Home / Internasional / Tantangan Kabinet Irak yang Baru Terbentuk

Tantangan Kabinet Irak yang Baru Terbentuk

PM Baru Irak Adel Abdul Mahdi.
PM Baru Irak Adel Abdul Mahdi.

Lobi-lobi politik di Irak dimulai setelah Adel Abdul Mahdi terpilih sebagai perdana menteri baru negara itu. Namun, ia tampaknya akan menghadapi tantangan penting untuk membentuk kabinet.

Proses penunjukan ketua parlemen, presiden, dan perdana menteri Irak memakan waktu lebih dari empat bulan. Pada akhirnya, Mohammad al-Halbusi ditetapkan sebagai ketua parlemen, Barham Salih sebagai presiden, dan Adel Abdul Mahdi sebagai perdana menteri baru Irak.

Abdul Mahdi menemui rintangan dalam menyusun formasi kabinet dan kemudian mengumumkannya ke publik. Kelompok-kelompok politik tentu akan meminta jatah kursi di pemerintah. Meski PM Irak berasal dari komunitas Syiah, namun dia tidak memiliki kebebasan yang besar dalam menentukan pilihan.

Abdul Mahdi harus mempertimbangkan dua aspek utama yaitu; kuota tiga kelompok pembentuk kekuatan (Syiah, Sunni, dan Kurdi), dan perimbangan kekuatan di tengah kelompok tersebut.

Persoalan ini akan memperpanjang proses pembentukan kabinet, berpotensi memicu ketidakpuasan dari komunitas tertentu, dan secara praktis kabinet tidak jadi terbentuk.

Pemimpin Gerakan Sadr, Moqtada al-Sadr mengatakan, jika para calon anggota kabinet baru berasal dari partai dan faksi-faksi dan jabatan ini kembali didistribusikan atas dasar kuota politik, maka ia akan meninjau ulang keputusannya untuk tidak ikut campur dalam pembentukan kabinet.

Demonstrasi anti-pemerintah bisa saja muncul jika kabinet yang solid dengan tetap mempertahankan keragaman masyarakat Irak, tidak terbentuk.

Intervensi asing terutama Arab Saudi dan Amerika Serikat akan menjadi batu sandung eksternal Abdul Mahdi dalam merangkai kabinet baru Irak. Riyadh dan Washington sejauh ini gagal mencapai tujuannya dalam pemilihan ketua parlemen, presiden, dan perdana menteri Irak. Tokoh-tokoh yang didukung AS dan Saudi justru tidak terpilih.

Menurut berbagai laporan, AS dan Saudi terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini di wilayah selatan Irak. Aksi ini diseting untuk merusak konsentrasi komunitas Syiah dan menekan mereka sehingga tidak mengajukan orang-orang yang dekat dengan gerakan perlawanan Irak.

Setelah gagal, AS dan Saudi sekarang mengerahkan semua instrumen untuk menekan dan mempengaruhi proses pembentukan kabinet Irak agar berjalan sesuai dengan harapan mereka.

Senator Republik dari Florida, Marco Rubio dalam sebuah tweet baru-baru ini menyerukan intervensi AS dalam pemilihan menteri perminyakan pemerintah baru Irak.

Abdul Mahdi menghadapi situasi yang sulit untuk membentuk kabinet dengan memperhatikan dua tantangan internal dan eksternal ini. Namun jika berhasil, berarti ia telah membuat sebuah terobosan besar untuk menciptakan stabilitas dan mengakhiri stagnasi politik di Irak. (parstoday)

Check Also

Bangsawan Saudi ‘Menghilang’ setelah Bertanya tentang Khashoggi

Setidaknya lima bangsawan Saudi dilaporkan hilang setelah mereka berusaha menyuarakan ketidakpuasan dengan hilangnya jurnalis Jamal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.