oleh

PROFESIONAL CINGKRANG

Kenapa banyak orang yang terdidik secara sekular beragama secara jumud? Bukankah sains harusnya melahirkan keberagamaan rasional?.

Kenapa justru Perguruan tinggi-perguruan tinggi “sekular” menjadi lahan subur pandangan-pandangan keagamaan intoleran dan gerakan-gerakan ekstrem?.

Sekularisme memisahkan agama dari sains dan logika. Agama diposisikan sebagai iman tanpa logika, lazim disebut faith.

Wahabisme yang berakar secara teologis historis dari Ahlulhadits & Salafisme menegaskan perceraian logika dari agama.

Sekularisme (Deisme) yang menolak agama dan Skripturalisme (Wahabisme) yang menolak sains adalah 2 polar ekstrem.

Meski sama-sama ekstrem, sekularisme (deisme) dan skripturalisme (wahabisme) bisa mnciptakan sintesa unik: saintis salafi.

Perselingkuhan deisme-wahabisme merupakan konsekuensi niscaya karena keduanya menciptakan manusia berkepribadian ganda.

Akibat Affair positivisme dengan skripturalisme, kampus-kampus sekular itu jadi sentra-sentra calon-calon profesional dan relijius salafi.

Lulusan-lulusan mereka menyebar ke instansi-instansi; PTN-PTN, kementerian-kementrian, BUMN-BUMN, perusahaan-perusahaan swasta asing dan lokal, termasuk industri media.

Semula murabbi (pengkader)nya menyembunyikannya via jaringan sel dan dengan menguasai LDK di PTN-PTN untuk rekrut, liqo, dst.

Sekilas terlihat seperti fenomena gairah keberagamaan biasa. Namun itu adalah duplikasi gerakan ekstrem produk luar.

Tragisnya, di negara tempat kelahirannya gerakan pemikiran dan politik ini hancur berkeping-keping setelah sempat berkuasa sebentar.

Meniru pusatnya, gerakan yang semula hanya bersifat diskursif ini melakukan transformasi dari silent ke terbuka.

Akselerasi terjadi dari keagamaan ke politik, dari doktrin kepemimpinan transnasional, simsalabim menyebut NKR.

Meski begitu, ideologi “daulah” tetap dirawat di dalamnya. Tidak semua pelopor gerakan ini menerima transformasi ini.

Terbentuklah 2 macam gerakan ekstremisme; formal yang dituding luntur militansi; informal yang konsisten dengan pola silent

Gerakan informal karena terlewat dari perhatian, leluasa menyebar dan mulai menetaskan sub-sub kelompok dengan ragam pola dan agenda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed