oleh

Pilpres 2014 Dianggap Terbaik di Era Reformasi

10500461_739228996123622_8684075526421967342_n
Ilustrasi pasien di rumah sakit menggunakan hak pilih (JIBI/Harian Jogja/Solopos/dok)

Satu Islam, Jakarta – Pengamat politik Yudi Latief mengapresiasi penyelenggaraan Pemilu Presiden 2014 yang dinilainya sudah berjalan baik dan damai. Bahkan, Yudi menyebut, penyelenggaraan pilpres kali ini adalah yang terbaik sepanjang pesta demokrasi pada era reformasi.

Menurut Yudi, penilaian itu disampaikan setelah melihat sejumlah catatan positif penyelenggaraan pemilu tahun ini, antara lain tak ada gesekan di antara kedua kubu, meski situasi menjelang pilpres memanas.

“Inilah pilpres yang paling damai, sangat damai. Ada kericuhan, tetapi tak besar dan dapat diatasi,” kata Yudi, dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, Jum’at 11 Juli 2014.

Lebih jauh masyarakat pemilih dalam pilpres tahun ini juga terlihat lebih siap mengikuti pesta demokrasi. Ia mencatat ada peningkatan partisipasi pemilih yang sangat signifikan.

“Antusiasme pemilih juga begitu bagus, sampai ada yang sengit berdebat, tetapi tetap damai,” ujarnya.

Meski demikian, Yudi menyayangkan sikap sejumlah elite politik yang justru menodai suksesnya Pilpres 2014. Setidaknya ada tiga hal yang dianggapnya menjadi noda, yakni elite politik yang memprovokasi, adanya kepala daerah yang menjadi tim sukses, serta penyalahgunaan intelektualitas melalui penyajian hasil survei dan hitung cepat yang menyesatkan.

Ketua DPR Marzuki Alie minta kepada media massa terutama televisi, para pengamat dan lembaga survei untuk benar-benar memikirkan Indonesia sebelum menyiarkan atau mengeluarkan pernyataan yang bisa memecah belah bangsa.

Tahapan pemilu, menurut dia dalam pernyataan yang disampaikan Minggu, adalah proses mencari pemimpin yang sudah memiliki aturan tersendiri dan telah disepakati oleh bangsa ini.

Kalau memang ragu ada kecurangan, menurut Marzuki, masingmasing pihak bisa mengawal proses pemilu dari bawah dan tidak perlu ancam mengancam dengan mengeluarkan pernyataan berlebihan bahwa kalau kalau kalah pasti ada pihak yang curang bermain dengan KPU.

Laporkan

Sementara itu, komisioner KPU Hadar Gumay menyatakan, masyarakat harus proaktif melaporkan temuan kejanggalan dalam proses rekapitulasi suara.

“Silakan dilaporkan ke kami. Bisa di KPUD, bisa ke sini (KPU pusat),” katanya.

Hadar menyesalkan, adanya tudingan yang menyebut KPU melakukan kecurangan karena kejanggalan form C1 itu. Menurutnya form C1 janggal bisa terjadi karena kesalahan input.

Ia menegaskan, form C1 yang janggal akan dikoreksi di tingkat selanjutnya. Masyarakat juga bisa mengikuti hasil koreksinya di website KPU.

Saat ini sudah ditemukan sejumlah form C1 yang janggal. Ada yang jumlah suara sah tidak sesuai, ada yang perolehan suara kedua calon tidak tercantum, maupun tidak adanya tanda tangan saksi.

Data hasil C1 yang dikirimkan dari kabupaten/kota ini merupakan hasil yang telah diplenokan pada tingkatannya dan bukan merupakan hasil final tingkat nasional karena data tersebut dapat berubah sesuai dengan hasil rapat pleno pada tingkat di atasnya atau pada rapat pleno tingkat pusat.

Untuk diketahui, scan C1 yang berformat Jpg itu diperoleh dari seluruh TPS di Indonesia yang dikirimkan oleh kabupaten/kota kepada KPU RI. KPU RI lalu memublikasikannya melalui http://pilpres2014.kpu.go.id/c1.php

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed