Home / Tokoh / Pendiri HMI Lafran Pane Dianugerahi Pahlawan Nasional

Pendiri HMI Lafran Pane Dianugerahi Pahlawan Nasional

LafranPane – Foto: Republika

Satu Islam, Jakarta – Peringatan Hari Pahlawan 2017 ditandai dengan penganugerahan gelar pahlawan nasional dan puncaknya adalah pelaksanaan ziarah makam pahlawan pada 10 November.

Tahun ini, empat tokoh mendapat penghargaan dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Salah satu yang dianugerahi gelar pahlawan nasional adalah Pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Prof Drs H Lafran Pane (tokoh dari Provinsi DI Yogyakarta). Penganugerahan dikukuhkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2017 ini dipimpin Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/10). Penganugerahan ini merupakan rangkaian acara memperingati Hari Pahlawan Tahun 2017 tanggal 10 November.

Selain Lafran, 3 tokoh lainnya yang memperoleh anugerah Gelar Pahlawan Nasional adalah Almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (tokoh dari Provinsi Nusa Tenggara Barat), Almarhumah Laksamana Malahayati (tokoh dari Provinsi DI Aceh), Almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah (tokoh dari Provinsi Kepualauan Riau).

Pemberian Gelar Pahlawan Nasional tersebut berdasarkan hasil sidang III Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan tanggal 19 Oktober 2017 sesuai usulan dari Kementerian Sosial.

Berdasarkan UU No 20 Tahun 2009 Pasal 26 tentang syarat khusus untuk gelar diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan semasa hidupnya, salah satunya adalah pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Saat upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini, Presiden Joko Widodo hadir didampingi oleh Wakil Presiden Jusuf kalla, Menko Polhukam Wiranto, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Agraria dan Tata Ruang/ BPN Sofyan Djalil, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Dilansir  dari Antara, Lafran Pane merupakan satu-satunya dari empat tokoh yang digelari pahlawan nasional yang berjuang di awal masa kemerdekaan. Ia menjadi salah satu tokoh utama yang menentang pergantian ideologi negara dari Pancasila menjadi komunisme.

Lafran Pane lahir di Sipirok, Sumatera Utara, 5 Februari 1922. Ia dikenal sebagai tokoh pergerakan pemuda dan memprakarsai pembentukan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.

Lafran adalah seorang mahasiswa tingkat I Fakultas Hukum Sekolah Tinggi Islam (STI) bersama 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam menggagas dibentuknya organisasi mahasiswa bernapaskan Islam.

Dalam perjalanannya, HMI secara konsisten menolak gagasan Negara Islam yang digagas oleh Maridjan Kartosoewiryo pendiri gerakan Darul Islam.

Lahir dari keluarga sastrawan dan seniman, Lafran Pane mendapatkan pendidikan agama dari bangku sekolah. Pemikirannya tentang Islam tidak lepas dari situasi kebangsaan saat itu yang mendorong lahirnya HMI.

Pemikirannya tentang pembaruan Islam di mana tugas umat Islam adalah mengajak umat manusia kepada kebaikan dan juga menciptakan masyarakat adil makmur baik secara material dan spiritual.

Islam dan Nasionalisme

Semasa di STI, Lafran Pane mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947.

HMI merupakan organisasi mahasiswa yang berlabelkan “Islam” pertama di Indonesia dengan dua tujuan dasar. Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.

Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Dua tujuan inilah yang kelak menjadi pondasi dasar gerakan HMI sebagai organisasi.

Lafran sangat terbuka terhadap beragam interpretasi terhadap Pancasila, termasuk pada Islam. Islam bertumpu pada ajarannya memiliki semangat dan wawasan modern, baik dalam politik, ekonomi, hukum, demokrasi, moral, etika, sosial maupun egalitarianisme.

Egalitarianisme ini adalah faktor yang paling fundamental dalam Islam, semua manusia sama tanpa membedakan warna kulit, ras, status sosial-ekonomi.

Lewat HMI, Islam mendapat peran yang lebih tinggi yakni bahwa Islam bukanlah sekumpulan kaum yang mempertahankan tradisi dan pengetahuan tradisional.

Selain itu, dengan adanya HMI ide persatuan umat Islam yang mengikis fanatisme kelompok semakin meningkat.

Karena gagasannya membentuk HMI, ia ditunjuk sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI namun ia mundur dari ketua Umum PB HMI pada 22 Agustus 1947 dan pindah menjadi Wakil Ketua Umum.

Lafran Pane membagikan ilmunya lewat mengajar dengan menjadi dosen Fakultas Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Yogyakarta, dosen Fakultas Sosial dan politik Universitas Gajah Mada (UGM), dosen Universitas Islam Indonesia (UII), dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia, sejak tanggal 1 Desember 1966, Lafran Pane diangkat menjadi guru besar (profesor) dalam mata kuliah Ilmu Tata Negara. Lafran Pane menghembuskan nafas terakhirnya pada 24 Januari 1991.

Usulan KAHMI

Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Mahfud MD mengatakan, pihaknya sudah sejak lama mengusulkan kepada Presiden atau tepatnya sejak dua tahun lalu agar pendiri HMI tersebut diangkat menjadi pahlawan nasional.

Ia mengatakan, jejak perjuangan Pane yang berperan aktif dalam HMI khususnya ketika Kongres XI HMI pada 1974 di Bogor itu telah teruji secara shahih.

“Berdasar jejak perjuangannya telah diuji keshahihannya di banyak perguruan tinggi,” katanya.

Pemberian gelar tersebut merupakan hal yang pantas diterima oleh Lafran Pane karena sesuai dengan kiprah dan perjuangannya selama ini. Mulai dari pergerakan pemuda pada zaman kemerdekaan hingga mendirikan organisasi ini.

Bahkan, saat masih menjadi pemuda, Lafran ikut terlibat dalam penculikan Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok bersama pemuda lainnya untuk mempersiapkan proklamasi.

Setelah itu saat ibukota negara pindah ke Yogyakarta, Lafran muda juga ikut pindah dan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Islam. Di perguruan itu dirinya ikut terlibat dalam organisasi mahasiswa Yogyakarta, namun karena orientasi organisasi itu belum memiliki fondasi Islam.

Dirinya keluar dan membentuk HMI dengan landasan yakni mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mengembangkan ajaran Islam.

Mensos Khofifah Indar Parawansa mengatakan, sebelumnya nama Lafran Pane telah dua kali diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Namun penganugerahan gelar tersebut diputuskan oleh presiden setelah permohonan diusulkan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Karena jasanya terhadap bangsa dan negara terutama mempertahankan kemerdekaan dan kebangsaan yang tidak lepas dari nilai keislaman melalui organisasi yang didirikannya sudah sewajarnya Lafran Pane diganjar dengan gelar kehormatan sebagai pahlawan nasional.

About Abu Nisrina

Check Also

Keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib RA

Satu Islam – Barangkali sebagian kaum Sunni menganggap lebih mengutamakan Imam Ali bin Abi Thalib …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *