Home / Opini / Ramadhan dan Masyarakat Daging

Ramadhan dan Masyarakat Daging

Oleh: KH A Mustofa Bisri

KH A Mustofa Bisri – Foto: NU Online

Satu Islam – Setiap kali datang bulan Ramadhan, kaum muslimin menyambutnya dengan semangat. ”Marhaban ya Ramadhan!”, ”Selamat Datang, Ramadhan!” demikian antara lain sambutan spanduk-spanduk. Seolah-olah Ramadhan memang merupakan tamu yang dinanti-nantikan kedatangannya.

Saya sendiri juga selalu menanti-nanti kedatangan Ramadhan, terutama karena di bulan Ramadhanlah saya dapat merdeka mengatur sendiri jadwal kegiatan saya bersama keluarga dan santri-santri. Pada sebelas bulan yang lain kebanyakan agenda saya ’diatur’ oleh orang dan kesibukan saya begitu tidak jelas. Dalam bulan Ramadhan, saya bisa agak lebih akrab dengan diri sendiri. Saya bisa lebih bebas merenung dan bertafakur.

Di bulan Ramadhan kali ini; kita, atau minimal saya, sudah mempunyai gambaran kasar tentang apa yang bisa kita renungkan. Di antaranya –yang paling mengusik pikiran— lagi-lagi ialah soal yang berkaitan dengan keberagamaan dan pemahaman kaum muslimin terhadap agamanya. Bukankah ”Man lam yahtamm lilmuslimiina falaisa minhum”? Orang yang acuh tak acuh terhadap kondisi kaum muslimin, memang dia tidak termasuk mereka

Ada fenomena aneh di era reformasi ini yang menyangkut perilaku masyarakat umumnya dan kaum muslimin pada khususnya. Justru di saat pintu kebebasan dan keterbukaan di buka lebar-lebar, tiba-tiba saya melihat banyak pihak yang pikirannya menjadi sempit dan bahkan tertutup. Kebebasan dan keterbukaan seolah-olah dimaknai sebagai kebebasan membuat sekat-sekat dan kemerdekaan menutup diri bagi masing-masing. Masing-masing hanya mengagumi diri sendiri dan asyik mendengarkan suaranya sendiri. Masing-masing menganggap dirinya paling benar dan pihak lain pasti salah. Masing-masing merasa paling dekat dengan Tuhan. Kullun bimaa ladaihim farihuun. Masing-masing bangga dengan apa yang ada pada mereka dan melecehkan apa yang ada pada pihak lain.

Yang lebih aneh lagi adanya keberanian pihak-pihak tertentu ”mempersonifikasikan” diri mereka sebagai Tuhan. Mungkin karena memiliki kelebihan atau –kebanyakan—karena merasa dianggap memiliki kelebihan oleh orang-orang di sekelilingnya (mereka menganggap orang-orang di sekelilingnya yang hanya beberapa gelintir sebagai semua orang). Mereka begitu yakin atau hendak meyakinkan orang, misalnya, bahwa niat mereka adalah niat Tuhan; kemarahan mereka adalah kemarahan Tuhan; kebencian mereka adalah kebencian Tuhan.

Tidak kalah aneh: fenomena semakin maraknya kecenderungan menggunakan agama (Islam) untuk membenarkan tindakan apa saja, termasuk tindakan merusak. Mencari harta dan kedudukan dengan dalil berjuang bagi kemaslahatan umat. Berkampanye untuk partai atau bisnis dengan dalil dakwah. Mengecam, mencaci, dan memperkosa hak orang dengan dalil Amar ma’ruf nahi munkar. Mensukseskan pencalonan calon dengan dalil menyelamatkan aqidah. Memaksakan kehendak sendiri dengan dalil menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan. Melakukan kekerasan dan pengrusakan dengan dalil jihad.

Celakanya dalil-dalil –atau tepatnya dalih-dalih– itu sebagaimana iklan-iklan komoditi pasar lainnya selalu mendapat peminat di negeri ini, terutama dari kalangan orang-orang awam. Indonesia memang merupakan pasar yang menggiurkan bagi pedagang apa saja. Kualitas iklan biasanya seribu kali lebih hebat dari komoditi yang diiklankan. Sementara konsumen boleh dikata belum sebenarnya terlindungi. Maka hampir tidak ada satu dagangan pun di negeri ini yang tidak laku. Bahkan dagangan yang paling musykil sekali pun ada yang membeli; seperti jual sebidang taman sorga dengan sekeping nyawa sendiri plus beberapa nyawa hamba Allah yang lain.

Nah, jika benar pengamatan saya, jika memang kondisi di masyarakat kita sudah seperti itu, lalu sebagai kaum beragama, bagaimana sikap kita? Apakah akan kita biarkan saja atau ada upaya-upaya yang bisa kita lakukan? Kira-kira dalam hal ini siapa yang salah? Tidak. Ini pertanyaan orang yang suka mencari kambing hitam. Lebih baik kita mencari sumber kesalahan dari semua itu. Apakah ini semua karena kecintaan kita yang berlebihan terhadap dunia? Apakah karena perhatian kita terlalu terlalu terbatas kepada apa saja yang bersifat daging? (Kita misalnya, terlampau mencintai daging kita, hingga melupakan jiwa kita. Fokus hidup pun tertuju kepada kemaslahatan daging semata. Beragama pun sebatas daging agama). Apakah karena kita salah belajar atau karena berhenti belajar? Atau karena apa?

Ini semua merupakan bahan renungan yang di bulan suci Ramadhan ini dapat kita harapkan menjadi nilai tambah dari ibadah kita. Bukankah selain dzikir, kita dianjurkan juga berpikir? Syukur apabila selain itu, kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai perilaku keberagamaan kita selama ini. Semoga.

Selamat berpuasa Ramadhan!

Penulis kini adalah mustasyar PBNU. Tulisan ini pernah diunggah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun Facebook pribadinya pada 20 Agustus 2009, dengan judul asli “Selamat Datang, Ramadhan”.

About Abu Nisrina

Check Also

Agama Para Leluhur

Oleh: Abrahami Satu Islam – Apapun “judul” agama para leluhur kita yang terdiri dari para …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *