Home / Opini / Sebuah Ironi di Mekkah

Sebuah Ironi di Mekkah

Oleh: Munif Chatib

mecca2Ada rasa syukur tak terkira bisa menginjakkan kaki di Mekkah Al Mukarromah, kota suci tempat Baginda Rasullah SAAW dilahirkan. Namun setelah saya berkeliling sekitar masjidil haram, ada sebuah ironi yang menyesakan dada. Apalagi setelah melihat menara jam raksasa menjulang kokoh di depan masjidil haram. Menara jam ini termasuk tertinggi kedua di seluruh dunia dibangun di Albraj Albait depan masjidil haram. Saya sendiri tinggal di hotel Safwah Orchid yang termasuk satu komplek dengan bangunan menara itu. Ketika melihat ke jendela hotel sudah terlihat Ka’bah. Memang sekeliling masjidil haram adalah bangunan-bangunan tinggi. Seorang teman jamaah haji berkata kepada saya bahwa ramalan Rasulullah SAAW terbukti bahwa salah tanda-tanda kiamat adalah manusia saling berlomba membangun bangunan tinggi di Mekkah.

Haji tahun ini ditandai oleh pembangunan dan perluasan masjidil haram. Juga disertai dengan pembangunan gedung-gedung bertingkat lainnya di sekitar masjidil haram. Saya mencoba bertanya kepada salah satu pegawai bangunan yang banyak sekali dijumpai di masjidil haram tentang maksud perluasan masjid. Pegawai itu menjawab dengan detail bahwa perluasan masjid dilakukan untuk menambah kuota jamaah haji yang tiap tahun bertambah. Sedangkan pembamgunan gedung bertingkat untuk kenyamanan jamaah haji dalam beribadah. Alasan yang baik dan masuk akal menurut saya. Namun ketika saya tanyakan dimana rumah Rasulullah SAAW kala membina rumah tangga bersama istrinya Sayidah Khadijah? Dia menjawab sudah dihancurkan dan diubah menjadi perpustakaan. Saya tanya juga tentang mihrab Rasul tempat beliau memimpin sholat jamaah pertama kali di Mekkah. Dia menggelengkan kepala tidak tahu. Sumber air zam-zam sudah ditutup. Namun situs-situs itu sudah punah. Miris rasanya. Kala saya tanya kepada beberapa orang, jawaban mereka sama, yaitu situs-situs bersejarah itu harus dihancurkan sebab khawatir nanti disembah. Dan itu syirik.

Saya memang awam dalam pengetahuan tentang syirik dan berbagai bahasan pembagiannya. Namun jika saya pribadi bisa melihat rumah Rasul di Mekkah saat ini, pastilah tidak saya sembah. Malah saya bisa mengambil hikmah tentang kesederhanaan kehidupan Rasul dan keluarganya. Mungkin ada banyak hikmah yang lain. Saya melihat ada sebuah ironi. Kerajaan Saudi menghancurkan situs-situs Islam bersejarah dengan alasan syirik namun mereka membangun situs-situs baru gedung pencakar langit dengan alasan kenyamanan. Bahkan menara dan pintu masuk masjidil haram yang tengah dibangun akan diberi nama pintu Raja Abdullah, raja Saudi yang sekarang. Setiap dinasti membangun situs-situs kemewahan.
Saya pernah mengunjungi istana Kaisar Jepang di tengah pusat kota megapolitan Tokyo. Eksistensi istana itu dipertshankan dengan bentuk bangunan aslinys. Sebuah istana kuno yang dikelilingi bsngunan tinggi menjulang. Sah-sah saja setiap dinasti raja membangun bangunan mewah di Mekkah dan Madimah. Sebab akan tercatat dalam sejarah. Namun alangkah indahnya keberadaan situs-situs kuno dipertahankan, agar setiap generasi dapat mengenal nabinya, keluarganya dan para sahabatnya secara konkrit. Tidak abstrak!

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Hukum Allah

Oleh: Muhsin Labib Satu Islam – Saya bermalam di rumah teman di sebuah desa yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *