oleh

Purifikasi Agama

20110205_stp003Oleh : Muhammad Makmun Rasyid*

Dalam beberapa hari ini, kita disuguhkan sebuah isu lama yang diadopsi oleh gerakan transnasioal yakni pemurnian agama. Isu ini semakin dipertajam dengan munculnya sebuah manifesto sebuah partai politik, yaitu “menjamin kemurnian ajaran agama” pada bidang agama.

Purifikasi adalah serapan dari bahasa Inggris purification yang berarti pembersihan, penyaringan dan pemurnian. Tujuan dari adanya purifikasi yaitu mengembalikan kondisi kehidupan keagamaan seperti pada masa awal Islam, masa Rasulullah dan Khulafa al-Rasyidin. Dengan demikian perbedaan kata purifikasi dengan tajdid terlihat jelas.

Gerakan pemurnian agama (Islam) dengan sendirinya mencakup makna pemberantasan hal-hal yang dindikasi bid’ah, akibat dari perbuatan bid’ah yaitu menghilangkan keaslian ajaran agama yang suci. Tetapi sampai abad modern ini, kecenderungan seseorang menganggap sebuah perkara itu baru dengan menggunakan kaca mata mereka sendiri.

Logika yang terbangun adalah masing-masing kelompok menganggap suci dan bersih dari penyimpangan-penyimpangan ritual yang dianggap asing. Visi-misi gerakan ini mengambil wacana yang keras. Di dalam Islam, gerakan pemurnian dinisbatkan kepada Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arab. Salah satu gerakannya adalah menghancurkan makam-makam. Gerakan ini merujuk kepada sebuah sosok inspirator Ibn Taimiyah. Watak dan orientasi keagamaan yang puritan-konservatif biasanya juga dikaitkan dengan Salafiyah yang mereka mengidentifikasikan pemikiran mereka seperti pemikiran para salaf al-Shalih.

Ada empat pokok yang dianggap Ibn Taimiyah – di dalam kitabnya al-Jawab al-Shahih Li Man Baddala Dien al-Masih – dapat mengganggu eksistensi ajaran agama Islam yaitu Filsafat, Sufisme, Syiah dan agama Kristen. Filsafat dianggap infiltrasi Yunani; Tasawuf atau tarekat infiltrasi Hindu; Syiah infiltrasi Persia dan agama Kristen adalah agama yang tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Isa al-Masih sebelumnya.

Melihat visi pemurnian yang diajukan oleh Ibn Taimiyah di atas, tentunya akan membuat eksistensi NKRI akan menjadi tidak kondusif.

Negara Indonesia merupakan negara yang memberikan kebebasan beragama kepada segenap penduduknya, intervensi negara hanya terbatas kepada aspek administratif. Ketaatan seseorang kepada Tuhannya dengan menjalankan pelbagai ritual kegamaan yang dipercayainya harus melalui pintu kebebasan, disinilah makna dari “tidak ada paksaan”.

Pemurnian agama tentunya melanggar pasal 29 ayat 2 UUD 1945 tentang kebebasan beragama. Jika demikian, maka intoleransi akan terjadi semakin banyak, sedangkan Indonesia membutuhkan segera mungkin solusi dalam mengatasi konflik-konflik yang mengatasnamakan agama. Wilayah agama merupakan wilayah seseorang dengan Tuhannya, karenanya negara tidak boleh mengambil porsi lebih dalam mengintervensi rakyat pada bidang ideologi atau keyakinan.

Ajaran Islam yang rahmatan lil alamin merupakan sebuah keniscayaan. Pada awal-awal ajaran Islam datang Walisongo membawa ajaran agama Islam tidak terpatok hanya pada bidang akidah semata, itu dilakukan dengan pendekatan kultural, guna menyesuaikan dengan budaya setempat. Walisongo selalu mengislamkan orang non-muslim sedangkan gerakan puritan-konservatif ini mengkafirkan orang yang sudah Islam.

Indikasi diatas tentunya mengkhawatirkan masyarakat dan dapat membahayakan negara Indonesia kedepannya. Islam bukan ajaran yang keras, gerang dan kasar dalam membawa ideologinya, tetapi tidak sedikit kita melihat akhir-akhir ini peristiwa-peristiwa dilatarbelakangi perbedaan keyakinan dapat menjadi sebuah konflik yang tidak ada akhirnya.

Penulis ingin mengingatkan khalayak kepada sejarah masa lalu dalam Gerakan purifikasi sekitar abad 18 di Sumatra Barat. Gerakan yang dimotori Haji Miskin dengan membawa gagasan Wahabi, gerakan itu melahirkan luka sejarah pada Gerakan Padri di Minangkabau (1821-1837) dan rentetan sejarah purifikasi ajaran agama.

Sejarah ‘gelap’ dan ‘membuat malu umat Islam tersebut tentunya tidak patut kita ulangi lagi, gerakan mereka ini sangat pintar memasuki ideolginya kepada para pejabat dan dengan perlahan-lahan mengambil alih kekuasaan tersebut. Karenanya penulis tergelitik mendengar gencarnya isu ini.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, pernyataan Ibn Hazm bahwa urusan hati adalah urusan Tuhan dan manusia atau pejabat tidak perlu mengintervensinya. Oleh karena itu hati-hatilah terhadap gerakan pemurnian agama. Wallahu alam bi al-Shawab.

)* Mahasiswa STKQ Al-Hikam. Penulis dapat ditemui di twitter @RSTKQ

Editor : Hamid

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed