oleh

SHN: Keputusan AS Mengenai Golan Hinaan Bagi Bangsa Arab dan Umat Islam

Sekjen kelompok pejuang Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap kedaulatan Rezim Zionis Israel atas Dataran Tinggi Golan milik Suriah merupakan peristiwa krusial dalam sejarah konflik Arab-Israel yang memperlihatkan penghinaan AS terhadap dunia Arab dan Islam.

Karena itu, dalam pidatonya mengenai perkembangan situasi politik Timteng, Selasa (26/3/2019), Nasrallah mendesak Liga Arab agar dalam pertemuan puncaknya di Tunisia mencabut prakarsa Arab dan kembali ke titik nol.

“Deklarasi AS mengenai Golan menunjukkan penghinaan terhadap dunia Arab dan Islam…Keputusan Trump ini juga merupakan penghinaan terhadap semua keputusan dan konsensus internasional bahwa Golan adalah tanah Suriah yang diduduki,” ungkap Nasrallah.

Dia menilai AS memanfaatkan lembaga-lembaga internasional sebatas untuk melicinkan kebijakan dan interesnya sendiri, dan keputusan Trump menunjukkan ketidak mampuan lembaga-lembaga itu dalam melindungi hak bangsa-bangsa dunia, termasuk ketika AS menempatkan kepentingan Israel dalam skala prioritas mutlaknya.

“Trump sekarang mengarahkan pukulan telak terhadap apa yang disebut perdamaian di kawasan,” ujar Nasrallah.

Menurutnya, kebungkaman dunia Arab di depan perampasan kota al-Quds (Yerussalem) oleh Trump telah membuatnya tak segan-segan bersikap lancang terhadap Golan, dan bukan tak mungkin selanjutnya dia juga akan mengakui kedaulatan Israel atas Tepi Barat.

Mengenai sikap negara-negara Arab terkait Golan, Nasrallah mengingatkan bahwa mereka memerlukan “keberanian dan kejantanan”, dan “reaksi politik yang paling sederhana terhadap Trump ialah penarikan pertemuan puncak Arab di Tunisia atas prakarsa damai Arab dari meja pembahasan.”

Nasrallah memastikan bahwa satu-satunya jalan bagi Suriah, Lebanon, dan Palestina adalah “muqawamah” (resistensi) demi merebut kembali tanah dan hak mereka.

Mengenai kunjungan Menlu AS Mike Pompeo ke Lebanon, Nasrallah mengatakan bahwa Pompeo dalam pernyataannya yang hanya berdurasi beberapa menit di Lebanon telah menyebut nama Hizbullah sebanyak 18 kali dan nama Iran 19 kali.

“Kami justru senang, bukan takut, ketika menlu negara arogan terkuat di dunia menyebut nama Hizbullah. Kemarahan AS terhadap kami justru menenangkan kami dan menambah keyakinan akan kebenaran posisi dan opsi-opsi kami… Dan dia sama sekali tidak memberikan satupun perkataan yang benar dalam kunjungannya ke Lebanon,” papar Nasrallah.

Dia mengingatkan bahwa kunjungan Pompeo ke Lebanon dilakukan dalam rangka sepak terjang AS demi kepentingan Israel, dan pernyataannya sama sekali tidak menyinggung agresi, pelanggaran, dan ancaman Israel.

Sekjen Hizbullah memuji besarnya kiprah Iran dalam perang melawan terorisme dengan mengatakan, “Iran dan Haji Qassem Soleimani (Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran) telah banyak berjasa membantu kami melindungi bangsa Lebanon ketika kami memerangi ISIS. Dengan senjata-senjata Iranlah kami memerangi kelompok-kelompok teroris yang diciptakan oleh AS, dan membebaskan tanah kami dari (pendudukan) Israel.”

Dia juga menegaskan bahwa Iran dan Hizbullah dipersoalkan oleh Menlu AS adalah karena “kami merupakan rintangan bagi (prakarsa AS) Deal of The Century dan penutupan perkara Palestina”. (LI/raialyoum/alalam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed