Home / Humaniora / Mozaik Nusantara / Simak! Cara Menarik Umat Muslim dan Hindu Merayakan Puasa di Bali

Simak! Cara Menarik Umat Muslim dan Hindu Merayakan Puasa di Bali

Satu Islam, 29 Mei 2018-  Meski mayoritas warga Bali menganut agama Hindu, antusias masyarakatnya dalam menyambut bulan Ramadan tidak kalah dengan mereka yang ada di Pulau Jawa.

Yang paling mengejutkan, kerabat non-Muslim pun turut hadir dalam kemeriahan ini. Memang sudah biasa bagi penduduk ber-KTP Bali untuk menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Lalu, penasaran bagaimana tradisi masyarakat Bali menghabiskan waktu Ramadan?

Simak tiga tradisi unik umat Muslim di Bali saat bulan puasa!

Megibung

tiket

Megibung merupakan tradisi turun-temurun yang masih dijaga oleh masyarakat Bali dan Lombok. Arti ‘gibung’ sendiri adalah kegiatan saling berbagi, duduk bersama untuk makan sambil berdiskusi.

Jadi, jangan heran kalau kamu melihat ada suguhan lauk-pauk yang diletakkan di atas daun pisang. Hampir mirip dengan Liliwetan! Megibung rutin diselenggarakan oleh masyarakat Muslim di Bali, tepatnya di Kampung Islam Kepaon, Karangasem, bagian timur Pulau Dewata.

Menu lauk yang disajikan antara lain ayam bakar, sate lilit khas Bali, ikan asin, nasi putih, sambal terasi, serta tidak lupa sayur dengan tempe dan tahunya.

Menariknya, tidak hanya umat Islam saja yang bisa makan bersama. Teman atau kerabat yang berbeda agama boleh ikut merasakan suasana ini. Biasanya mereka bergotong royong untuk melaksanakan tradisi Megibung.

Sate Susu

tiket

Kolak, gorengan, dan es buah mungkin sering kamu temui di deretan jajanan takjil. Berbeda dengan di Bali, justru sate susulah yang paling laris dibeli oleh masyarakat sana.

Sate yang hanya muncul di bulan puasa ini berbahan baku puting susu sapi yang dibumbui agak pedas, dipotong kotak-kotak dengan lebar sekitar 2 sentimeter tetapi relatif tipis. Sate tusuk ini biasanya dijual seharga Rp 2.000 untuk setiap tusuknya.

Peminat sate susu inipun bukan hanya umat Muslim saja, melainkan juga umat Hindu di Bali. Saking nagihnya, banyak pula yang coba memasaknya di rumah.

Ngejot

tiket

Warga Desa Pegayaman, Buleleng sering mengadakan tradisi ini saat menjelang Idul Fitri. Biasanya tradisi dilakukan dengan cara membawa makanan ke rumah saudara guna silaturahmi.

Yang paling mengejutkan, mereka yang non-Muslim pun turut mendapat. Tujuannya adalah untuk menjaga kebersamaan antar umat beragama.

Sebaliknya, pada hari-hari besar Hindu, umat Hindulah yang akan membawakan hantaran kepada kerabat Muslim.

 

 

 

 

Check Also

Ritual Tabut Bengkulu Mengenang Kesyahidan Cucu Nabi

Satu Islam, Bengkulu – Warga memadati badan jalan yang menjadi rute arak-arakan “tabut tebuang” atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.