oleh

Tidak Hanya Menyasar Kampus, Siswa SD Juga Sudah Mulai Terpapar Radikalisme

Pada Juni 2018 Menteri Riset Tekonologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir tidak menutupi jika institusi pendidikan telah disusupi kelompok-kelompok radikal. Bukan hanya tingkat Perguruan Tinggi, melainkan hingga sekelas Sekolah Dasar (SD) juga terindikasi terpapar ideologi terlarang itu.

“Itu tidak hanya di Perguruan Tinggi, Di SMA, di SMP, SD juga terjadi hal yang sama. Gurunya terpapar mahasiswanya ikut terpapar, perguruan tinggi dosennya ikut terpapar.”

Guna mencegah institusi terus terpapar paham radikalisme, Nasir akan menekankan pendidikan bela negara dan kebangsaan terhadap para peserta didik. Upaya ini akan dilakukan secara berkala.

“Saya lakukan namanya bela negara dan wawasan kebangsaan. setelah keluarnya peraturan pelarangan terhadap HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) kami lakukan lebih giat lagi,” imbuhnya. Sementara itu untuk pengawasan Kemenristekdikti juga telah membangun kerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Langkah ini sebagai upaya kejadian di UNRI tidak terulang kembali.

“Sekarang saya berkolaborasi dengan BNPT supaya apa yang terjadi di Riau itu tidak (terulang lagi). Nanti itu (radikalisme bisa) muncul di mana-mana, mereka masuk kampus, mungkin di mana saja akan terjadi,” lanjut Nasir. Kemenristekdikti dan BNPT juga akan memonitoring terhadap gerak-gerik tenaga pengajar maupun peserta didiknya. “Kami dalam hal ini monitoring semua para dosen dan mahasiswa nanti pendataan ini kami lakukan,” pungkasnya.

Masuknya paham radikalisme di dunia pendidikan menjadi keprihatinan banyak pihak, karena dapat memunculkan tindakan intoleransi pada para pelajar. Direktur Peace Generation Irfan Amalee mengungkapkan indoktrinasi paham radikal itu dilakukan dalam berbagai cara. Maka dari itu, peningkatan pemahaman baik guru dan siswa akan bahaya radikalisme menjadi penting untuk menangkal perkembang-biakannya.

Menurut Irfan, ada beberapa narasi dalam perekrutan kelompok-kelompok radikal yang harus dipahami oleh guru dan siswa. Pertama, kelompok radikal biasanya menggunakan narasi politik. “Buat anak-anak yang galau itu mereka melihat ketidakadilan, itu mereka langsung terpanggil untuk jihad,”

Kedua, kelompok radikal juga menggunakan narasi historis. Menurut Irfan, ini juga perlu diperhatikan oleh para pendidik dalam pendidikan sejarah. “Karena pendidikan sejarah itu bisa saja bukan membangkitkan wisdom, tetapi justru membangkitkan dendam,” imbuh Irfan.

Ketiga, narasi psikologis, atau mengglorifikasi tokoh-tokoh kekerasan sebagai pahlawan. Keempat, instrumental naration atau menganggap kekerasan itu sebagai solusi memecahkan masalah. Terakhir adalah narasi keagamaan atau menggunakan ayat-ayat untuk merekrut anggota baru kelompok. “Mereka mencomot, ambil sana-sini sepenggal ayat, kalau anak-anak membaca itu, dan gurunya tidak paham, bisa kalah gurunya. Semakin ingin anak bergabung dengan kelompok radikal. Dan ini cara (perekrutan) yang paling efektif,” ucap Irfan.

olah data JPNN/Kompas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed