oleh

Terungkap, Bom Buatan AS Digunakan dalam Serangan Militer di Yaman

Bom buatan AS terungkap digunakan dalam serangan militer di Yaman. Persenjataan tersebut—yang dibuat oleh perusahaan AS Raytheon—menewaskan enam orang termasuk tiga anak-anak dalam serangan udara pada bulan Juni. Amnesty International mengatakan bahwa negara-negara pemasok senjata tidak dapat bersembunyi dan berpura-pura tidak tahu risiko yang terkait dengan transfer senjata kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini, yang secara sistematis telah melanggar hukum humaniter internasional.

Koalisi pimpinan Saudi di Yaman menggunakan amunisi berpandu presisi yang dibuat oleh Amerika Serikat (AS) dalam serangan udara bulan Juni, yang menewaskan enam orang termasuk anak-anak, sebuah laporan baru oleh Amnesty International mengatakan.

Kelompok hak asasi tersebut menganalisis foto-foto sisa-sisa serangan rudal, dan menyimpulkan bahwa amunisi yang menghantam sebuah bangunan perumahan adalah buatan AS seberat 500 pound (230kg) GBU-12 Paveway II.

Bom itu—yang dijatuhkan pada 28 Juni di provinsi Taiz—dibuat oleh perusahaan pertahanan yang berpusat di AS, Raytheon, menurut Amnesty.

“Sangat tak terduga dan tidak masuk akal bahwa AS terus menyuplai senjata yang mengalir ke konflik Yaman yang menghancurkan,” kata Rasha Mohamed, peneliti Amnesty di Yaman.

“Terlepas dari banyak bukti bahwa koalisi yang dipimpin Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) telah berkali-kali melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional—termasuk kemungkinan kejahatan perang—AS dan negara-negara pemasok senjata seperti Inggris dan Prancis tetap tidak tergerak oleh rasa sakit dan kekacauan yang diakibatkan oleh senjata mereka terhadap penduduk sipil.”

Di antara enam warga sipil yang tewas dalam serangan itu—yang terjadi di desa Warzan di direktorat Khadir—terdapat seorang wanita berusia 52 tahun dan tiga anak-anak, berusia 12, sembilan, dan enam tahun.

Organisasi hak asasi manusia tersebut mengatakan dalam laporan itu, bahwa target militer terdekat yang mungkin pada saat serangan itu adalah ruang operasi pemberontak Houthi sekitar 1 km (0,6 mil) jauhnya.

Namun, lokasi itu tidak lagi digunakan setelah diserang oleh beberapa serangan udara koalisi Saudi pada tahun 2016 dan 2017, kata Amnesty.

Saksi mata mengatakan kepada organisasi itu bahwa tidak ada pejuang atau sasaran militer di sekitar rumah tersebut pada saat serangan.

Tak lama setelah ledakan awal, serangan kedua menghantam lokasi itu.

Rumah itu dihantam lagi lima hari kemudian, sementara anggota keluarga ada di sana memeriksa lokasi. Tidak ada yang terluka dalam serangan kedua.

“Secara sengaja mengarahkan serangan terhadap warga sipil atau benda-benda sipil, serangan tidak proporsional, dan serangan sembarangan yang membunuh atau melukai warga sipil, adalah kejahatan perang,” kata Mohamed.

“Negara-negara pemasok senjata tidak dapat bersembunyi dan berpura-pura tidak tahu risiko yang terkait dengan transfer senjata kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik ini, yang secara sistematis telah melanggar hukum humaniter internasional.”

Amnesty juga berbicara kepada anggota keluarga korban yang menggali beberapa bagian rudal, yang mengarah pada identifikasi senjata Amerika.

“Saya berada sekitar tiga menit berjalan kaki, bekerja di sebuah peternakan tetangga. Saya mendengar pesawat melayang dan saya melihat bom ketika jatuh ke arah rumah. Saya berada di sebelah rumah itu ketika bom kedua jatuh, dan saya turun ke tanah,” kata seorang saksi mata.

Orang lain mengatakan kepada Amnesty bahwa mereka menguburkan para korban pada hari yang sama “karena mereka telah berubah menjadi anggota badan yang terputus”.

“Tidak ada mayat yang tersisa untuk diperiksa. Daging orang ini dicampur dengan orang itu. Mereka dibungkus (dengan selimut) dan dibawa pergi,” kata saksi mata itu.

Puluhan ribu orang—sebagian besar warga sipil—telah tewas di Yaman sejak Arab Saudi dan sekutunya campur tangan pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang terkepung, yang dipimpin oleh Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang digulingkan oleh pemberontak Houthi dari Sanaa pada akhir tahun 2014.

Pertempuran itu juga telah menyebabkan jutaan orang terlantar dan 24,1 juta orang—lebih dari dua pertiga populasi—membutuhkan bantuan. PBB menggambarkan konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. [Aljazeera]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed