Home / Opini / Spirit Lokalitas dan Perjuangan Kemerdekaan

Spirit Lokalitas dan Perjuangan Kemerdekaan

Oleh: Surahmat Tiro

Satu Islam – Perjuangan kemerdekaan tak melulu soal Soekarno dan Hatta. Meski peran keduanya cukup besar, sejarah perjuangan melawan penjajahan juga muncul di sejumlah titik di tingkat lokal.

Pada kisaran tahun 1300 hingga 1600 yang lalu, dua kerajaan kecil Binamu dan Bangkala pernah berkuasa di wilayah Selatan pulau Sulawesi. Kerajaan kecil ini terletak tepat di sudut barat daya provinsi Sulawesi Selatan, antara Takalar dan Bantaeng. Gabungan dari wilayah dua kerajaan ini kini menjadi Kabupaten Jeneponto (Ian Caldwell dan Wayne A. Bougas).

Sebelumnya bergabung menjadi daerah otonom berbentuk kabupaten, kerajaan kecil ini pernah membentuk sebuah kesatuan berbentuk konfederasi yang disebut Jentak, terdiri dari tiga kerajaan yakni Binamu, Bangkala dan Laikang.

Gabungan kerajaan tersebut tidak lain bertujuan menyatukan kekuatan menentang pemerintahan kolonial Belanda yang sangat menindas masyarakat pribumi dalam bentuk penjajahan yang sangat kejam.

Mattewakkang Karaeng Raja selaku Raja Binamu yang terakhir yang resmi dilantik oleh empat toddo’ sebagai representasi masyarakat Turatea. Beliau sangat dikenal dengan sikapnya yang menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Kalau kita melihat dalam konteks perlawananya terhadap penjajahan, sosok karaeng di Jeneponto ini merupakan sosok pemimpin yang tegas dan pemberani dalam menentang pejajahan dalam bentuk apapun. Apalagi hal itu merugikan masyarakat yang dipimpinnya.

Inilah tradisi yang sangat sakral dalam pengangkatan Karaeng di Jeneponto sebagai pemimpin yang membela masyarakatnya hingga akhir hayatnya. Keempat toddo’ ini sebagai orang yang melantik Karaeng di Jeneponto bisa kita lihat sebagai perantara dalam bentuk pentransformasian nilai leluhur yang kita kenal siri’ napacce sebagai simbol persatuan dan persaudaraan bagi masyarakat Jeneponto.

Semangat siri’ napacce dalam tradisi masyarakat Jeneponto tempo dulu memang termanifestasi dalam bentuk perjuanganya melawan negara penjajah. Karena mereka menganggap Jeneponto adalah tanah mereka, tanah sebagai ruang penghidupan masyarakat. Sementara, ada pihak asing yang ingin seenaknya masuk menguasainya dengan cara brutal.

Mengapa tidak kami melawanya meskipun kami tidak memiliki senjata yang begitu canggih seperti para penjajah itu. Tetapi semangat dan persatuan kami sebagai masyarakat pribumi itu tidak akan mampu dikalahkan oleh senjata hebat apapun, prinsip demikian yang selalu dipegang teguh para leluhur atau tetua kita di Jeneponto dalam potret perlawananya.

Sikap tersebut bagi masyarakat Jeneponto telah dibangun oleh para pendahulunya bahwa tanamkanlah jiwa siri’ napacce dalam diri kita sebagai bentuk pengabdian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Karena kata siri’ napacce merupakan nilai yang mendorong dan mempengaruhi masyarakat Jeneponto dalam melawan para penjajah di masa silam. Pembebasan masyarakat pribumi dibawah kekuasaan Negara penjajah selalu menjadi tujuan hidup bagi pendahulu kita sebagai bentuk kencintaan dan pengabdianya terhadap negara.

Sepercik kisah perjuangan pendahulu kita di atas dapat memberikan gambaran yang utuh bahwa nilai agung dari prinsip siri’ napacce mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata bukan sebatas kata tanpa makna apa-apa. Melainkan sebagai bentuk perwujudan nilai kemanusiaan.

Jangan melihat siri’ napacce sebatas slogan yang digunakan para kandidat kepala daerah saat momen politik datang. Melainkan kita harus melihat siri’ napacce, sperti para pendahulu kita saat berjuang melawan kesewenang-wenangan pemerintahan kolonial terhadap pribumi.

Akankah kita sebagai generasi muda mampu melanjutkan tradisi yang telah dibangun oleh para pejuang pendahulu di Jeneponto, ataukah kita malah terlibat dalam penjajahan di Negara sendiri dengan bentuk pemberian legalitas bagi perusahaan asing yang banyak memisahkan kelompok petani pribumi dengan tanahnya.

Dampaknya dapat kita saksikan sekarang ini, kemiskinan yang tinggi di pedesaan hingga semakin meningkatnya arus petani desa yang lari berpindah ke kota bekerja sebagai buruh upahan.

Nah, Semoga dengan perayaan hari kemerdekaan ini, kita mampu merefleksikan kembali makna kemerdekaan agar tidak menjadi angan kosong belaka. Hari ini kita menyaksikan dengan mata telanjang, bagaimana pemimpin politik dengan leluasa melakukan praktik korupsi dalam menjalankan tugasnya.

Belum lagi pelanggaran HAM yang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum usai bagi pemerintah saat ini. Hal ini menjadi gambaran kecil, betapa kemerdekaan pada beberapa konteks masih belum hadir dalam ruang kehidupan sosial kita, yang menjunjung tinggi nilai Pancasila yang agung dan luhur.

Semangat persatuan, persaudaraan dan persamaan satu sama lain dalam melawan penjajah, sebagaimana yang ditunjukkan oleh masyarakat Jeneponto di masa lampau semoga bisa menjadi inspirasi perjuangan dalam kehidupan sekarang. Terkhusus dalam hal  mewujudkan sosial dan sistem ekonomi yang lebih berkeadilan.

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia, Jayalah Negeriku Tanpa Penjajahan.

Surahmat Tiro, Warga Jeneponto, kuliah di UIN Alauddin Makassar

Sumber: kabar.news

About Abu Nisrina

Check Also

Manfaat Berziarah Ke Makam Wali-Wali Allah

Satu Islam – Manfaat Berziarah Ke Makam Wali-Wali Allah. Berziarah ke makam para ulama dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *