oleh

Pancasila Gagal?

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

3-pancasila
ilustrasi

Satu Islam – Negara Indonesia masih seumur jagung, tumbuh kembangnya sistem demokrasi selama ini, belum bisa menjadi sebuah patokan dan kita menjustifikasi demokrasi mengalami kegagalan total. Sejatinya, Indonesia masih dalam tahap demokratisasi dan masa pencarian jati diri, untuk menjadi negara super power di dunia.

Pada tanggal 22 sampai 29 November 2014, sebuah suvei yang dilakukan oleh Pusat Studi Islam dan Pancasila FISIP UMJ, dengan tema relasi Islam dan Pancasila. Dalam penelitian tersebut melibatkan berbagai unsur organisasi lokal dan organisasi transnasional, seperti NU, Muhammadiyah, FPI, HTI, MUI dan GPII.

Menariknya, ditengah gencarnya ideologi khilafah Islamiyah yang menjadi cita-cita luhur Hizbut Tahrir Indonesia, ternyata masyarakat Indonesia 100 persen masih menginginkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Penelitian ini mengindikasikan adanya pemahaman di masyarakat bahwa khilafah merupakan sebuah ideologi yang utopis.

Unifikasi dan multukulturalisme sebauh bangsa dan negara, tidak bisa berdiri tegak dan eksis di dalam sistem khilafah. Para pendiri bangsa sudah membuat sebuah ideologi yang mengayomi seluruh masyarakat Indonesia tanpa ada tindakan diskriminasi terhadap agama lain.

Perdebatan-perdebatan antara kelompok islamis dan sekuleris menemukan benang merah yaitu Pancasila. Logika terbalik yang selalu digunakan kelompok penggiat khilafah, dengan mengatakan bahwa Pancasila mengakibatkan dan menghasilkan masyarakat yang liberalis, keadilan tak kunjung tiba, kemiskinan merajalela, tetapi disatu sisi mereka naif, idealism negara yang mereka wacanakan sejatinya belum juga teruji dan mampu mengatasi keruwetan Negara Indonesia.

Pancasila merupakan sebuah ideologi yang secara substansi telah menyerap nilai-nilai seluruh agama-agama di Indonesia. Asumsi-asumsi seputar Pancasila gagal, karena menempatkan Pancasila pada sebuah kertas, dan belum aplikatif.

Penelitian ini juga menunjukkan sebuah harapan besar masyarakat Indonesia kepada Pancasila Senada dengan ini, pemikiran Mohammad Hatta dalam sebuah tulisannya mengatakan dengan tegas bahwasanya demokrasi di Indonesia tidak akan lenyap, ia bisa saja di tekan tetapi akan bangkit lagi, lenyapnya demokrasi di Indonesia maka Indonesia akan lenyap pula.

Bung Hatta salah satu pendiri bangsa memandang jauh kedepan, demokrasi bukanlah harga mati sebagaimana khilafah islamiyah dianggap harga mati oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Tetapi demokrasi merupakan sistem ideal untuk masyarakat Indonesia.

Pancasila tidak bisa dipertentangkan dengan Islam, atau membandingkan antara Pancasila dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Karena Pancasila merupakan konsensus murni (bersih) yang dibuat oleh tangan-tangan dan pikiran-pikiran manusia, sedangkan kitab suci al-Qur’an merupakan sesuatu yang suci. Pancasila juga bukanlah agama tetapi nilai-nilai agama ada di dalam ruh-ruh butir-butir Pancasila.

Sejarah dan buku-buku Hizbut Tahrir Indonesia mencatat bahwasanya semenjak Hizbut Tahrir berdiri di Palestina dengan tujuan menghapus para penjajah, namun sampai saat ini tempat mereka tumbuh tidak bisa mengeluarkan Palestina dalam kungkungan kegelapan.

Indonesia secara historis memang tidak di desain khusus orang Islam, mengingat Islam juga sebagai pendatang, tetapi semua agama-agama di Indonesia memiliki kesempatan yang sama dalam memberi masukan nilai-nilai universal ke dalam setiap undang-undang positif Negara Indonesia. Ideologi Pancasila tidak akan tergantikan dan tidak bisa diganti oleh khilafah Islamiyah.

Di sinilah letak perbedaan antara NU dan HTI dalam menerapkan dan memberikan solusi kepada bangsa Indonesia. Dalam diskursus Faucault mengenai diskursus dominan dan alternatif. NU masuk kepada istilah Faucault within the dominan discourse (mengonter diskursus dominan namun masih dalam ruang wilayah yang sama), sedangkan HTI masuk dalam kategori outside the dominan discourse (membuat diskursus baru sebagai pijakan alternatif).

Sebagai pendatang dan kelompok yang tumbuh di ruang demokrasi, seharusnya Hizbut Tahrir Indonesia setia pada Pancasila dan tidak menyodorkan ideologi alternatif yang bersifat wacana semu dan utopis. Dan wacana khilafah Islamiyah hanyalah perjuangan yang sia-sia semata. Selamat membaca.

Muhammad Makmun Rasyid, Mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) Al-Hikam Depok

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed