oleh

Setelah Tarik Pasukan dari Yaman, Kini UEA Dekati Iran

Abu Dhabi sebelumnya telah melewati garis merah dengan tindakan agresi ke Yaman dan memprovokasi perang atas Iran, sampai akhirnya Iran menunjukkan amarah usai menembak jatuh nirawak AS yang lepas landas dari wilayah UEA.

Usai bergabungnya UEA dalam agresi langsung atas Iran, sekjen Hizbullah mendorong Saudi dan UEA untuk mundur dari rencana penghancuran kawasan dan ketaatan terhadap Trump, yaitu dengan menyebut Abu Dhabi dan Riyadh sebagai “kota-kota kaca.”

Mundurnya pasukan UEA dari sejumlah kawasan di Yaman menunjukkan bahwa Abu Dhabi tidak meyakini dukungan Washington dalam menghadapi Teheran. Abu Dhabi juga berupaya mengirim pesan-pesan rahasia ke Teheran melalui sejumlah pihak. Dengan tiadanya keyakinan akan dukungan AS terhadap Dewan Kerjasama Teluk (GCC), wakil Saudi di PBB untuk kali pertama menyatakan kesiapan Riyadh memulai hubungan diplomatik dengan Iran. Hal ini ditunjukkan pula dengan pembebasan sebuah kapal Iran setelah ditahan Saudi selama 2,5 bulan.

Baca UEA Mulai Tarik Diri di Yaman

Di lain pihak, upaya AS untuk membentuk koalisi pengamanan jalur pelayaran di Teluk Persia menemui jalan buntu. Seruan Pompeo kepada Jepang, Korsel, Prancis, dan Jerman untuk melindungi kapal-kapal mereka di Teluk tidak mendapat respon signifikan. Sampai-sampai menlu AS menyatakan, pembentukan koalisi semacam ini butuh waktu lebih lama. Apalagi menlu Jerman juga menyatakan, Berlin memilih jalur diplomatik untuk mengurangi tensi di kawasan.

PressTV pada Rabu, 31/7 melaporkan pertemuan antara Iran dan Uni Emirat Arab untuk sepakat meningkatkan kerja sama keamanan maritim. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan antara Komandan Polisi Perbatasan Iran, Brigadir Jenderal Qassem Rezaei dengan Komandan Penjaga Pantai UEA, Brigadir Jenderal Mohammad Ali Mesbah al-Ahbabi di Ibu Kota Iran, Teheran.

Ini adalah pertemuan gabungan keenam yang membahas kerja sama keamanan teritoral antara kedua negara, dan berlangsung sejalan dengan koordinasi bilateral antara kedua belah pihak yang bertujuan mempertahankan dan memajukan kerja sama perbatasan laut negara-negara tersebut.

Dalam pertemuan itu keduanya menyerukan peningkatan pembicaraan diplomatik bilateral dan upaya untuk memperkuat keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman.

Rezaei, dalam pertemuan tersebut menekankan perlunya hubungan perbatasan yang menguntungkan antara Republik Islam dan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya.

Baca Setelah UEA, Saudi akan Tarik Pasukan dari Yaman

Dia menuturkan, Iran mementingkan kepolisian perbatasan sebagai titik kontak antara kedua negara, peningkatan hubungan bilateral dapat memberikan kontribusi positif bagi keamanan berkelanjutan di kedua negara.

“Interaksi perbatasan yang efektif, akan memfasilitasi hal-hal untuk pengusaha dan nelayan di negara-negara tersebut, serta mereka yang bepergian ke Iran dan UEA untuk tujuan medis atau pariwisata,” sambungnya.

Razei mengatakan, Teluk Persia dan Laut Oman berada dibawah tanggung jawab negara-negara di kawasan. “Kita seharusnya tidak membiarkan negara-negara lain merusak keamanan regional, dan harus menghadapi pengejaran mereka yang mengamuk dan mengejar kepentingan diri sendiri di sini,” ucapnya.

“Kita harus mengelola perbatasan bersama dan membangun keamanan atas mereka bersama-sama (satu sama lain) melalui peningkatan interaksi perbatasan,” imbuhnya.

Sementara itu, pada gilirannya, al-Ahbabi mengatakan, intervensi oleh pemerintah asing di garis depan maritim di kawasan adalah sumber masalah di wilayah tersebut. “Negara-negara regional perlu memastikan keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman di bawah naungan hubungan baik,” tukasnya. [LI/SINDO]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed