oleh

Pembunuhan Demi Pembunuhan Bidik Minoritas Bangladesh

Oleh : Bonardo Maulana Wahono

Pembunuhan demi pembunuhan bidik minoritas Bangladesh
Lebih 20 orang, termasuk akademisi seperti profesor universitas di atas, dibunuh di Bangladesh.

Satu Islam – Kaum minoritas agama, aktivis liberal, dan cerdik-pandai di Bangladesh tengah terkurung ancaman. Pasalnya, sejak awal bulan lalu, sejumlah pembunuhan terjadi pada kelompok orang termaksud. (Baca: Keluar dari Islam, Pria Bangladesh Dibunuh Militan)

Insiden terbaru menimpa seorang pemuka sufisme di daerah Rajshahi, barat laut Bangladesh. Mohammad Shahidullah, 65 tahun, sang korban, ditemukan tewas dengan leher tergorok di tengah perkebunan mangga pada Sabtu 7 Mei 2016 waktu setempat.

Menurut keterangan polisi di wilayah itu, penemuan jenazah Shahidullah terjadi setelah sang imam dikabarkan hilang sejak meninggalkan rumah pada Jumat pagi 6 Mei 2016. Ditulis CNN, kala diwartakan hilang ia usai berhimpun dengan para muridnya.

Hingga kini, pihak berwenang belum mengetahui identitas pelaku. Namun, menjejaki kasus-kasus pembunuhan sebelumnya, kecurigaan terbesar terarah kepada kelompok penganjur Islam garis keras di distrik tersebut. “Ia bukan sufi terkenal. Tapi, ada kemungkinan bahwa ia dibunuh oleh (kelompok) Islamis,” ujar kepala kepolisian Rajshahi Nisharul Arif kepada AFP (h/t Times of India ).

Sufisme memiliki banyak pengikut di pedesaan Bangladesh. Namun, bagi mayoritas Sunni di negeri itu, ajaran tersebut dipandang melenceng. Di antara kelompok penentangnya adalah kaum Salafi dan Wahhabi yang kian menunjukkan dominasi.

Dilansir Vice News, seorang penjahit beragama Hindu tewas dibacok saat tengah duduk-duduk di depan kiosnya di kota Tangail. Dalam perkara itu, ISIS mengajukan klaim sebagai pelaku. Ditengarai, pembunuhan terjadi karena Nikhil Chandra Joarder, sang penjahit, disangka telah menghina Nabi Muhammad SAW.

Jauh sebelum kasus itu merebak, seorang pembela hak-hak gay sekaligus penyunting satu-satunya majalah LGBT di Bangladesh tewas ditetak. Seorang kawannya, yang sedang berada di apartemen korban, juga menjadi sasaran pembunuhan. Seorang dosen bahasa Inggris pun menjadi korban pembacokan dalam perjalanan ke kampus untuk mengajar. Kejahatan terhadapnya terjadi karena diduga ia mengaku sebagai ateis.

Pada dua kasus pembunuhan itu, ISIS mengaku bertanggung jawab. Namun, pihak berwenang menyangkal keberadaan aktif pengikut ISIS di negeri itu. (Baca: Tokoh Islam Garis Keras Bangladesh Digantung)

Masih dari Vice News, delapan pria Bangladesh diringkus di Singapura karena berencana melancarkan serangan di kampung halamannya. Mereka dicurigai telah membentuk unit garis keras. Dalam upayanya, propaganda dan video dengan bermuatan negatif turut disebarkan.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Singapura, para tercokok menyebut diri Negara Islam Bangladesh. Mereka menciptakan struktur dengan pelbagai pos seperti ketua, wakil ketua, serta para penyelia urusan keuangan. Gerombolan itu dilaporkan telah menentukan target serangan di Bangladesh.

Laman BBC menyiarkan bantahan pemerintah Bangladesh yang mengaku telah melakukan banyak cara untuk menghentikan pembunuhan. (Baca: Bangladesh Akan Cabut Status Islam sebagai Agama Resmi)

Sumber: Beritagar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

3 comments

News Feed