oleh

Serangan Minyak Saudi Ungkap Kelemahan Strategi Timur Tengah AS

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan pejabat intelijen telah menyalahkan Iran, meskipun sejauh ini citra satelit yang mereka berikan kepada media dan informasi dari sumber terbuka yang tersedia tentang serangan itu masih tidak dapat disimpulkan.

Presiden Trump pertama kali menanggapi dengan menyatakan bahwa AS “siap,” menunjukkan serangan militer balasan akan segera dilakukan, namun tak lama kemudian menyatakan ia masih berharap untuk menghindari konflik dengan Iran.

Serangan terhadap fasilitas-fasilitas di Khurais dan Abqaiq di Arab Saudi bagian timur telah mengakibatkan gangguan besar pada pasar minyak global, dengan hilangnya 5,7 juta barel per hari, atau lebih dari 6 persen produksi global, dari peredaran. Orang-orang Houthi di Yaman telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi mengingat ketepatan dan jarak yang diperlukan untuk menargetkan fasilitas-fasilitas itu dari Yaman, klaim itu menjadi meragukan.

Jika Iran bertanggung jawab baik secara langsung maupun tidak langsung, peristiwa ini merupakan peningkatan besar dalam kampanye Iran untuk merugikan AS dan mitra regionalnya setelah keputusan Trump untuk menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan sektor minyak Iran.

Trump sekarang tengah berada dalam kesulitan yang telah diprediksi sebelumnya: Dengan tidak mungkinnya Trump untuk menarik tuntutan pemberlakuan kembali sanksi, Iran telah memilih untuk menantangnya. Meskipun ini semua adalah kekacauan yang dibuat Trump sendiri, beberapa kesalahan Trump juga merupakan hasil logis dari kelemahan pada pendekatan Amerika yang lebih luas terhadap perannya di dunia.

Pertama dan terutama adalah kecenderungan ancaman inflasi. Mengesampingkan perdebatan tentang apakah dunia telah menjadi lebih berbahaya dan apakah tantangan yang ditimbulkan oleh saingan kuat seperti Rusia dan China harus diutamakan daripada rival tingkat kedua seperti Iran, pemerintah AS secara konsisten melebih-lebihkan ancaman Iran, menganggapnya melawan kepentingan AS dan keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah.

Seperti yang ditunjukkan oleh lanskap regional saat ini―dengan konflik yang tidak pasti di Yaman, gelombang panjang perang sipil Suriah dan kebuntuan politik yang tampaknya tidak pernah berakhir di Lebanon―Iran tidak dalam posisi untuk mendominasi Timur Tengah. Selain itu, tidak ada peta jalan politik yang realistis untuk wilayah tersebut yang dapat dengan mudah mengabaikan kepentingan Iran. Iran lebih merupakan gangguan yang harus dikelola daripada ancaman untuk dikalahkan.

Sayangnya, langkah mantan Presiden Barack Obama yang terhenti untuk mengkalibrasi ulang strategi Timur Tengah AS di sepanjang garis ini terbukti tidak berkelanjutan dalam menghadapi perlawanan bersama oleh Israel, Arab Saudi, dan para pendukung mereka di Kongres. Iran bukan satu-satunya contoh dari kecenderungan pemerintah AS untuk melukis saingan sebagai ancaman eksistensial terhadap keamanan regional atau tatanan internasional, tetapi jelas Iran yang paling mencolok.

Kelemahan kedua yang diungkap oleh serangan minyak Saudi adalah meningkatnya ketergantungan pemerintah AS pada sanksi ekonomi sebagai instrumen dari diplomasi koersif Amerika. Di satu sisi, penggunaan sanksi adalah langkah untuk mengarahkan penerima sanksi ke arah yang benar, dalam arti, itu adalah upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan tanpa menggunakan alat militer. Masalahnya adalah, karena kekuatan hegemonik dolar dalam ekonomi global, sanksi AS menjadi tidak dapat dibedakan dari tindakan perang ketika diterapkan untuk melawan Iran.

Alih-alih boikot, sanksi menjadi padanan modern dari blokade, yang sebenarnya didefinisikan dan diatur di bawah hukum internasional sebagai tindakan perang. Lebih buruk lagi, seperti yang ditunjukkan oleh pertikaian dengan Iran saat ini, sanksi sering gagal mencapai tujuannya. Alih-alih menghalangi perilaku bermasalah, sanksi mendorong negara yang terkena sanksi untuk mencari cara asimetris dalam menerapkan tekanan balik.

Seiring waktu, senjata dolar ini juga akan merusak kredibilitas internasionalnya sebagai mata uang cadangan global. Sementara itu, sanksi berfungsi sebagai jaminan palsu di pemerintahan AS bahwa konflik terbuka telah terhindari, padahal faktanya hanya ditunda atau dikemas dengan cara berbeda.

Ketiga, reaksi AS terhadap serangan tersebut menggambarkan bahaya moral yang diciptakan jaminan keamanan Amerika di antara sekutu dan mitranya. Dalam komentar awalnya di Twitter, Trump tampaknya melangkah lebih jauh dengan mengeluarkan keputusan AS yang seharusnya dilakukan Saudi. Michael Morrell, mantan direktur pelaksana CIA, menyarankan bahwa AS akan “perlu merespons” apa yang ia sebut tindakan perang tersebut, meskipun tidak ada perjanjian pertahanan timbal balik antara kedua negara. Sejauh ini, Saudi lebih berhati-hati untuk menunjuk siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu dan tanggapannya.

Pemerintah Saudi—yang seperti yang sudah lama terlihat, telah lama berkeinginan untuk memerangi Iran—sebenarnya memiliki banyak alasan untuk berhati-hati untuk melompat ke dalam konflik yang kemungkinan akan membuat ekonomi Saudi terpuruk, yang akhirnya akan mengacaukan ekonomi regional dan global. Tetapi jika Saudi pada akhirnya setuju bahwa serangan itu menuntut tanggapan militer, itu menimbulkan pertanyaan mengapa AS, dan bukan Saudi, yang harus memberikan balasan.

Alasannya adalah bahwa, meskipun telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membeli sistem senjata Amerika dan Eropa yang mahal, Saudi tidak memiliki kemampuan independen yang nyata untuk melakukannya secara efektif. Mungkin mereka akan memulai dengan menopang kemampuan mereka untuk mempertahankan infrastruktur minyak mereka dari serangan di masa depan.

Pada saat yang sama, serangan hari Sabtu itu juga menggambarkan tantangan yang dihadapi setiap upaya AS untuk menahan diri, khususnya dalam periode transisi yang diperlukan untuk melakukan perubahan radikal seperti itu. Trump baru-baru ini menandakan kesediaannya untuk mencari jalan keluar diplomatik dari konflik saat ini dengan Iran. Sekarang akan sulit baginya untuk menindaklanjuti itu, yang berarti bahwa status quo eskalasi bertahap akan tetap ada, meningkatkan kemungkinan bahwa insiden masa depan di Teluk akan semakin meningkatkan tekanan pada Trump untuk merespons.

Tekanan itu akan sulit untuk ditahan seiring AS mempertahankan kemampuan militer untuk melakukan intervensi di mana pun di seluruh dunia. Meyakinkan mitra dan sekutu, melakukan pencegahan, dan menunjukkan kemauan untuk menggunakan kekuatan militer merupakan tindakan yang mereka ‘ingin’ lakukan―belum tentu merupakan tindakan yang mereka ‘harus’ lakukan―terlepas dari prospek tercapai atau tidaknya tujuan strategis dan politik Amerika.

Bagi mereka yang ada di pemerintahan AS yang mendorong reaksi AS, para penasihat yang mendukung AS untuk menahan diri akan sebaliknya menyatakan: Jangan hanya melakukan sesuatu, berdirilah di sana! Tetapi untuk masa yang akan datang, itu akan tetap lebih mudah diucapkan daripada dilakukan untuk seorang presiden Amerika. [MMP]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed