Home / Tokoh / Oey Tjeng Hien, Sukarno, dan Muhammadiyah

Oey Tjeng Hien, Sukarno, dan Muhammadiyah

Oleh: Sunano*

Kampung cina di Batavia tahun 1910.- Foto: Gahetna.nl

Satu Islam – Orang mengenalnya Haji Karim Oey, tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Di PITI, Haji Karim Oey menjabat ketua umum selama 10 tahun dari 1963-1973, periode selanjutnya beliau menjabat sebagai Bendahara Umum PITI.

Lahir di Padang tahun 1905 dengan nama Oey Tjen Hien dari keluarga pengrajin emas. Pada usia 21 tahun merantau ke Bintuhan, Bengkulu untuk berdagang. Pada usia 25 tahun, Oey akhirnya memeluk Islam setelah mempelajari berbagai agama yang ada dengan melakukan studi perbandingan agama. Setelah masuk Islam, Oey ikut memprakarsai pendirian Cabang Muhammadiyah Bintuhan. Selama kepemimpinan Oey, Muhammadiyah Bintuhan mengalami kemajuan luar biasa, banyak ranting Muhammadiyah berdiri dan kegiatan sangat semarak.

Kesuksesan mempimpin Muhammadiyah Bintuhan membuat Oey diminta masuk pengurus Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Kepindahan pengasingan Soekarno dari Endeh ke Bengkulu disambut meriah oleh warga Muhammadiyah Bengkulu. Apresiasi Muhammadiyah yang sangat besar, membuat Soekarno tertarik bergabung Muhammadiyah. Dalam rapat pergantian ketua konsul yang sedang sakit, akhirnya terpilih Oey sebagai ketua Konsul Muhammadiyah dan Soekarno menjadi Ketua Majelis Pengajaran.

Pada tahun 1938 Bung Karno dipindahkan tempat pengasingannya dari Pulau Endeh ke Bengkulu. Muhammadiyah Bengkulu diinstruksikan oleh Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta untuk mengelu-elukan kedatangan Bung Karno itu di Tebah Penanjung batas Kepahyang, dengan Bengkulu.

Maka sejak dari Curup dan Kepahyang jama’ah Muhammadiyah telah menyambut Soekarno dengan baik. Dan tidak beberapa lama, Bung Karno menyatakan bergabung menjadi anggota Muhammadiyah, oleh PB Muhammadiyah Yogyakarta, penggabungan Bung Karno disiarkan ke seluruh Indonesia.

Saat Konperensi Muhammadiyah se-Sumatera di Bengkulu tahun 1941 yang di hadiri oleh Haji Mas Mansur sebagai ketua PB Muhammadiyah Yogyakarta, menunjuk kembali dengan suara bulat Majelis Konsul Muhammadiyah dipegang oleh Oey Tjeng Hien dan Ketua Majelis Pengajaran dipegang oleh Bung Karno.

Sejak itu, hubungan dekat antara Soekarno dan Karim Oey terus berlanjut sampai kemerdekaan Indonesia. Diskusi keagamaan dan nasionalisme kemerdekaan di Bengkulu mendorong Oey ikut terlibat langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tokoh Muhammadiyah Bengkulu mendapat wawasan kebangsaan yang diperjuangkan Soekarno, yang akhirnya menjadi nasionalis sejati yang memperjuangkan kemerdekaan dan modernisme Islam.

Sedangkan Bung Karno mendapat banyak ilmu agama dengan berdialog langsung dengan ulama-ulama Muhammadiyah di Bengkulu. Selama di Bengkulu, Bung Karno banyak menulis tentang keislaman yang dimuat pada majalah Panji Islam dan Pedoman Masyarakat di Medan.

Sejak menjabat Konsul Muhammadiyah Bengkulu, Oey banyak terlibat dalam kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah nasional. Berkawan baik dengan Hamka, K.H. Mas Mansur, dan jajaran pimpinan PB Muhammadiyah Yogyakarta. Hubungan dekat dengan pengurus teras Muhammadiyah mengatarkan Oey menjadi anggota Majelis Tanwir Muhammadiyah (1952–1973) dan ketua dewan ekonomi Muhammadiyah (1964–1973)

Nasionalis dan Penjara

Suasana sehari-hari di Masjid Lautze di Jakarta. Masjid ini didirikan oleh Karim Oeiy dan menjadi salahs atu pusat kegiatan yayasannya – Foto: Republika

Sejak menjabat kepala penasehat untuk wilayah Sumatera tahun 1948, J.J. Van De Velde sangat sibuk menyiapkan pembentukan beberapa Negara Federal di Sumatera. Setelah Negara Federal Bagian Sumatera Selatan dan Sumatera Timur terbentuk, mulai dipersiapkan pembentukan Negara Federal Bagian Bengkulu. Untuk itu, dikumpulkan semua pimpinan partai dan tokoh masyarakat, juga tokoh dari etnis Tionghoa dalam satu perundingan dengan pejabat Belanda. Tokoh penting Tionghoa Bengkulu yang memiliki pengaruh luas adalah Oey Tjeng Hien.

Suasana perundingan hampir semua sudah setuju membentuk Negara Federal, tinggal menunggu keputusan Oey Tjeng Hien, mengingat kondisi Indonesia dianggap sudah kalah ketika banyak pemimpin negara ditangkap dan dibuang ke Parapat. Suasana perundingan digambarkan Oey dalam buku “Haji Oey Tjeng Hien Mengabdi Agama dan Bangsa” hlm 113-114, sangat menarik.

Dalam suasana penuh tekanan, Oey maju ke depan dan bertanya pada peserta, “Apakah pemerintah kita masih ada atau tidak? Negara RI masih ada atau tidak. . .?”

“Masih ada. . .” jawab sebagian besar peserta dalam suasana riuh.

“Saudara-saudara bilang, pemerintah dan negara kita masih ada. Berarti Presiden, Wakil Presiden dan Menteri-Menteri kita masih ada. Meskipun mereka itu ditangkap dan dibuang di Parapat, tapi negara kita masih tetap utuh, dan Soekarno-Hatta masih tetap sebagai pemimpin negara Republik Indonesia. Bagaimana kita dapat bekerjasama dengan Belanda. Kita tidak bisa berbuat sendiri, harus menunggu keputusan dari pemerintah kita. Yang menyetujui, yang mendukung Negara Federal, itulah yang tidak lagi mengakui adanya pemerintahan dan negara RI, ini berarti penghianatan”.

Suasana menjadi kacau, dan pada akhir perundingan, Oey dianggap sebagai musuh Belanda. Jaminan keamanan yang awalnya dijanjikan oleh Kepala Polisi Van den Berg akhirnya diabaikan.

“Bagaimana keputusan ini, Tuan Oey Tjeng Hien”, Tanya Van den Berg.

“Kami tidak bersedia. Tuan lihat sendiri. Saya minta dipenuhi janji Tuan supaya kembalikan saya ke Muara Aman”, pinta Oey

“Tempat tuan di sana, di penjara”, jawab Van den Berg dengan kasar dan sinis.

“Terhadap diri saya, Tuan berlaku curang, apalagi kalau Negara Federal Bengkulu berdiri, kami semua rakyat Bengkulu akan Tuan khianati”

Akhirnya Oey dijebloskan ke penjara selama 8 bulan sampai menjelang pengakuan kedaulatan RI. Setelah bebas dari penjara, Oey hijrah ke Yogyakarta dan bergabung dengan Muhammadiyah.

Itulah catatan pengalaman perjuangan kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Muslim Tionghoa. Oey lebih kita kenal sebagai Haji Karim Oey, ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) pertama pada tahun 1961.

Bersama Hamka yang didapuk sebagai Bapak Muslim Tionghoa, Karim Oey berkeinginan menyelesaikan “problem Tionghoa” dan soal pembauran. Menurut Hamka, Islam-lah yang dapat memberikan jawaban paling tepat. Sebab, agama Islam memberikan jaminan bahwa seseorang akan mencintai tanah airnya, berdasarkan pedoman Muslim, yaitu hubul wathan minal iman (mencintai tanah air adalah bagian dari iman).

Karim Oey diakui banyak kalangan sangat peduli dengan solusi asimilasi tionghoa di Indonesia, khususnya Muslim Tionghoa. Beliau memiliki sikap yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan oleh etnis Tionghoa. Menurut Karim Oey, setelah etnis tionghoa menjadi WNI mereka harus keluar dari hidup mengelompok dalam etnisnya dan terjun di kalangan masyarakat dan ikut membantu menyelesaikan berbagai problem dan ikut membantu pembangunan bangsa.

Upaya yang terus dilakukan oleh Karim Oey menghilangkan stigma bahwa masuk Islam menurunkan derajat karena masuk menjadi kelas inlander. Secara sistemik, Belanda berhasil menanamkan stigma bahwa pribumi sebagai bangsa yang bodoh, terjajah, miskin dan terbelakang. Bagi Karim Oey, soal agama adalah soal kebenaran dan keyakinan, tidak ada kaitan dengan politik dan gensi.

Karena masyarakat Indonesia pada dasarnya hidup beragama, dan mayoritas mereka adalah pemeluk Islam, dengan sendirinya cara mereka bersikap terhadap tetangga atau saudaranya dan masyarakat Indonesia tidak lepas dari pandangan Islam. Ajaran Islam secara tegas menyatakan bahwa setiap kita wajib menghormati orang lain, apapun agama, atau kebangsaan dan sukunya. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, Islam mengajarkan bahwa berbagai bahasa dan kebudayaan bukanlah lambang perpisahan. Maka, seseorang yang menjadi Muslim, dirinya harus bebas dari kungkungan ras-diskriminatif.

Cita-cita Karim Oey adalah melakukan apa yang sudah dilakukan perantau Arab di Indonesia. Mereka melakukan pembauran lebih berhasil, dengan tiga cara : pertama, melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi; kedua, meninggalkan jubah, serban dan fanatisme tanah leluhurnya; ketiga, tidak mengangkut kekayaan yang dicari di Indonesia untuk dibawa pulang ke negara asal (Arab).

Cita-cita Karim Oey ini wajar, melihat beberapa konglomerat Tionghoa menyimpang hasil kekayaan tidak di Indonesia, melainkan banyak disimpan di Singapura dan dibawa pulang ke Tiongkok.

*Sunano, Penulis buku Muslim Tionghoa di Yogyakarta

Sumber: Republika

 

About Abu Nisrina

Check Also

Sang Penyebar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Kemerdekaan bangsa Indonesia baru saja diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *