oleh

Teheran: Tuduhan pada Iran Mirip Taktik AS Menginvasi Irak

Teheran menertawakan tuduhan Washington bahwa militer Iran merupakan ancaman bagi pasukan Amerika Serikat (AS) yang dikerahkan di Timur Tengah. Tuduhan itu dianggap mirip dengan taktik Washington ketika menginvasi Baghdad tahun 2003, yakni menggunakan informasi intelijen palsu.

“Ini semua tuduhan yang dibuat oleh orang yang sama, yang menjelang invasi AS ke Irak, melakukan hal yang sama,” kata Duta Besar Iran untuk PBB Majid Takht Ravanchi dalam sebuah wawancara dengan NBC News, Sabtu (11/5/2019).

Pernyataan diplomat Iran itu seperti menunjuk pada Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih John Bolton. Bolton pernah membuat tuduhan palsu ketika dia bekerja di Departemen Luar Negeri AS. Tuduhan palsu itu adalah rezim Saddam Hussein sedang membuat dan menggunakan senjata pemusnah massal.

Tuduhan yang tanpa didukung bukti yang kredibel itu dijadikan dasar AS menginvasi rezim Saddam Hussein. Belakangan terungkap bahwa informasi intelijen tentang Irak itu palsu, karena senjata pemusnah massal tidak pernah ditemukan di Irak.

“Jadi kami tidak menerima tuduhan seperti itu. Dan semua (tuduhan) ini adalah intelijen palsu,” kata Ravanchi.

AS telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan sekelompok pesawat pengebom B-52 ke Timur Tengah. Alasannya, untuk mencegah potensi serangan Republik Islam Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat atau sekutunya di Timur Tengah.

Beberapa hari kemudian, Pentagon memerintahkan penyebaran lebih banyak sistem pertahanan rudal Patriot dan tambahan kapal perang ke Timur Tengah.

Langkah itu diklaim berdasarkan pada data intelijen baru yang mengindikasikan bahwa Iran dan para proksinya dapat merencanakan serangan terhadap pasukan AS baik di darat maupun di laut.

“Kami memiliki informasi yang tidak ingin Anda ketahui,” kata Presiden AS Donald Trump pada konferensi pers di Gedung Putih. “Mereka sangat mengancam dan kami harus memiliki keamanan besar untuk negara ini dan banyak tempat lainnya.”

Trump juga meminta Iran untuk duduk dan merundingkan kembali kesepakatan nuklir 2015, yang dia “khianati” tahun lalu. Kesepakatan nuklir bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) diteken AS di era Presiden Barack Obama, Iran dan lima negara kekuatan dunia lainnya seperti Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China.

Setelah Trump menarik AS keluar dari JCPOA 2015, Washington memberlakukan kembali sanksi ekonomi yang sempat dicabut di era Obama. Tindakan Trump itu membuat Teheran marah dan menganggap Washington sebagai pihak yang tidak pernah bisa dipercaya. (SINDO)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed