masih kecil, Ar-Razi ingin menjadi penyanyi atau musisi, tapi kemudian ia lebih tertarik untuk mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesusastraan. Saat menginjak usianya ke-30, Ar-Razi terpaksa berhenti menekuni bidang Kimia dikarenakan berbagai eksperimen telah menyebabkan matanya menjadi cacat. Dia kemudian mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya dan dari sini pula ia tertarik untuk menekuni ilmu kedokteran.

Ar-Razi belajar ilmu kedokteran dari Ali Ibn Sahal at-Tabari, seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Ar-Razi kemudian dikenal sebagai dokter yang baik dan tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya. Ia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada masa kekuasaan Mansur Ibn Ishaq, penguasa Samania.

Kemudian, Ar-Razi pindah ke Baghdad pada masa kekuasaan Al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di sana. Namun, setelah Khalifah Al-Muktafi wafat pada 907 M, Ar-Razi kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia mengumpul dan mewariskan ilmu yang dimilikinya kepada para murid-muridnya. Dalam buku Ibnu Nadim yang berjudul Fihrist, Ar-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki banyak murid.

Penyakit cacar

Sebagai dokter, Ar-Razi tercatat merupakan orang pertama yang menjelaskan secara rinci seputar penyakit cacar. Penyakit ini, menurut Ar-Razi, terjadi ketika darah ‘mendidih’ dan terinfeksi hingga mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang.

Pada tahap tersebut, sebut Ar-Razi, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi.

Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: “Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut.”

Buku Ar-Razi, Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir Ar-Razi dalam buku ini.

“Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan,” tulis Ar-Razi dalam Al-Judari wal-Hasbah.

Ar-Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Dalam satu tulisannya, Ar-Razi menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Dia juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Dalam bidang farmasi, Ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ia juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri. Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengkritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan.

Tetap belajar

Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan kualitas seorang dokter, Ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan.

Ar-Razi menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, Ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.

Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Ini dibuktikannya dengan selalu bersikap baik kepada para pasiennya dan kerap memberikan pengobatan sepenuh hati tanpa meminta bayaran sepeser pun dari para pasiennya itu.

Jika tidak bersama murid dan pasiennya, Ar-Razi selalu menghabiskan waktunya untuk menulis, belajar, dan bereksperimen. Barangkali karena itulah yang menyebabkan penglihatan matanya berangsur-angsur melemah dan akhirnya ia menjadi buta. Ada yang mengatakan sebab kebutaanya karena banyak makan buncis (baqilah). Penyakitnya bermula dari rabun dan akhirnya menjadi buta sama sekali.

Ar-Razi, ilmuwan serbabisa yang terus dikenang itu menolak diobati oleh dokter lain yang bersimpati kepadanya. Dia mengatakan, pengobatan itu akan sia-sia belaka, karena sebentar lagi ia akan meninggal dunia. Beberapa hari kemudian, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya pada 5 Syakban 313 H bertepatan 27 Oktober 925 M.

About Abu Nisrina

Check Also

Apakah Ibnu Taimiyah Anti-Tasawuf?

Satu Islam – Kajian tentang keterkaitan Ibnu Taimiyah dengan Tasawuf memang menarik untuk dibahas.Tentu saja, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *