oleh

Oposisi Suriah Memiliki Bendera Nasional Baru Bertuliskan Kalimat Tauhid

See the source image
Bendera kelompok oposisi Free Syrian Army

Ketika operasi melawan teroris di Suriah mendekati akhir, para teroris yang terkepung di provinsi Idlib kini telah menjalani rebranding dengan mengubah bendera mereka.

Bendera Revolusi Suriah sebelumnya memiliki tiga warna yakni hijau, putih dan hitam dengan tiga bintang merah yang diadopsi pada tahun 2012 sebagai simbol pemersatu untuk sejumlah besar gerakan teroris dan oposisi yang lebih kecil (Daesh dikecualikan) yang berperang melawan presiden terpilih pemerintahan Suriah  Bashar Al-Assad.

Pada 2015, bendera ini menjadi simbol terdepan bagi oposisi Suriah dan mengklaim sebagai kelompok moderat lalu berusaha memisahkan diri dari Daesh / ISIS dan para jihadis radikal lainnya.

“Bendera oposisi tetap menjadi bahan pertikaian antara yang disebut oposisi ‘revolusioner’ dan kelompok garis keras sayap Islam lainnya selama bertahun-tahun,” mengutip penulis Rocks Sam Heller  menulis  pada bulan Oktober. Namun, menurut Séamus Malekafzali, seorang penulis di International Review yang berfokus pada urusan Timur Tengah dan perang di Suriah, yang disebut General Syrian Conference, kini telah menggantinya dengan versi terbaru dimana tiga bintang digantikan dengan kalimat tauhid simbol keimanan dalam Islam.

Bendera oposisi baru bertuliskan kalimat tauhid

General Syrian Conference adalah organ dalam struktur oposisi, mirip dengan majelis konstitusi. Kembali pada tahun 2017, Konferensi membentuk apa yang disebut Pemerintahan Penyelamatan Suriah, sebuah badan yang berkuasa dari oposisi.

Oposisi di Idlib sangat terkait dengan Front Nusra, yang berganti nama menjadi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), berusaha untuk menghindari kehancuran dengan meniru gerakan “oposisi moderat”.

Untuk kelompok yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris internasional, integrasi HTS ke dalam kelompok pemberontakan Suriah adalah kunci untuk kelangsungan hidupnya, komentar oleh Heller.

“Penggabungan HTS dari retorika pemberontak jihadis dan HTI, yang dipamerkan dalam video baru-baru ini, membuktikan dualitas kelompok,” Heller melanjutkan. “Ini juga merupakan bagian dari bagaimana kelompok itu menggagalkan upaya untuk memisahkannya dari konteks Suriah, dengan mengawasi wacana oposisi dan menghalangi pemberontak Suriah lainnya untuk berbalik melawannya.”

Dalam video yang direkam sebelumnya pada bulan September – tepat ketika Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin Turki Recep Tayyip Erdogan menegosiasikan gencatan senjata di Idlib – para pemimpin HTS terlihat mendiskusikan ideologi kelompok tersebut. Berbicara tentang revolusioner non-radikal, para pemimpin secara terbuka menyatakan ketidakpercayaan mereka, jika bukan permusuhan terbuka.

Pergantian bendera bisa menandakan goncangan oposisi terhadap kelompok jihadis, meskipun alasan mendasar untuk langkah tersebut masih belum jelas. Satu gagasan yang dikemukakan oleh sumber yang tidak disebutkan namanya menunjukkan bahwa Hayat Tahrir al-Sham tidak lagi berpura-pura menjadi “orang baik” sebagai daya tarik bagi kelompok Islamis radikal lainnya.

“Sepertinya uang dari AS / Eropa berhenti, sehingga FSA tidak lagi peduli untuk menarik perhatian orang barat,” komen salah satu pengguna Twitter, mengacu pada oposisi di Idlib sebagai Free Syrian Army. (sputnik/almasdar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed