loading...
Home / Nasional / Selain NU, Muhammadiyah dan MUI juga Gunakan Qiyas
loading...

Selain NU, Muhammadiyah dan MUI juga Gunakan Qiyas

Selain NU, Muhammadiyah dan MUI juga Gunakan Qiyas
H Muhammad Ali Azhar – Foto: NU Online

Satu Islam, Jakarta – Salah seorang Mustasyar PCNU Indragiri Hilir, Riau, H Muhammad Ali Azhar dalam desertasinya pada Program Doktoral Universitas Islam Bandung (Unisba) menyoroti metodologi qiyas di tiga organisasi massa (ormas) Islam di Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Baca: Inilah Cara Ahmadiyah Menghadapi Pengkafiran Menurut Desertasi Dr Sodik)

Melansir dari NU Online, desertasi yang diberinya “Metodologi Qiyas Keputusan hukum (fatwa) NU, MUI dan Muhammadiyah”, Azhar menyebutkan apa yang lazim dilakukan alim ulama NU seperti bahtsul masail merujuk kitab-kitab mu’tabarah untuk mengambil keputusan hukum.

Bahkan, lanjut Azhar, di NU juga digunakan metode deduktif dan induktif yang dikembangkan Aristoteles untuk mengurai epistemologi suatu hukum. Contohnya penetapan 1 Syawal, NU menggunakan rukyat dan hisab. (Baca: Studi ‘Antropologi Tobat’ Mantan Ketua NU Jerman Ini Ungkap Insafnya Ekstremis Islam)

“Jadi, pensejajarannya NU kepada Aristoteles dengan metode deduktif dan induktif. Itu salah satu contoh. Itulah yang disebut qiyas sumuli yang dilakukan Imam Syafi’i dan kitab Ar-Risalah,” katanya di Jakarta, 30 Agustus 2016 sebagaimana dilansir dari NU Online.

Terkait metodologi qiyas yang digunakan Muhammadiyah, Azhar mengungkapkan baahwa organisasi tersebut tetap berpegang kepada Majleis Tarjih, tapi Muhammadiyah membuka peluang untuk qiyas dalam penetapan hukumnya.

Namun demikian, Muhammadiyah untuk menggunakan metodologi qiyas itu sampai tiga kali sidang di Majelis Tarjih untuk menetapkannya. Keputusannya, mereka tetap membukan ruang kepada qiyas, bukan kepada bentuk ijtihad yang lain.

Sementara MUI, lanjut laki-laki yang pernah menjadi aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Indragiri Hilir tahun 1987 ini mengatakan, MUI mengambil teknik apa yang dilakukan NU dan apa yang dilakukan Muhammadiyah. MUI berdiri di tengah-tengah kedua organisasi ini.

Ia mengkritik tiga lembaga tersebut yang dinilainya masih ambigu dalam menggunakan metodologi qiyas. Menurut dia, organisasi-organisasi tersebut harus menggagas ulang kembali karena tidak lepas dari pengoperasian qiyas. (Baca: Bisakah Ateisme dan Moral Transenden Bertemu? Mahasiswa Ini Membuktikannya)

“Dalam konsideran fatwa MUI tidak mencantumkan qiyas sebagai metodologi. Begitu juga di NU. NU adalah organisasi penyeru kepada qiyas, tetapi tidak dinyatakan sebagai metodologinya secara jelas. Sementara Muhammadiyah seolah-olah “melarikan diri” dari qiyas, tapi pengoperasian Majelis Tarjih-nya juga menggunakan qiyas,” pungkasnya.

loading...

Check Also

Lelaki Pengancam Kiai Ponpes Al-Falah Meracau Saat Diperiksa

Satu Islam – Pasca pengancaman kepada Kiai dan masayikh pondok pesantren (ponpes) Al- Falah Ploso, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

loading...