Home / Wisdom / TAK PENTING TAPI SERING

TAK PENTING TAPI SERING

“Lebih sering” tak mesti negatif, tapi sangat mungkin tidak utama dan bukan sesuatu yang lebih penting.

“Lebih sering” adalah cermin dari arus kecenderungan umum. Kita semua mungkin sedang berenang atau hanyut di dalamnya.

 

Tuhan lebih sering disebut daripada disembah.

Agama lebih sering dimanfaatkan (dipolitisasi) daripada diamalkan.

Mazhab lebih sering dipertentangkan daripada dipraktikkan.

Nabi lebih sering dipuji daripada disucikan.

Teks suci lebih sering dikutip daripada diargumentasikan.

Nasionalisme lebih sering dijargonkan daripada dihayati.

Shalat lebih sering dilakukan daripada didirikan.

Atraksi retorika penyebar kebencian lebih sering diperhatikan daripada ditimbang argumennya.

Filsafat lebih sering dirumitkan dengan borjuisme kata daripada disederhanakan dengan diksi awam.

Syukur atas harta lebih sering dikaligrafikan daripada disedekahkan.

Gagasan bernilai lebih sering diintip daripada disimak.

Hukum lebih sering diperdebatkan daripada diterapkan.

 

Quote bijak lebih sering dishare daripada direnungkan.

Doa lebih sering dibaca daripada dipanjatkan.

Ajakan perlawanan terhadap takfirisme lebih sering dilike daripada disebarkan.

Orang yang sedang kesulitan lebih sering dikasihani daripada dibantu.

Ustadz sotoy lebih sering dipuja daripada diukur kompetensinya.

Pemerintah terpilih lebih sering dikritisi daripada diberi kesempatan melaksanakan programnya.

Kebijakan publik lebih sering dinyinyiri daripada didukung.

Tayangan lebih sering disebarkan karena angka viewernya daripada konten pesannya.

Komedi konyol lebih sering dicari daripada ajakan serius menggunakan akal sehat.

 

Kontroversi dan keberpihakan tanpa batas lebih sering dibincangkan daripada opini berimbang.

Sinetron ala “akibat dosa” dan berita kejahatan seksual lebih sering diminati daripada buku.

Masjid lebih sering direnovasi dengan regu cegat dan diklaim sebagai rumah mazhab daripada dipandang sebagai “Rumah Tuhan”.

loading...