oleh

Rusia Tuduh AS Curi Minyak Suriah untuk Danai Kelompok Teroris

Seorang pejabat senior militer Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) mencuri minyak dari wilayah-wilayah Suriah yang dikuasai sekutu pemberontak, dan menggunakan pendapatan itu untuk menyabotase pemerintah negara yang dilanda perang itu.

Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi—Kepala Direktorat Operasi Utama staf umum militer Rusia—mengatakan kepada para wartawan pada Senin (29/7), bahwa AS telah mengerahkan sekitar 2.700 “militan” di zona dekonflik 34 mil, di dekat perbatasan tenggara perbatasan Al -Tanf.

Dia mengatakan bahwa para militan ini —termasuk militan dari Maghawir al-Thawra dan Army of Free Tribes— dipindahkan dari Al-Tanf menggunakan helikopter Angkatan Udara AS untuk melakukan “sabotase, penghancuran infrastruktur minyak dan gas, dan melakukan serangan teroris terhadap pasukan pemerintah “di berbagai wilayah seperti Al-Sweida, Palmyra, dan Al-Bukamal.

“Selain melatih para militan, struktur-struktur AS di Suriah juga terlibat dalam penjarahan fasilitas dan simpanan minyak di wilayah di sepanjang Sungai Eufrat yang menjadi milik pemerintah Suriah yang sah.” Belakangan ini, perusahaan-perusahaan militer swasta AS telah diamati secara aktif memperkuat personel mereka. “Saat ini, tentara bayaran dari perusahaan militer swasta di Suriah melebihi 3.500 orang,” klaim Rudskoi.

Dia berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan ini telah “mengorganisasi produksi dan penjualan minyak Suriah dari ladang minyak Conaco, Al-Omar, dan Tanak, yang terletak di sebelah timur Sungai Eufrat”, sebagai bagian dari “skema kriminal” untuk “menjarah kekayaan nasional Suriah.” Banyak dari hasil pendapatan ini disebut-sebut “dihabiskan untuk memelihara kelompok-kelompok bersenjata ilegal, menyuap para sheikh dari serikat suku Arab, dan mengobarkan sentimen anti-pemerintah.”

AS telah lama dituduh melakukan intervensi luar negeri untuk mendukung kepentingan minyak, terutama sejak invasi Irak tahun 2003 yang menggulingkan Presiden Irak Saddam Hussein.

Terlepas dari AS yang semakin mandiri di bidang energi, tuduhan semacam itu juga melingkupi peran AS dalam intervensi NATO yang menggulingkan pemimpin lama Libya Muammar el-Qaddafi pada tahun 2011, serta upaya berkelanjutan Presiden AS Donald Trump untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan mengisolasi Iran melalui sanksi.

Di tengah perang sipil Suriah, AS dan Rusia melakukan intervensi, dan meskipun mereka berdua sama-sama menargetkan kelompok militan ISIS, namun mereka melakukannya sebagai bagian dari koalisi berlawanan yang mendukung tujuan yang saling bertentangan.

Washington—yang merupakan sponsor utama kelompok oposisi yang berusaha menggulingkan Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak tahun 2011—secara resmi menyejajarkan diri dengan kelompok yang kebanyakan orang Kurdi yang dikenal sebagai Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pada tahun 2015, sekitar waktu yang sama ketika Moskow bergabung dalam perjuangan untuk mendukung Assad melawan berbagai pemberontak dan jihadis yang ingin menggulingkannya.

Pada tahun-tahun sejak itu, kedua belah pihak telah berhasil mengalahkan ISIS, tetapi telah menuduh satu sama lain membuat situasi di Suriah lebih buruk dengan melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Rusia juga menuduh AS aktif mendukung beberapa kelompok militan untuk mencegah pemerintah Suriah memulihkan stabilitas di bagian-bagian negara itu, dan mempertahankan kendali atas sumber daya alam yang dulu dipegang ISIS.

Rudskoi mengklaim pada Senin (29/7) bahwa dugaan operasi perusahaan militer AS di Suriah “dilakukan dengan kedok penerbangan koalisi antiteroris internasional” dan “mewakili bisnis penyelundupan yang diambil oleh Amerika dari ISIS.”

Dia mengatakan bahwa “berlanjutnya pasokan senjata dan peralatan militer oleh Amerika Serikat ke tepi timur Sungai Eufrat juga menyebabkan kekhawatiran yang cukup besar”, karena “sebagai imbalan atas bantuan dalam penyelundupan minyak, Amerika Serikat ‘menyokong’ baik pasukan Kurdi maupun Arab dengan senjata, dan mereka kemudian menggunakannya untuk melawan satu sama lain.”

Rudskoi memperingatkan bahwa ini “hanya memperburuk situasi di wilayah yang dilanda perang”, di mana beberapa ketegangan telah meningkat antara administrasi Kurdi yang didukung AS dengan penduduk mayoritas Arab.

Para pejabat Washington telah berulang kali menyatakan bahwa mereka ingin menghormati integritas wilayah Suriah, tetapi Assad—yang industri perminyakannya dijatuhi sanksi oleh AS dan sekutunya atas tuduhan kejahatan perang—telah memperingatkan bahwa ia akan merebut kembali wilayah yang dikuasai Pasukan Demokratik Suriah dengan kekerasan jika wilayah itu tidak diserahkan melalui dialog.

Meskipun Pasukan Demokratik Suriah mengumumkan kemenangan melawan ISIS pada bulan Maret, namun Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan kepada Fox News Channel pekan lalu, bahwa masih ada “segelintir” jihadis yang tersisa di Suriah, dan beberapa “bergerak di Irak” juga. Pemerintah Suriah menyatakan kemenangan melawan ISIS pada November, dan mitranya dari Irak melakukannya pada bulan berikutnya, meskipun serangan sporadis terus berlanjut di kedua negara.

Pentagon juga terus melakukan serangan udara di Suriah dan Irak, meskipun AS semakin khawatir terhadap pengaruh Iran, yang mendukung pemerintah kedua negara dalam perang mereka melawan ISIS. Teheran mendukung Damaskus dan Baghdad sebagian besar melalui milisi Muslim Syiah regional yang Washington pandang sebagai proksi Iran.

Sebagai sesama pendukung Assad, Rusia telah mendukung kehadiran Iran di Suriah, meskipun ia mengatakan bahwa semua pasukan asing akhirnya harus meninggalkan negara itu. Beberapa bentrokan telah terjadi antara koalisi pimpinan AS dan kelompok-kelompok pemerintah pro-Suriah yang terkait dengan Iran dan Rusia, termasuk pertempuran pada Februari lalu di dekat ladang minyak dan gas Sungai Eufrat, yang mencapai apa yang kemudian diklaim oleh Pompeo menyebabkan “dua ratus korban di antara orang Rusia yang diyakini bekerja untuk perusahaan militer swasta Wagner.”

Sekutu AS dan Kurdi juga menghadapi kesulitan dalam berurusan dengan Turki—sesama anggota aliansi militer Barat NATO. Ankara menganggap beberapa pejuang separatis Kurdi di Pasukan Demokratik Suriah sebagai organisasi teroris dan telah berusaha untuk membangun “zona aman”, di mana Washington memungkinkan kelompok-kelompok pemberontak Suriah bersekutu dengan Turki untuk menggantikan administrasi Kurdi, tetapi belum ada kesepakatan yang tercapai, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu pada Rabu (24/7) memperingatkan potensi operasi lintas batas baru di sebelah timur Eufrat.

Ketegangan internasional di Suriah juga terjadi di barat laut, di mana perjanjian Turki dengan Rusia sejauh ini gagal untuk mengekang kehadiran kelompok-kelompok militan di provinsi Idlib yang didominasi jihadis, tempat terjadinya kekerasan baru-baru ini antara pasukan pro-pemerintah dan anti-pemerintah.

Menanggapi pemindahan apa yang diperkirakan sebagai “setidaknya 500 teroris dari Hayat Tahrir al-Sham”—sebuah koalisi yang berafiliasi dengan Al-Qaeda—Rudskoi memberitahu pada Senin (29/7) bahwa “persiapan sedang dilakukan untuk operasi ofensif” di Idlib dan wilayah sekitarnya.

Oleh: Tom O’Connor (Newsweek)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed