oleh

Sayyid Ali Sistani Desak Semua Pihak di Irak Tahan Diri

Ulama Syiah terkemuka di Irak, Grand Ayatollah Ali al-Sistani mendesak pasukan keamanan dan pengunjuk rasa di Irak untuk menghindari kekerasan. Dia menyatakan kesedihan dengan banyaknya korban dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara tetangga Iran itu.

“Sangat menyedihkan ada begitu banyak kematian, korban dan kehancuran dari bentrokan antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan dalam beberapa hari terakhir,” kata Sistani dalam surat yang dibacakan oleh perwakilannya di Karbala.

Dalam suratnya, seperti dilansir PressTV pada Sabtu (5/10/2019), Sistani mendesak semua pihak untuk menghindari kekerasan.

Sistani, dalam suratnya juga mengkritik pejabat dan pihak politik karena gagal menjawab tuntutan rakyat untuk memerangi korupsi, mendesak mereka untuk mengindahkan tuntutan para pemrotes sebelum terlambat.

“Anggota parlemen memegang tanggung jawab terbesar untuk apa yang terjadi,” ungkapnya.

Sebelumnya, Komisi HAM Parlemen Irak menuturkan bahwa jumlah korban tewas akibat demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara itu menembus angka 70 orang. Komisi itu juga mengatakan bahwa lebih dari 3.000 orang juga terluka akibat demonstrasi itu.

Sementara itu, Moqtada al-Sadr, menyerukan agar pemerintahan Perdana Menteri Adil Abdul-Mahdi mengundurkan diri. Dia mengatakan, pemilihan baru harus segera diadakan.

Ada banyak bukti bahwa apa yang terjadi di Irak adalah “konspirasi terencana”. Ada beberapa alasan untuk ini.

Pertama, gambar-gambar demonstrasi rakyat Irak yang beredar di media sosial, selain tidak benar juga sepenuhnya mencurigakan. Sebagian foto menunjukkan tulisan-tulisan yang dipegang beberapa demonstran menuliskan slogan-slogan menentang marjiyah syiah. Pada saat yang sama, ada juga yang bertuliskan slogan-slogan tentang seruan rakyat untuk menggulingkan pemerintah.

Bertentangan dengan slogan-slogan itu, rakyat Irak sepenuhnya percaya pada marjiyah Syiah dan peran konstruktif mereka di negara itu, dimana contoh nyatanya bagaimana rakyat Irak menyambut fatwa yang dikeluarkan Ayatullah Sistani pada tahun 2014 untuk memobilisasi warga bangkit memerangi terorisme Daesh (ISIS). Di sisi lain, pemerintah di Irak diangkat dan dibentuk dari kotak suara dan rakyatnya memilih kelompok-kelompok Syiah untuk membentuk pemerintahan.

Kedua, demonstrasi di Irak bertepatan dengan dimulainya pawai akbar Arbain rakyat Irak. Tampaknya demonstrasi ini telah menargetkan pawai akbar Arbain. Tujuannya adalah untuk mencegah pawai akbar ini diselenggarakan secara luas di Irak, di satu sisi, dan untuk mencegah orang-orang dari negara lain, terutama Iran, datang ke Irak demi menghadiri Arbai Imam Husein. Itulah mengapa salah satu alasan ada slogan-slogan anti-Iran dalam demonstrasi di beberapa kota Irak.

Ketiga, demonstrasi di Irak bertepatan dengan bagaimana Yaman menunjukkan kekuatannya melawan Arab Saudi serta kebuntuan politik di wilayah pendudukan untuk membentuk kabinet Zionis Israel. Irak adalah salah satu negara di Asia Barat yang memiliki kebijakan luar negeri independen serta menentang perang Arab Saudi terhadap Yaman dan normalisasi hubungan Arab dengan rezim Zionis. Di sisi lain,Organisasi Mobilisasi Rakyat Irak “Hashad Shaabi” memiliki hubungan dekat dengan Republik Islam Iran. Untuk alasan ini, Irak telah menjadi sasaran bagi terbentuknya aksi-aksi demo dan kekerasan yang sengaja dilakukan oleh poros Arab, Zionis dan Barat.

Qais Khazali, Sekjen Gerakan Asa’ib Ahl al-Haq pada bulan Agustus lalu mengatakan, “Beberapa arus politik internal Irak mengadakan demonstrasi dengan kekuatan asing karena mereka tidak senang dengan kebijakan luar negeri Irak. Masalahnya ada di “Kesepakatan Abad”. Mereka ingin negara ini mematuhi kesepakatan tersebut… Jadi kita akan melihat demonstrasi lagi di Irak. Demonstrasi-demonstrasi ini dijadwalkan dimulai pada bulan kesepuluh (Oktober).”

Keempat, demonstrasi di Irak bertepatan dengan pengumuman hasil penyelidikan pemerintah Irak terhadap pengeboman terhadap barak Hashad Shaabi dan penekanan Perdana Menteri Irak Adel Abdul-Mahdi pada peran langsung rezim Zionis dalam insiden tersebut. Sementara itu, dalam demonstrasi yang sedang berlangsung di Irak, salah satu isu utama yang digembar-gemborkan media Barat dan Arab adalah laporan yang menyebutkan bagaimana  “Hashad Shaabi” menindak para demonstran dan melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat. Pola perilaku media Barat dan Arab ini juga menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Irak adalah “konspirasi terencana” yang bertujuan melemahkan pasukan keamanan dan militer Irak, terutama Hashad Shaabi.

Kelima, aksi-aksi demo di Irak didukung oleh beberapa elemen rezim Ba’ath. Ketika demonstrasi dimulai, Raghad Saddam, putri diktator Irak yang dihukum mati, dalam tweetnya mendukung demonstrasi dan menyebut mereka “generasi Qadisiyah” serta menulis, “Seluruh Irak bersama Anda” dan “Tuhan memberkati para martir kita”.”

Kenyataannya adalah bahwa masalah ekonomi dan korupsi di Irak tidak dapat disangkal, tetapi kekerasan yang terjadi selama protes baru-baru ini dan gaya liputan terhadap demonstrasi oleh media Barat dan Arab menunjukkan bahwa rakyat Irak harus waspada dalam menghadapi konspirasi yang direncanakan oleh beberapa kelompok asing dan beberapa negara. [PT]

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed