oleh

Studi Intoleransi Indonesia: Makin Sekuler Seseorang, Ia Makin Toleran

Sebuah studi intoleransi Indonesia menunjukkan, bahwa semakin sekuler seseorang, maka semakin toleran orang itu. Penelitian ini menemukan bahwa persepsi ancaman, ketidakpercayaan, sekularisme, fanatisme agama, dan media sosial dapat memicu intoleransi secara langsung. Responden yang merasa terancam dan tidak percaya pada agama dan etnis lain, cenderung tidak toleran. Kecenderungan yang sama juga ditemukan pada mereka yang fanatik terhadap agama dan pengguna media sosial akut.

Oleh: Sari Seftiani (The Conversation)

Intoleransi telah menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan di Indonesia—negara sekuler dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia—seiring meningkatnya kasus intoleransi di seluruh negeri.

Para peneliti dan organisasi masyarakat sipil telah melakukan berbagai survei untuk memahami intoleransi dalam masyarakat Indonesia yang beragam. Tetapi kebanyakan dari mereka hanya menunjukkan persentase orang yang tidak toleran di antara penduduk Indonesia.

Studi deskriptif ini hanya memberikan pola umum intoleransi di Indonesia. Mereka tidak mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan praktik intoleran.

Kita perlu penelitian tentang intoleransi yang tidak hanya angka, untuk mencari tahu mengapa dan bagaimana orang menjadi intoleran, dan untuk menemukan solusi.

Dengan menggunakan metode analisis statistik yang disebut pemodelan persamaan struktural (SEM), tim saya dan saya mengidentifikasi bahwa identitas agama dan etnis yang kuat adalah faktor dalam seseorang yang memiliki sikap intoleran.

METODE DI LUAR STATISTIK

Peneliti yang memiliki minat dalam masalah intoleransi jarang menggunakan SEM—metode yang dapat menunjukkan hubungan sebab akibat antara beberapa variabel dependen dan variabel independen.

Metode ini biasanya diterapkan pada penelitian tentang pemasaran, motivasi, dan tingkat kepuasan terhadap fasilitas kesehatan. Peneliti ilmu sosial juga menggunakannya untuk mengukur sesuatu yang abstrak.

Tetapi akan bermanfaat untuk menggunakan metode ini untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh studi deskriptif. Dengan menggunakan SEM, kita dapat mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang menyebabkan intoleransi, dan sejauh mana berbagai faktor mempengaruhi tingkat intoleransi.

Ini juga dapat digunakan untuk mengukur sesuatu yang abstrak—seperti toleransi—dengan menggunakan indikator untuk mewakili konsep.

Untuk penelitian kami, kami menggunakan indikator seperti penolakan pemimpin dari berbagai agama dan kelompok etnis, dan penolakan tetangga dengan agama dan etnis yang berbeda. Setelah kami mengidentifikasi indikator ini, kami dapat mengukur variabel dan menentukan hubungannya.

TEMUAN KAMI

Pada tahun 2018, kami mewawancarai 1.800 responden di sembilan provinsi di seluruh Indonesia. Kami memilih responden yang memenuhi syarat untuk memilih dalam pemilu, untuk mengukur intoleransi terkait pandangan mereka tentang kandidat pemilu dengan agama dan etnis yang berbeda. Oleh karena itu, kami menggunakan multistage random sampling untuk memperoleh sampel penduduk berusia 17-64 tahun atau sudah menikah, yang menurut hukum Indonesia berhak memilih.

Dari analisis kami, kami mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan sikap intoleran: identitas agama dan fanatisme, etnis, ketidakpercayaan, sekularisme, ancaman yang dirasakan, dan media sosial.

Karakteristik responden. (Sumber: The Conversation)

Penelitian kami menemukan bahwa persepsi ancaman, ketidakpercayaan, sekularisme, fanatisme agama, dan media sosial dapat memicu intoleransi secara langsung.

Responden kami yang merasa terancam dan tidak percaya pada agama dan etnis lain, cenderung tidak toleran. Kecenderungan yang sama juga ditemukan pada mereka yang fanatik terhadap agama dan pengguna media sosial akut.

Penelitian ini menunjukkan ketidakpercayaan atas perbedaan agama adalah salah satu aspek utama yang berkontribusi terhadap intoleransi. Responden kami mengatakan bahwa orang-orang dari agama yang berbeda tidak dapat dipercaya dan mereka cenderung mengeksploitasi orang lain ketika mereka berkuasa.

Para responden ini juga merasa terancam ketika orang-orang yang berbeda agama menjadi pemimpin dan lebih kuat secara ekonomi dan politik.

Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin sekuler seseorang, maka semakin toleran orang itu.

Kami mengidentifikasi orang-orang sekuler ini tidak hanya berdasarkan pada nilai-nilai agama mereka, tetapi juga kepercayaan mereka pada peran negara untuk melindungi hak-hak warga negara dengan berbagai agama.

Kami menemukan bahwa 56,6 persen responden kami dapat menerima kandidat dengan agama berbeda untuk mencalonkan diri untuk jabatan pemerintah. Sebagian besar dari mereka juga tidak menilai latar belakang agama dan etnis kandidat dalam pemilihan presiden dan daerah.

Visualisasi hasil SEM memodelkan intoleransi dan radikalisme. (Sumber: The Conversation)

PEMBUATAN KEBIJAKAN BERBASIS PENELITIAN

Penelitian kami menunjukkan bahwa SEM dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengeksplorasi dan memahami masalah intoleransi.

Kami dapat menggunakan temuan ini sebagai dasar untuk membuat kebijakan untuk mengatasi intoleransi di Indonesia.

Mencari tahu berapa banyak orang dalam masyarakat yang memiliki sikap intoleran adalah penting, tetapi lebih penting lagi untuk menggali lebih dalam untuk memahami alasannya.

Sari Seftiani adalah peneliti di Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

source: matamatapolitik.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed