Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Tari Sufi Mendekatkan Kepada Ilahi

Tari Sufi Mendekatkan Kepada Ilahi

dancersufiis
Tari sufi yang penarinya baru lima orang – Foto : surya/irwan syairwan

Satu Islam, Surabaya – Matahari mulai tergelincir di ufuk barat di Kenjeran Park (Ken Park), Sabtu 20 September 2014. Di anjungan Ken Park, Fajar Rizki (24) sedang membaca buku Dzikir Tauhid karya Agus Mustofa. Fajar merasa perlu mendalami kekhusukan dzikirnya untuk menyempurnakan tarian dzikir yang tengah digelutinya.

Fajar merupakan anggota komunitas Tari Sufi Taklim al Asyqi, Gresik. Tarian yang dipopulerkan sufi asal Turki, Jalaludin Rumi ini masih kurang diminati karena membutuhkan keahlian khusus.

“Untuk bisa menarikan ini harus benar-benar melupakan duniawi dan fokus hanya kepada Allah SWT. Di sinilah pentingnya berdzikir ketika menari,” kata Fajar saat ditemui Surya online di kediamannya di Jalan Sukolilo Lor 6/12.

Menurut Fajar, komunitas tari sufi di Surabaya sendiri belum ada. Karenanya, Fajar bergabung dengan komunitas tari sufi di Gresik.

“Tiap Kamis kami latihan bareng. Semua juga masih sama-sama belajar. Saya saja belum ada ssetahun belajar,” sambungnya.

Tarian ini memakai pakaian yang memiliki makna simbolis mendalam. Fajar menerangkan topi yang dipakai para penari disebut sike yang melambangkan batu nisan.

Jubah yang membentuk lingkaran ketika para penari berputar disebut tennar yang melambangkan kain kafan. Jubah ini sendiri ketika digelar membentuk huruf Arab lam-alif.

“Lam artinya makhluk dan alif sendiri adalah Allah SWT,” sambungnya.

Sabuk yang melingkari merupakan lambang batas pemisah antara nafsu dengan akal dan pikiran. Sebelum memakai kostum tersebut, ada beberapa laku yang harus dilakukan. Untuk memakai jubah, posisi tennar dalam keadaan terbalik yang melambangkan ketika manusia dibungkus kain kafan.

Sebelum jubah masuk ke tubuh, Fajar pun harus sudah dalam keadaan berwudhu. Tak lupa shalawat, syahadat, surat al Fatihah, dan tawassul (memuji Rasul SAW dan Rumi), dilafaskan dalam hati.

Gerakan tarian ini memang hanya berputar-putar saja. Kendati demikian, Fajar menjelaskan gerakan putaran ini memiliki makna mendalam sekaligus bisa sebagai ukuran kekhusyukan dzikir seseorang.

Putaran dalm tarian ini melambangkan alam semesta yang pada hakikatnya juga dalam kondisi berputar. Putaran semesta ini ditafsirkan sebagai cara semesta berdzikir kepada Tuhan Yang Esa.

Ketika memeragakan tarian ini, Fajar berdiri tegak dengan sikap tangan menyilang di dada. Ini, lanjutnya, melambangkan kondisi ketika manusia mati. Sikap berdiri tegaknya pun tidak sembarangan. Jempol kaki kiri ditekan dengan jempol kaki kanan. Fajar mengungkapkan sikap ini melambangkan nafsu yang sudah diredam.

Ketika berputar, tangan yang menyilang perlahan turun ke perut lalu setahap demi setahap dinaikan ke dada, kepala dan dilepaskan ke udara. Ini sebagai ekspresi dibuangnya segala nafsu duniawi.

“Hanya penarinya sendiri yang bisa merasakan. Kalau sudah dibuang akan kuat berputar sampai berjam-jam,”ujarnya.

Usai memeragakan tarian selama 30 menit, Fajar tetap mampu berjalan seperti biasa. Hanya keringat yang mengucur deras dari kepalanya. Diakuinya tak ada rasa pusing usai menari meski menari berputar 1-2 jam sekalipun.

“Kalau fokusnya hanya pada dzikir, tidak akan pusing. Karenanya kekhusyukan dzikir sangat penting,” ucapnya.

Mendalami tarian sufi atau yang populer disebut Whirling Dervish Rumi ini membuatnya semakin tabah menghadapi kehidupan. Fajar mengaku baru saja keluar dari pekerjaannya karena di tempatnya bekerja dulu dirinya tidak diperbolehkan shalat.

“Walau berat (keluar pekerjaan), tapi saya percaya Allah SWT akan memberikan rizqi yang lebih baik lagi. Tiap saya melangkah, secara otomatis bawah sadar saya langsung berdzikir,” tuturnya.

Fajar tengah merintis komunitas sendiri di Surabaya. Menurutnya, tarian unik ini perlu dikembangkan karenamampu mendekatkan seseorang kepada Allah SWT.

“Gerakan terakhir tarian adalah tangan kanan menengadah ke atas, sementara tangan kiri menghadap ke bawah. Tangan kanan ke atas melambangkan doa, sementara tangan kiri ke bawah akan menjadikan seseorang sering bersedekah. Wallahualam,” ujarnya.

Terpisah, pendiri sekaligus pengajar Komunitas Tari Sufi al Asyqi Gresik, Hamzah Noval (32), menambahkan tarian ini bisa dilakukan semua orang. Yang beragama lain pun juga bisa melakukannya selama yang bersangkutan mampu melepaskan hawa nafsu dan fokus berdoa menurut kepercayaannya.

“Baru ada lima penari, termasuk saya. Kami pun welcome kepada siapapun yang ingin bergabung, termasuk kawan-kawan agama lain. Kita akan sama-sama belajar untuk lebih dekat kepada Tuhan,” imbuh Noval.

Menurut karyawan pabrik di Gresik ini, tarian sufi merupakan puncak ekspresi spiritualitas tertinggi seseorang. Jika bisa melakukannya serasa Tuhan hadir dalam tiap aspek kehidupannya.

“ Inilah karomahnya tarian ini. Selain semua agama bisa melakukan, tarian ini akan membuat rasa spiritualitas seseorang semakin mendekati hakikat,” ucapnya.(Surya)

Check Also

Tradisi Buka Luwur di Makam Sunan Kudus Peringati 10 Muharam

Satu Islam, Kudus – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi masyarakat Kabupaten Kudus dan sekitarnya …

One comment

  1. Kalau mau mendatangkan tarian sufi ini ke acara wedsing ada ga ya semacam komunitasnya atau jasa EO di jatim yg sediain jasanya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.