Home / Tokoh / Rouhani Pada Suatu Malam

Rouhani Pada Suatu Malam

presiden-iran-hassan-rouhani-_150422154935-834
Presiden Iran Hassan Rouhani

Satu Islam, Jakarta – Hassan Fereydoon Rouhani. Usia 67 tahun. Dia Presiden Iran saat ini. Doktor ilmu hukum lulusan Glasgow. Caledonian University, dengan tesis “The Flexibility of Shariah with Reference to the Iranian Experience” ini juga seorang mullah kondang, pendukung Ayatollah Khomeini.

Pendidikan Barat-nya, barangkali yang membuat mantan perunding nuklir ini mempunyai pandangan sangat terbuka. Ia juga disebut politisi reformis, yang menyerukan moderasi, rasionalitas.

KAMIS lalu dalam pertemuan terbatas di Jakarta, sikapnya yang sangat moderat, terbuka dan bijaksana tertangkap jelas. Ia berbicara tentang agama serta bagaimana agama dan umat beragama berperilaku dan bertindak.

Rouhani mengatakan, Agama harus melindungi nyawa dan kehidupan manusia. Kehidupan seorang manusia adalah sesuatu yang sangat penting.

Bicaranya terukur, bernada indah dan tidak meledak-ledak. Ia mengatakan, membunuh seorang manusia tanpa alasan seperti membunuh semua manusia; membunuh manusia berarti membunuh kemanusiaan. Karena itu, membantu menyelamatkan kemanusiaan itu merupakan hal yang sangat penting, tanpa perlu mempertimbangkan siapa mereka; apa agama mereka.

“Itu misi terpenting dan tugas umat Islam melindungi nyawa dan kehidupan manusia. Karena itu, tidak seharusnya umat Islam membiarkan orang-orang tidak berdosa terbunuh,” kata Rouhani, sambil menambahkan, “Agama kita adalah agama kasih sayang. Kita hidup bersaudara. Menjaga keamanan, keselamatan manusia itu tanggung jawab kita semua, apa pun agama dan mazhabnya.”

Karena itu, Rouhani mengajak semua pihak melawan terorisme dan radikalisme yang kini berkembang.

Terorisme itu lahir, menurut Benediktus XVI, karena ada nihilisme dan fanatisme religius dan fundamentalisme agama. Nihilisme menyangkal kebenaran, sedangkan fundamentalisme memaksakan kebenaran tertentu. Tentu keduanya sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Itu tantangan di zaman kini.

Sejarah umat manusia, memang, selalu merupakan kisah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan; antara malaikat dan setan; antara manusia saleh dan manusia culas yang munafik. Anehnya, manusia culas yang munafik sering dimenangkan oleh setan yang piawai berlaku manis dan menyembunyikan maksud jahatnya; kadang atas nama Tuhan dan kadang atas nama kesalehan itu sendiri.

Dalam rumusan filsuf Yunani kuno, Parmenides dari Elia yang hidup pada akhir abad keenam hingga awal abad kelima sebelum Masehi, dinamika sejarah dan dunia dilukiskan sebagai perlawanan cinta dan benci. Cinta seperti apa yang harus diperjuangan manusia? Kahlil Gibran (1833-1931), penyair dari Lebanon, menjawab: cinta yang “membunuh ego diri”.

Lalu, Gibran pun bersyair, Sesudah jiwaku menasihatiku, aku sadar dosamu adalah dosaku, deritamu adalah deritaku, bahagiamu adalah bahagiaku.

Jauh sebelumnya Jalaluddin Rumi (1207-1273), penyair sufi kelahiran Balkh (sekarang masuk wilayah Afganistan), merumuskannya sebagai cinta yang bukan sekedar pesona permadani bumi. Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi dan Aku bukanglah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada “Suatu Ruang Murni” tanpa dibatasi prasangka atau pikiran yang gelisah. Begitu tulis Rumi.

Dalam bahasa seorang biarawan abad pertengahan, Richard dari Biara St.Victor, Paris, dirumuskan sebagai Ubi amor, ibi oculus, dimana ada cinta, di situ ada mata. Cinta menyajikan kebenaran yang paling benar. Namun, cinta seperti itulah yang kini nyaris hilang di banyak tempat di dunia ini. Lihatlah apa yang terjadi di Suriah, Irak, Yaman, Nigeria, Somalia dan banyak bagian dunia lain. Di sana nafsu angkara murka, kebencian antara manusia satu dan manusia lain yang lebih dominan. Orang dengan mudah menghilangkan kehidupan dari manusia lain. Cinta terhadap kemanusiaan sesama manusia telah kering, sekering padang pasir di musim kemarau.

Malam itu, Rouhani mengingatkan, “Tugas kita semua, para negarawan, ulama, politis, cendekiawan, dan ilmuwan, melindungi kehidupan”

Trias Kuncahyono, wartawan Kompas.

Kompas, 26 April 2015

About Abu Nisrina

Check Also

Apakah Ibnu Taimiyah Anti-Tasawuf?

Satu Islam – Kajian tentang keterkaitan Ibnu Taimiyah dengan Tasawuf memang menarik untuk dibahas.Tentu saja, …

2 comments

  1. rupanya situs pengikut syiah to. dasar tukang mut’ah dan pendusta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *