oleh

Pangeran Talal bin Abdulaziz: Raja Salman Tidak mampu Memimpin

Pangeran Talal bin Abdul Aziz : Saudara Raja Salman (Dok : Al Alaam)
Pangeran Talal bin Abdul Aziz : Saudara Raja Salman (Dok : Al Alaam)

Satu Islam,Riyadh – Talal bin Abdulaziz, saudara Raja Salman, memperingatkan adanya kesenjangan dalam keluarga Al Saud, dan menggarisbawahi bahwa saudaranya tidak mampu memerintah kerajaan Arab.

“Perbedaan telah muncul dalam lingkaran kekuasaan Saudi dan Pangeran Talal telah memperingatkan akan munculnya kesenjangan dengan mengatakan bahwa Raja Salman tidak mampu mengelola negara,” sebuah sumber yang dekat dengan Pangeran Talal mengatakan kepada TV berbahasa Arab, Al Manar.

Sumber itu mengatakan Pangeran Talal percaya bahwa “Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman dan Pangeran Mohammad bin Nayef mempengaruhi keputusan Raja Salman dengan cara yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Abdullah bin Abdulaziz (Raja Saudi sebelumnya), mematuhi apa pun perintah kepala intelijen Saudi , Pangeran bin Bandar, dan Menteri Luar Negeri Saudi, al-Faisal”. ujarnya.

Pada akhir Januari, Raja Arab Saudi Abdullah meninggal dan saudaranya Salman menjadi raja, dua bulan setelah memerintah kemudian memerintahkan agresi Saudi terhadap Yaman.

Pada akhir Januari, Raja Arab Saudi Abdullah meninggal dan saudaranya Salman kemudian menggantikannya. dua bulan setelah ia menjabat, Raja Salman memerintahkan agresi Saudi terhadap Yaman.

Sumber-sumber lain juga telah mengungkapkan awal bulan ini bahwa kesenjangan telah melebar di antara anggota keluarga penguasa Al Saud sebagai akibat dari invasi mereka atas Yaman.

“Perbedaan semakin meruncing di dinasti Al Saud selama serangan udara Arab yang dilancarkan Saudi kepada Yaman,” anggota Senior gerakan Ansarullah, Hossein Al-Ezzi berkata kepada FNA.

Al-Ezzi mencatat bahwa beberapa daerah dari Arab Saudi telah berubah mejadi mencekam dan kacau sejak awal agresi Saudi ke Yaman,

“kondisi tidak aman ini semakin meningkat dan menyebabkan kekhawatiran beberapa penguasa Arab bahwa perang di Yaman mampu menyebabkan kekacauan dalam negeri.” ujarnya.

Dia juga berpendapat bahwa ada kesenjangan yang tercipta juga di antara anggota koalisi Arab.

“Parlemen Pakistan memilih untuk tidak ikut campur dalam aksi militer terhadap Yaman dan Turki juga menahan diri untuk bergabung dengan koalisi, sementara ada juga oposisi yang kuat di Mesir menentang sikap Presiden Mesir seperti yang terjadi di Yaman. ” tutupnya. (Satu Islam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed