Home / Tokoh / Juni Kelabu, Bulan Bung Karno, Bulan Pria Pamungkas di Jagad Revolusi Indonesia

Juni Kelabu, Bulan Bung Karno, Bulan Pria Pamungkas di Jagad Revolusi Indonesia

Satu Islam – Karena baginya malawan penjajah dan kaki-tangannya tak pernah stop, karena itu Pria Sejati, Pria Revolusi harus selalu “dihidupkan” di degup jantung manusia Indonesia.

Setiap Juni di Indonesia sekarang permanen sebagai bulan miliknya. Sangat pantas karena sekurangnya memiliki 3 pondasi; 1. Pada 6 Juni 1901 Pria Revolusi itu lahir di Surabaya, 2. Pada 1 Juni Pria Revolusi itu memprsembahkan secara resmi ideologi Pancasila ke publik Dunia Internasional, 3. Pada 21 Juni Pria Sejati itu melepas nelangsa.

Sembilan kali menikah. Pria jenius tak pernah sembunyi-sembunyi, ia pamer seluruh romantisnya. Leluasa waras sebagai lanang, ksatria dan idola ideal.

Ksatria sejati selalu memanen hujatan dan fitnah sepanjang hidup bahkan setelah kematiannya, bukan sekedar karena kepiawaiannya mendebar mesra kaum hawa, tapi karena CIA serius membenci dan membunuh karakternya.

Lebih menakutkan dari itu, ia mampu memantik kesadaran bangsa-bangsa tertindas di seluruh dunia untuk merdeka, berdaulat, dan terus melawan.

Heroisme mantap menyuara diksi pilihannya yang selalu hidup dan menghidupkan setiap jengkal tanah Nusantara merdeka, setiap Alumni Konferensi Asia-Afrika yang menjadi duta separuh dunia yang pernah dicipta Tuhan ini, membuka mata masyarakat internasional setelah Games of the New Emerging Forces (GANEFO) memekakkan telinga kerumunan penguasa-penguasa angkuh. Dan gerahlah PBB.

Jalan Gatot Subroto Nomor 14 Jakarta, dahulu dinamainya Wisma Yaso sebelum Suharto menjadikannya Museum Satria Mandala pada 1972. Hingga sekarang bilangan super bersejarah itu cermin bangga Nusantara.

Wisma Yaso saksi bungkam pria yang dilucuti seluruh mimbarnya, seluruh kesaktiannya hilang di satu sudut yang kini berjuluk ruang Kepala Museum Satria Mandala, tempat dahulu ia mondar-mandir menanggung cekat-cekot di sekujur tubuh akibat gagal ginjal, tanpa kawan berbincang, tanpa buku, tv, koran dan radio kesukaannya, sebelum akhirnya terbaring tanpa daya.

Lalu 21 Juni 1970 Wisma Yaso pernah dirangsek masyarakat ibu kota yang sembab mata mereka dan kehilangan cinta.

Kepulangannya ke Hunian Ahadiah dipastikan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Dalam memoar Soeharto berkata, “Waktu saya mendengar beliau meninggal pada tanggal 21 Juni 1970, cepat saya menjenguknya di rumah sakit. Setelah itu barulah aku berpikir mengenai pemakamannya.” Sepertinya itu momentum terakhir Soeharto menemuinya, sejak Pria Revolusi itu dijatuhkannya pada 1967.

Kehidupannya bergelora sebagai dialektika panjang perlawanan kepada segala wujud penjajah; seluruh kemas revolusi Indonesia merangkum itu. Pada era penjajahan, Belanda harus mendekamkannya di banyak penjara dan lembah pengasingan, berharap ia ngenas lalu mati. Tapi ia terlalu perkasa untuk terbunuh kengerian-kengerian itu.

Anti perundingan dengan penjajah. Meski sejak mula Indonesia “me-republik”—ia sabar menyaksikan manuver politik rekanannya—tapi cukup lama ia terasa sebagai presiden seremonial saja, karena ia benar-benar berkuasa setelah membubarkan parlemen dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Siapa yang sanksi ketangguhannya memimpin revolusi Indonesia? Di kecamuk Perang Dunia II yang menarik-nariknya untuk terlibat, ia harus berpihak. Naas perang dingin yang dilecut para pemangku kepentingan Pasukan Sekutu, memastikannya memikul beban berat sebagai nakhoda bahtera Republik Indonesia yang disepelekan dan dianggap remeh-temeh oleh Belanda yang super cilik dan Negara-negara adi daya masa itu. Nyatalah kepiawaiannya mampu menyelamatkan bangsa yang hingga sekarang masih kuat dinaungi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebut lagi Wisma Yaso, tempat dimana ia tanpa indivasi hingga ajalnya. Dari sini, mendongaklah ke timur; Patung Pancoran kokoh menantang langit. Patung itu juga saksi pelengseran Sang Pria Revolusi pada 1967, pembangunannya mandeg akibat pembiayaannya dihentikan.

Meski terbaring lunglai di ranjang  rumah sakit. Mendengar pembangunan patung terhambat, ia memberi uang Rp 1,7 kepada Edhi Sunarso. Miris karena uang itu diperolehnya setelah menjual mobil kesayangannya.

Bila melihat Tugu Pancoran, ingatlah Bung Karno menjual mobilnya hingga patung itu megah berdiri

Ditulis oleh Anwar Aris

About Abu Nisrina

Check Also

Tanggal 13 Rajab, Lahirnya Sang Putra Ka’bah

Satu Islam – Dari literatur klasik Sunni dan Syiah menuliskan Amirul Mukminin Ali bin Abi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *