oleh

Tips Agar Tidak Menjadi Korban Persekusi di Medsos

lustrasi hacker/sosial media/Facebook – Foto: Reuters

Satu Islam, Jakarta – Beberapa waktu ini di media sosial telah banyak adanya ajakan tindakan persekusi. Adanya hal tersebut biasanya diserukan kepada sebuah postingan di media sosial yang telah dianggap menyinggung kelompok tertentu.

Dokter Fiera Lovita di Solok, Sumbar telah menjadi korban persekusi massa FPI yang tersinggung atas status ditulis sng dokter di Facebook. Ia telah didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI dan meminta dirinya mencabut status tersebut dan meminta maaf.

Walaupun sudah meminta maaf, Fiera mengaku tetap mendapat ancaman yang disampaikan secara langsung, melalui telepon dan media sosial.

“Saya enggak aman di sini (Kota Solok, Sumatra Barat), saya dianggap menista ulama,” kata Fiera Lovita, Sabtu 27 Mei 2017 siang ,sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia.

Direktur Eksekutif ICT Watch Donny B.U memberikan beberapa tips soal beretika dalam menggunakan media sosial secara umum. Tips ini bermanfaat supaya pengguna medsos tidak ikut melakukan persekusi, maupun menjadi korban seperti dua orang yang dituduh teroris di balik ledakan Kampung Melayu belakangan ini.

1. Bayangkan mengucapkannya langsung

Sebelum mengunggah suatu pernyataan, komentar, berita atau meme, bayangkan Anda menyodorkan semua itu langsung di hadapan orang yang dituju. Bayangkan apakah saat itu Anda benar-benar bisa menyampaikannya atau justru merasa ragu karena takut menyinggung perasaan.

Bila keraguan yang timbul, sudah tentu hal tersebut tidak perlu diunggah karena mungkin saja akan menyinggung orang tertentu.

“Yang harus selalu diingat adalah pesan yang akan disampaikan itu sama dengan komunikasi face to face dengan orang bersangkutan. Kalau face to face mau ngomong begitu tidak, kalau tidak ya jangan (diunggah ke media sosial),” ujarnya.

2. Pikirkan manfaatnya

Jika merasa bahwa pernyataan, komentar, berita atau meme yang akan diunggah itu tidak akan menyinggung orang lain, pikirkan dulu soal manfaatnya. Apakah hal yang ingin disebarkan itu bermanfaat untuk orang lain atau ternyata tidak ada gunanya.

“Kita kan bisa memikirkannya, mengolah informasi. Kalau memang informasi itu benar, lalu ditimbang apakah perlu atau tidak, apakah memiliki manfaat atau tidak,” ujar Donny.

3. Cek fakta, cari informasi bandingan

Hal yang lebih penting, sebelum bicara di media sosial, Anda harus lebih dulu memahami fakta dan mengolah informasi tersebut.

Ada banyak alat yang bisa dipakai untuk mencari tahu dan membandingkan informasi yang Anda miliki. Bisa saja menggunakan Google atau media lain. Namun intinya, pernyataan atau hal yang akan diunggah ke media sosial itu jangan sampai hanya merupakan kabar bohong (hoax).

“Ini soal literasi digital, yaitu kemampuan mengolah atau memanfaatkan informasi di media sosial, baik melalui Twitter atau lainnya. Seseorang mesti tahu cara membatasi konten yang diperlukan dan memilih informasi,” terang Donny.

“Cek dan ricek, klarifikasi dulu. Hal seperti ini mestinya otomatis dilakukan,” pungkas Donny.

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed