Home / Tokoh / Lee Man Fong, Kanvas Indonesia dari Guangzhou

Lee Man Fong, Kanvas Indonesia dari Guangzhou

Satu Islam – Sang Maestro ini numpang lahir lahir di Guangzhou pada 1913. Saat bocah diangkut ayahnya untuk berniaga dan menetap di Sngapura pada 1930. Pindahlah ia, 33 tahun hidup di Indonesia, di sinilah lukisan menjadi nafas hidupnya.

Ini gambaran kelakuannya: Lee Man Fong mampu mencipta pusaran seni berkarakter Indonesia. Inilah yg membuat banyak orang memastikannya cinta nusantara. Pelukis otodidak ini sukses memamerkan Bali melalui kanvas-kanvas yg dipajangnya dalam pameran lukisan yang diadakan Asosiasi Hindia Belanda Timur. Tak pelak seniman kolonial Belanda marah, karena tak lazim seni Asia Tenggara khususnya nusantara dipamerkan di even iternasional semacam itu.

Jemari Lee Man Fong terus “bersuara”, pameran-pameran digelarnya terutama di Jakarta dan Bandung, justru pada era Belanda dan Jepang sedang kuat berebut kolonisasi di seantero Indonesia.

Lee Man Fong mendapat hadiah yang pasti dikenangnya seumur hidup: dipenjara oleh Jepang pada 1942, ini era sengit Perang Dunia II.

Masih kurang jelas? Setelah “wisuda” dari penjara Jepang, pada perjalanan dan propaganda Indonesia merdeka Lee Man Fong membuat Presiden Soekarno “jatuh hati”. Sapuan kuasnya tulus memotret Indonesia dari jendela budaya keseharian masyarakat Bali terutama di sudut tenun. Dia salah seorang pelukis Istana yang dijagokan.

Terbilang unik, karena Presiden Soekarno percaya dan menugaskannya menulis buku “Lukisan-Lukisan dan Patung dari Koleksi Presiden Soekarno dari Republik Indonesia”.

Lee Man Fong pelukis besar yang menjadi Pelopor lukisan Asia Tenggara. Andil Besarnya memperkenalkan keindahan Indonesia ke seluruh Dunia.

Meski ia WNI (Warga Negara Indonesia), juga semangat berkeseniannya lahir dari api revolusi, tapi era politik Soeharto tidak berpihak kepadanya, Lee Man Fong pergi ke Singapura pada 1970.

Negara cilik ini pun “ketiban emas” dan pelukis besar inipun diakuisisi. Tapi keputusan besar yang diambilnya menjawab siapa Lee Man Fong, saat tahun 1985 ia kembali ke Indonesia. Lalu pada 13 April 1988, ketika itu usia saya masih bocah, Lee Man Fong menghembus nafas terakhirnya di Puncak, Jawa Barat, ia menjumpa Tuhannya.

Ditulis oleh: Anwar Aris

About Abu Nisrina

Check Also

Oey Tjeng Hien, Sukarno, dan Muhammadiyah

Oleh: Sunano* Satu Islam – Orang mengenalnya Haji Karim Oey, tokoh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *