Home / Tokoh / Tjong A Fie, Si Pluralis dan Dermawan Pembangun Masjid di Medan

Tjong A Fie, Si Pluralis dan Dermawan Pembangun Masjid di Medan

Rumah Tjong A Fie di Jalan Ahmad Yani, Medan – Foto: detikcom

Satu Islam – Kedermawanan merupakan tindakan identifikasi akal atas keyakinan pada wujud trandendental yang bergabung dengan upaya melawan gravitasi atas kehendak batin yang lazimnya menolak mengeluarkan sesuatu yang dimiliki. Apalagi jika si subyeknya adalah seorang pengusaha.

Kedermawanan dan orientasi mengejar untung biasanya berbanding terbalik. Namun hal itu tidak berlaku bagi tokoh legendaris Medan, Sumatera Utara,  Tjong A Fie. Kedermawanannya seakan menjadi legenda dalam sebuah cerita epik dari mulut-ke mulut masyarakat Medan.

Tjong A Fie merupakan bankir yang kaya raya di masanya. Ia sangat dermawan dan memegang peranan besar dalam membentuk kota Medan. Ia menjaga harmonisasi hubungan kepada pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Deli dan masyarakat Medan hingga kekaisaran China.

Tjong A Fie dekat dengan golongan kaum terpandang di Medan, di antaranya Sultan Deli, Makmun Al Rasyid serta pejabat-pejabat kolonial Hindia Belanda.

Kepribadiannya yang unggul itulah membuat Tjong dijadikan pemimpin China pertama di Medan. Tak hanya kedermawanannya, keistimewaan Tjong A Fie yang lain adalah dia terkenal sebagai pribadi yang pluralis.

Tjong A Fie mewasiatkan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Ia menuliskan permintaanya agar yayasan tersebut memberikan bantuan keuangan kepada pemuda berbakat dan berkelakuan baik dan ingin menyelesaikan pendidikannya, tanpa membedakan kebangsaan.

Tjong A Fie juga berpesan agar yayasan membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat serta membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnis.

Tjong A Fie adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang lahir di Provinsi Guangdong (Kanton), Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera. Ia merantau dari China ke Medan pada 1877 di saat usianya baru 17 tahun. Tjong merupakan anak keempat dari 7 bersaudara. Tiba di Medan, Tjong bekerja di kebun tembakau.

Usahanya membuahkan hasil. Bisnisnya pun tumbuh besar. Tjong memiliki karyawan ribuan orang. Seiring waktu, Tjong A Fie menjadi pemimpin orang China di Medan pada 1890. Di masanya, berbagai pembangunan ditorehkan di Medan. Dari membangun masjid, gereja dan fasilitas umum. Oleh Belanda, Tjong A Fie diangkat sebagai penghubung antara Pemerintah Belanda dengan masyarakat China di Medan.

Foto: detikcom

Salah satu masjid peninggalan Tjong A Fie adalah Masjid Lama Gang Bengkok yang dibangun sejak 1890. Masjid itu terletak di Jalan Mesjid, Kelurahan Kesawan, Kota Medan. Pembangunan masjid ini pada tahun 1874 terhitung sudah 142 tahun masjid itu didirikan seluruh pembiayaannya dari Tjong A Fie. Ia sendiri sebenarnya penganut Budha.

Masjid Lama Gang Bengkok merupakan masjid tertua kedua dari tiga masjid di Medan setelah Masjid Al-Osmani (1854). Bahkan Masjid Lama Gang Bengkok sudah lebih dulu berdiri dari Masjid Raya Al-Mashun (1909).

Kediaman Rumah Tjong A Fie yang berada di Jalan Kesawan saat ini berganti nama menjadi Jalan Ahmad Yani Medan – Foto: Tribunnews.com

Peninggalan Tjong A Fie berupa rumah pribadi yang kini ramai dikunjungi tamu. Kediaman Tjong A Fie di Jalan Ahmad Yani, Medan menjadi satu tempat wisata sejarah yang mengundang penasaran bagi wisatawan.

Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto. Tjong A Fie merupakan tokoh yang rajin mendokumentasikan setiap kegiatan. Mulai dari moment berkumpul keluarga di moment ulang tahunnya hingga pernikahan dan pertemuan penting juga ia dokumentasikan.

Kepribadiannya yang istimewa itu tak ayal Pemerintah Kota (Pemkot) Medan akan memberikan penghargaan terhadap Tjong A Fie. Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution menyebut Tjong A Fie sebagai orang yang berjasa bagi Kota Medan.

Tjong A Fie akhirnya tutup usia pada 1921 di usia 61 tahun. Sebelum meninggal dunia, dia mengalami sakit. Kisah dan sosok kedermawanannya itu dapat diketahui di rumahnya yang berada di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, Kota Medan.

About Abu Nisrina

Check Also

Keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib RA

Satu Islam – Barangkali sebagian kaum Sunni menganggap lebih mengutamakan Imam Ali bin Abi Thalib …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *