oleh

Saudi Lanjutkan Penangkapan Ulama

Polisi kerajaan Arab Saudi

Satu Islam, Royadh – Pasukan keamanan kerajaan Arab Saudi dilaporkan telah menangkap setidaknya 20 orang yang aktif menentang monarki absolut di kerajaan Teluk Persia itu dalam 24 jam terakhir.

Menurut beberapa sumber dan tweet tak dikenal, yang ditangkap akademisi, penulis, wartawan, pengamat dan ulama. Penangkapan terhadap ulama ini dalam upaya perburuan terhadap para ulama yang kritis terhadap penguasa kerajaan konservatif tersebut. Padahal, ulama di Saudi selama ini menjadi pilar kekuasaan kerjaan monarki itu.

Koran Online Al-Araby Al-Jadid melaporkan, penangkapan tersebut dilakukan di tengah laporan bahwa Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud berencana untuk meninggalkan kekuasaan dan mengangkat putranya Mohammed bin Salman menjadi Raja berikutnya.

Organisasi Al-Qisth, lembaga pendukung HAM di Saudi menyatakan, di antara yang ditangkap pengamat ekonomi sekaligus penulis Isham Az-Zamil, cendekiawan sekaligus peneliti Islam Abdullah Al-Maliki dan Dr Hamud Al-Umry, peneliti Islam Walid Al-Huwayrini dan Dr Musthafa Al-Hasan, penyiar berita TV Al-Mujid Fahd Al-Sanidi, juru dakwah Garda Nasional Saudi Gharm Al-Baisyi, akademisi Khalid Al-Mahawish, Dr Muhammad Al-Habdan, Dr Muhammad Al-Khudhairi, Dr Abdul Al-Muhsin Al-Ahmad, Ibrahim Al-Haritsi, Muhammad Asy-Syannar, Ali Badahdah dan Adil Ban’am. Total yang ditangkap saat ini diperkirakan mencapai 50 orang.

Isham Az-Zamil merupakan penasihat ekonomi pemerintah Saudi. Beberapa kali ia mewakili Kerajaan dalam konferensi-konferensi ekonomi tingkat internasional.

Pihak berwenang Saudi juga menangkap Dr Khalid Al-Audah, saudara kandung Syaikh Salman Al-Audah. Ia ditangkap karena dituduh mengkritik penangkapan saudaranya pada Ahad lalu. Syaikh Salman Al-Audah ditangkap bersama puluhan dai dan aktivis lainnya, di antaranya Syaikh Awad Al-Qarni, Ali Al-Umary, Yusuf Al-Ahmad dan Hasan Farhan Al-Maliki.

Sheikh Salman Al-Audah, yang sempat dipenjara selama lima tahun dari 1994 sampai 1999 karena memperjuangkan perubahan politik dan kini mempunyai 14 juta pengikut di Twitter, diduga telah ditahan sejak akhir pekan lalu.

Dalam satu postingan terakhir di Twitter, dia menyambut baik berita pada Jumat yang mengindikasikan pertengkaran tiga bulan antara Qatar dengan sejumlah negara Teluk telah berhasil diselesaikan.

“Semoga Tuhan mendamaikan hati mereka demi kebaikan ummat,” tulis Audah dalam akun resmi Twitternya setelah muncul berita percakapan telepon antara Emir Qatar, Tamim bin Hamad al-Thani, dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.

Keduanya dikabarkan mendiskusikan bagaimana menyelesaikan persoalan diplomatis yang telah dimulai pada Juni lalu.

Namun harapan akan penyelesaian ketegangan itu hanya bertahan sesaat, setelah Arab Saudi membatalkan semua dialog dengan Qatar, dan menuduh negara tersebut telah “mendistorsi sejumlah fakta.”

Arab Saudi, bersama Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, menuding Qatar mendukung kelompok ekstrimis Islam. Tudingan itu dibantah oleh Doha.

Sebagaimana Audah, Qarni juga menyuarakan dukungan untuk rekonsiliasi antara negara-negara Arab dengan Qatar. Otoritas Saudi hingga kini belum berkomentar terhadap laporan penangkapan dua ulama tersebut.

Para aktivis oposisi yang diasingkan Saudi telah menyerukan demonstrasi pada 15 September dalam upaya untuk menggalang oposisi terhadap keluarga kerajaan.

Sejak berdirinya Arab Saudi sebagai monarki absolut pada tahun 1932, sistem ini telah dikenal secara efektif sebagai sebuah kediktatoran dan kerajaan turun temurun yang sebenarnya ditopang oleh ulama Wahabi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed