oleh

Tangan Kotor Saudi di Balik Fenomena Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia

Fenomena intoleransi dan radikalisme di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sebuah ideologi horor bernama Salafi-Wahabi, tentu gelombang wahabisme yang menyebar di seluruh penjuru dunia tidak terjadi begitu saja secara natural tanpa adanya misi penyebaran oleh negara induk di mana paham ini lahir yaitu Saudi Arabia. Hal ini bukan tuduhan semata atau semacam teori konspirasi, setidaknya hal ini diakui sendiri oleh Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman (MBS).

Disampaikan MBS kepada Washington Post bahwa Penyebaran Wahhabisme yang didanai oleh Arab Saudi merupakan permintaan negara-negara Barat untuk membantu melawan Uni Soviet selama Perang Dingin. Sekutu Barat mendesak negaranya untuk berinvestasi dalam wujud masjid dan madrasah di luar negeri selama Perang Dingin. Tujuannya, untuk mencegah perambahan pengaruh Uni Soviet—kini Rusia—di negara-negara Muslim.

MBS menambahkan bahwa pemerintah Saudi telah kehilangan jejak atau kontrol dalam upaya itu dan kini menyatakan akan melakukan reformasi keagaamaan, tetapi nampaknya itu hanya gimik saja, kalaupun berlaku hanya untuk elit kerajaan saja. Internasionalisasi Wahhabi ini setidaknya dilakukan dengan beberapa strategi. Pertama, memberikan dukungan finansial kepada organisasi-organisasi penting. Cara ini dilakukan secara lebih canggih dan menyeluruh terutama pada tahun 1980-an dengan menciptakan organisasi perwakilan seperti Liga Muslim Dunia (Rabithah al-Alam al Islami), yang secara luas mendistribusikan literatur Wahhabi dalam semua bahasa utama dunia, memberikan hadiah dan sumbangan, serta menyediakan dana untuk jaringan penerbit, sekolah, mesjid, organisasi, dan perseorangan.

Tentu saja efek kampanye ini adalah munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi. Kedua, persebaran Wahhabi juga didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah, dan juga perseorangan seperti guru, ustaz, dan penulis  yang “secara oportunis” ingin mengambil untung dari donasi Saudi.

Pemberian uang oleh Kedutaan Saudi yang terungkap dalam persidangan kasus korupsi menyingkap intervensi besar dan permainan kotor rezim penyebar wahabisme Saudi di Indonesia di balik suburnya ekstremisme yang justru mengganggu NKRI dan NU sebagai garda Islam moderat. Mengutip dari Liputan 6 bahwa Menag Lukman Hakim menyebut uang dolar di ruang kerjanya dari Kedubes Arab Saudi. Menurutnya uang itu merupakan pemberian karena Indonesia menjadi tuan rumah MTQ Internasional yang diadakan keluarga Amir Sulton.

Saudi memang dikenal royal dalam memberikan gratifikasi kepada pejabat negara demi memuluskan tujuannya, tahun lalu skandal kotor ini menjerat mantan Perdana Najib Rajak. PM Mahathir Mohamad pun meminta Najib Razak untuk menyerahkan bukti jika dana 2,6 miliar ringgit, sekitar Rp 9,4 triliun, adalah donasi dari Arab Saudi.

Meski dua contoh kasus itu sifatnya masih dugaan tetapi semakin menguatkan tesis di atas bahwa munculnya banyak gerakan Islam di seluruh dunia yang menjadi pendukung ideologi Wahhabi yang persebaran didukung oleh berbagai institusi baik institusi sosial-keagamaan, pendidikan, institusi bisnis dan media massa seperti penerbitan buku, koran, radio, TV dan majalah maupun institusi politik dan pemerintah adalah berkat donasi Kerajaan Saudi Arabia.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed