oleh

Titik-Temu Isa AS dan Muhammad SAW

Dok : asiasociety.org
Dok : asiasociety.org

Oleh : M. Subhi-Ibrahim*

Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku

pada hari kelahiranku,

hari wafatku,

dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali

Kutipan di atas adalah ucapan selamat natal dari dan untuk Isa AS yang diabadikan dalam QS. Maryam, ayat 33. Saya tidak akan membincang hukum halal dan haram pengucapan “selamat natal”, sebab baik yang menghalalkan atau mengharamkan memiliki dalil masing-masing. Biarlah hal tersebut menjadi pilihan personal tiap Muslim. Saya pikir juga, tidak produktif  bila dari tahun ke tahun kita mempersoalkan halal-haram “selamat natal”, dan saya menilainya sebagai “kebodohan yang dipelihara”, karena jawaban, argumennya pun persis sama, diulang-ulang.  Sebaik, kita beranjak, merenung, kepada sesuatu yang lebih dalam dan bermanfaat  dalam konteks ajaran Isa AS dan Islam.

Karena itu, saya mengajak pembaca  merenungkan: Apakah titik temu (kalimah al-sawa)  ajaran dan yang dicontohkan Isa AS dengan ajaran Islam dan yang diteladankan  Muhammad SAW. Titik temu ini menjadi mungkin karena Islam yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah kelanjutan dari agama-agama sebelumnya, termasuk Nasrani yang dibawa oleh Isa AS. Bahkan, menurut Ali Shariati, Islam merupakan sintesis dari Yahudi yang eksoterik, dengan Nasrani yang esoterik. Titik temu ajaran Isa AS dan Muhammad SAW antara lain: 

Pertama,  ajaran kasih dan moralitas. Tentang kasih sayang:  Isa AS datang membawa  kasih,  “Kasihilah  musuhmu, berbuat baiklah pada orang-orang yang membencimu, mintalah berkat bagi orang-orang yang mengutukmu, berdolah bagi orang-orang yang mencacimu” (Matius 6: 27-38).  Muhammad  SAW  pun datang membawa rahmat, “Kasihi yang di dunia, niscaya yang  di  langit  mengasihimu.”

Tentang moralitas: Diriwayatkan, suatu hari, Isa as. bersama-sama muridnya melewati bangkai seekor anjing. Murid-muridnya berkata,”busuk sekali bau bangkai ini.  Isa As. Berkata,”betapa putih giginya!”  pada riwayat yang lain, Isa AS berkata, ”janganlah seperti lalat yang hinggap di atas kotoran, di mana kamu hanya memerhatikan cacat atau kelemahannya orang.” Rasulullah bersabda,”beruntunglah orang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak memerhatikan aib orang lain.”

Kedua, pembebasan manusia.  Menurut Ali Shariati, semua agama dalam tradisi abrahamic religion adalah figur pembebas, termasuk Isa AS dan Muhammad SAW. Para utusan langit  ditunjuk Allah demi pembebasan  manusia dari  kemiskinan ruhani, kebodohan, belenggu penindasan,

Sebagai contoh terkait dengan pembebasan dari kemiskinan ruhani:  Isa AS datang di tengah masyarakat Yahudi yang sangat menekankan sisi formal agama. Semua hal dilihat dari sisi hukum formal, lupaakan  substansi ajarannya.  Isa AS mencoba menarik masyarakat  Yahudi saat itu untuk memerhatikan sisi substansi, spiritual  agama.  Dikisahkan, suatu ketika, kaum Yahudi hendak merajam seorang yang dituduh berzina. Isa AS tahu bahwa tuduhan itu tidak benar. Di hadapan kaum Yahudi Isa berkata, silakan kalian rajam orang ini, lempari batu dengan tangan “yang tak pernah melakukan dosa”. Kaum Yahudi terdiam.  Muhammad SAW pun  mengajarkan pada kita bahwa,”Allah tidak melihat bentuk lahiriah kalian, tetapi Allah melihat hati dan perbuatan kalian”.

Kasih, moralitas, dan pembebasan: demikian titik temu Isa AS dan Muhammad SAW. Saya yakin, bila pengikut Isa AS dan Muhammad SAW mampu memanifestasikan ajaran suci tersebut, dunia akan menjadi saksi bahwa: agama memang betul membawa kedamaian, pencerahan, dan pembebasan.

)* Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed