Home / Opini / Tuhan dan Kitab Suci Kaum Tertindas

Tuhan dan Kitab Suci Kaum Tertindas

Oleh : Andre Koesjadi*

firaunSatu Islam – Tuhan para nabi adalah Tuhan Pencipta semesta. Dia-lah Tuhan yang “dipuji” oleh seluruh warga kehidupan. Tuhan yang universal, bukan tuhan yang parsial. Tuhan bagi jangkrik, kupu-kupu, ulama, para biksu, pendeta, nabi-nabi dan seluruh isi alam raya. Tuhannya seluruh bangsa-bangsa yang ada di dunia. Tuhannya Adam as. dan seluruh baninya di persada negeri-negeri manapun adanya. Sebuah realitas besar yang tak mungkin diceraikan oleh lautan sejarah maupun persoalan kehidupan dunia yang bagaimanapun pelik dan rumitnya di jaman kapan pun. Sebab Srigala, domba, cecak dan nyamuk-nyamuk serta apapun itu, realitas Tuhan Pencipta mereka semua adalah satu dan sama. Persis sebagaimana Adam, Iblis serta malaikat yang berasal dr satu Tuhan. Tuhan semesta, bukanlah Tuhan yang hadir hanya dalam bilik sempit agama-agama  maupun doa-doa sebagaimana yang kini tengah dipentaskan manusia.

Cahaya kebenaran Tuhan yang universal hadir menerpa total seluruh isi kehidupan. Cahaya sejati itu merdeka dari penjara-penjara kesempitan yang dibangun manusia atas nama-nama apapun. Dia hadir di setiap detik usia dan denyut kehidupan seluruh ciptaan-Nya di seluas-luasnya ketakterbatasan semesta milik-Nya. Tuhan tak hanya hadir dalam ceramah, khutbah, ta’lim, kebaktian dan jadwal-jadwal ritual “pementasan-Nya” di hari2 sakral tertentu dalam tradisi sebuah bangsa atau agama. Kesakralan-Nya utuh mensemesta di sepenjuru alam raya, suci merdeka tak terpasung oleh apapun.

25 simbol kebenaran-Nya adalah rangkaian. Dimana kemiskinan dan kekayaan bukanlah persoalannya. sebab disana ada Daud, ada Sulaiman, ada Yusuf, ada Isa, Ayub, Yunus dan seterusnya. Pusat perhatian atau kiblatlah yang menjadi persoalan. Kaya dan berkuasanya Fir’aun tentu saja bukan seperti kaya dan berkuasanya Sulaiman as. Kekayaan dan kemiskinan materi yang digambarkan kitab sebagai lakon diri nabi-nabi bukanlah inti persoalan. Persoalan hidup sesungguhnya bukanlah pada wajah kehidupan (kaya dan miskin), tapi pada nuraninya, pada jiwanya, pada ruhnya, pada kesadarannya, pada pusat perhatian atau kiblatnya. Apakah denga masing-masing wajah kehidupannya itu masing-masing orang tetap menjadikan Tuhan, sang Pencipta sebagai pusat perhatiannya. Ataukah, ia larut hanyut dengan arus masa untuk mengkiblatkan dirinya pada sesama ciptaan.

Masing-masing wajah kehidupan (kaya dan miskin) tedaklah dibeda-bedakan untuk sama-sama dapat berpeluang mengingkari atau menetapi Tuhan sebagai pusat perhatian (kiblat) hidupnya. Keluasan dan kegagahan orang-orang terdepan dalam kebenaran, tdklah dpt dipinjamkan. Apalagi dicomot2 seenak kita demi gagah-gagahan, hero-heroan, lagu-laguan dan timpuk-timpukanan antar kita yang katronya sama-sama nggak ketulungan. Kita telah membajak nama-nama mereka dengan harga yang sehancur-hancurnya nya demi hedonisme keberagamaan dan hobby sok-sokan kita.

Kita geret nama-nama besar itu cuma buat heboh-hebohan. Sejatinya, kitalah duri di dalam daging itu. sesejuk apapun cerita seseorang tentang air tak akan menghapuskan dahaga yang sesungguhnya. Cerita hanya melahirkan gambaran pengertian tentang sesuatu sebatas dari yang diceritakan. Air yang diceritakan adalah air yang imanjinatif, air yang dipersepsikan, air yang diiklankan, air yang dihadirkan oleh pikiran. Bukan sebagai air sungguhan, yang pasti tiap-tiap orang bisa  berbeda memahaminya. Dahaga kita akan air tak hilang oleh cerita siapapun tentangnya. Kecuali bila air itu sendiri yang “bercerita” langsung pada  tubuh kita. Cerita tentang sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri. Begitupun cerita kehidupan, bukanlah kehidupan itu sendiri. Orang-orang yang khusyuk berdebat ttg sesuatu sejatinya baru sampai pada maqam cerita tentang sesuatu, belum sampai maqam realitas-Nya …

Cerita kebenaran dalam kitab, mendorong kita utk menemukan kebenaran yang bukan sebagai cerita. Tapi kebenaran yang hadir-sehadir hadirnya dalam realitas kita. Simbol kebenaran, bukanlah logo-lgo tertentu, lambang-lambang tertentu, bendera, inisial huruf atau apapun yang diklaim oleh agama tertentu sebagai ciri identitasnya. Siapapun yang menjadi orang  terdepan bagi kebenaran, dialah simbol kebenaran. Entah sebagai apapun dia disebut. Sebutan, predikat, julukan tidaklah  penting. sebab yang penting adalah justru maqam realitas kebenaran itu sendiri dan pancarannya dalam kehidupan. Kesadaranlah yang membuat tiap-tiap komponen semesta harmoni satu dengan lainnya sebagai fitrah peran hidupnya masing-masing. Kesadaranlah yang membuat seluruhnya terangkai sebagai sebuah saudara dan keluarga besar kehidupan yang silih jaga dan mengutuhkan. Kedinamikaan semesta melibatkan sekian partisipan kesadaran demi keberlangsungannya. Sekalipun itu dari sebutir pasir, seekor semut, embun dan debu. Semua bertasbih dalam masing skala kesadarannya.

Demi keharmonian hidup komponen semesta luas lainnya. Skala masing-masing orang berbeda. Titik kesiapan dan kesanggupan masing diri pun demikian. Namun, jikalah dengan agama besar kita hanya “suka” untuk memahami kewajiban-kwajiban terhadap Tuhan dalam arti yang parsial, yang ritual-ritual saja dan tidak mau ambil pusing dengan perjuangan tata hidup dunia aktual yang tak tentu arahnya. Maka sejatinya kita telah menempatkan otoritas nabi-nabi Tuhan sebagai pandu bagi  bangsa ke dalam kotak rahib-rahib atau kependetaan semata. Sebuah jabatan yang sekadar terbatas mengurusi soal seremonial ritual belaka. Sementara nabi-nabi tak hanya hidup dalam mushalla, majlis-majlis doa dan kajian saja. Beliau hadir bukan dalam kapasitas sebagaimana para kyai, ustadz, pastor, biksu, para ruhaniawan dan agamawan. Beliau aktif dan hadir di dalam setiap petak geliat problematika ummat yang luas. Ummat manusia seluruhnya.

Pelajarilah bagiamana nabi, tokoh-tokoh besar dan diri-diri  sejati sukses menghalau angkara murka yang didukung oleh kebodohan dan sikap apatis berupa keshalihan-kesalihan sempit dalam wajah agama yang justru memecah. Nabi Muhammad, adalah nabi dengan skala cinta semesta yang rahmatan lil’aalamiin. Nabi universal bagi kehidupan seluruh alam. Beliau tampil terdepan tidak  hanya sebatas menjadi imam di skala ritual. tapi beliau hadir sebagai imam di skala-skala aktual untuk  menggalang persatuan, mensirnakan keangkuhan kabilah dan mensinergikannya demi kemashlahatan hidup yang lebih luas dalam suatu kontrak sosial hidup bermasyarakat yang dipeloporinya. Semua warga berpadu membangun senyata-nyatanya keadilan dan kemakmuran. Menjaga harta, darah dan kehormatan siapapun saja.

*Penjual Cilok

About Abu Nisrina

Check Also

Keluarga Shihab dan Kesalahpahaman-Kesalahpahaman Lainnya

Oleh: Ben Shohib   Satu Islam – Hari-hari ini bangsa kita sedang bergulat gaya bebas …