oleh

Sebagian Perang adalah Kemestian Logis

Banyak orang membenci perang dan mencintai damai karena menafikan kemestian relasi logis keduanya dengan mindset alasan bahwa perang adalah kekerasan. Mereka dikenal atau mengklaim sebagai aktivis perdamaian dan komunitas anti perang. Sekilas terkesan sangat humanis dan beradab, sedangkan semua pejuang dicampur aduk dengan para teroris dan para penjahat dalam satu kelompok yang dilukiskan sebagai primitif dan barbaris.

Bila kekerasan dibatasi maknanya pada akibat berupa jatuhnya korban dan terjadinya kerusakan, maka ia adalah negatif. Secara efektual, ia bisa dianggap buruk apapun tujuan dan hasilnya. Bila pengertian ini dipilih, maka perjuangan demi meraih kemerdekaan dan represi demi penegakan hukum adalah negatif. Bila dianggap negatif, maka ia ditiadakan. Bila ditiadakan, justru penjajahan, penindasan dan kejahatan terjadi. Dengan kata lain, anti perang secara ekstrem adalah justifikasi penindasan, penjajahan dan kejahatan sekaligus penolakan terhadap supremasi norma dan hukum.

Bila kekerasan dipahami secara luas dan maknanya mencakup tujuan dan sebab, maka ia bisa negatif jika tak selaras dengan keadilan dan positif jika tunduk kepada nilai keadilan.

Bila dipahami sebagai pengertian tentang konfrontasi dua pihak, perang adalah bebas nilai. Bila dipahami sebagai pengertian tentang agresi sebuah pihak atas pihak lain, perang adalah negatif. Bila dipahami sebagai pengertian tentang perlawanan terhadap pihak penindas, perang bernilai positif.

Perdamaian (baca : kedamaian) dan perlawanan bukanlah dua hal yang bertentangan. Ketika kedamaian dirampas, ia harus direbut. Ketika usaha untuk merebut kedamaian dihalangi, perlawanan dilakukan. Dengan kata lain, Perdamaian adalah tujuan mulia, dan perlawanan terhadap kekuatan anti perdamaian adalah cara mulia.

Tanah Air yang kita huni dan nikmati saat ini adalah buah perlawanan dan perang. Sikap tegas Pemerintah dan kesiapannya untuk mempertahankan wilayah darat, air dan udara dari agresi dan upaya perampasan adalah perlawanan yang tak hanya baik namun harus.

Sama dengan Indonesia tercinta, Iran, setelah bersabar dengan mematuhi semua peraturan diskriminatif, melakukan perlawanan terhadap akumulasi kekuatan negatif berupa penindasan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan militer yang dilakukan oleh AS bersama sekutunya di Eropa dan Timteng demi mempertahankan kedaulatannya.

Dr. Muhsin Labib

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed