Home / Opini / Pendidikan Multi Agama Dan Kepercayaan

Pendidikan Multi Agama Dan Kepercayaan

Oleh: Nasaruddin Umar

Satu Islam – Islam dan Pancasila sa¬ma-sama menerima keberadaan multi agama dan kepercayaan. Adanya kes-an sekelompok warga bang¬sa yang seolah memperh¬adapkan keberadaan multi agama dan kepercayaan tidak begitu sejalan den¬gan semangat Islam dan Pancasila.

Hadirnya kelompok yang memper¬hadap-hadapkan antara Islam sebagai agama tauhid dan Pancasila yang sila pertamanya Ketuhanan Yang maha Esa dan keberadaan multi agama dan kepercayaan, menjadi bukti masih adanya potensi dan persoalan konsep¬tual di negeri ini.

Pemahaman konsep multi agama dan kepercayaan yang terukur dalam pendidikan agama sudah amat mendesak. Pendidikan multi agama dan kepercayaan di sini ialah pendidi¬kan keagamaan yang selain mengajarkan ma¬teri pendidikan agama dan kepercayaan yang dianut oleh peserta didik juga diajarkan secara terukur konsep agama dan kepercayaan lain, khususnya yang ada di Indonesia. Ini penting untuk memberikan pemahaman dini kepada anak-anak bahwa selain agama yang dianut¬nya ada juga agama-agama dan kepercayaan lain memiliki penganut dan pengikut.

Mereka juga adalah sesama warga Negara Indonesia yang memiliki hak dan kewajiban di negeri ini. Dengan demikian, anak-anak tidak dididik dan diajarkan persepsi yang yang menganggap mereka “orang lain”. Meskipun di antara mere¬ka ada yang minoritas tetap dihembuskan rasa kasih sayang sebagai sesama warga bangsa.

Namun perlu ditegaskan, pendidikan multi agama dan kepercayaan di sini bukan per¬bandingan agama, yang membandingkan antara satu agama dengan agama lain. Men¬gukur kelebihan dan kelemahan setiap agama lalu dipersilakan kepada murid sebagai “user” (pengguna) untuk memilih agama mana yang akan dianutnya secara merdeka.

Jika demiki¬an adanya maka justru akan rancu dan bisa memicu konflik dan keresahan, terutama ke¬pada para orang tua. Apa jadinya jika di seko¬lah ada etalase agama-agama dan semua murid berhak memilih agama mana yang ia sukai. Sekali lagi tentu bukan itu yang dimak¬sud pendidikan multi agama dan kepercayaan di sini.

Yang dimaksud pendidikan multi agama dan kepercayaan sesungguhnya selain mem¬perkenalkan dan memberikan pendalaman dan penghayatan terhadap agama yang dianut sang murid, juga diperkenalkan secara gener¬ik agama-agama lain sebagai fenomena yang hidup di dalam masyarakat. Jadi lebih kepada pengajaran sosiologi agamanya, bukan me¬mahamkan substansi agamanya.

Dengan de¬mikian anak-anak akan sadar sejak dini bah¬wa meskipun agamanya yang diyakini paling benar tetapi kelompok penganut agama lain juga memiliki hak yang sama untuk berkeyaki¬nan sama. Metode ini selapis lebih menjanjikan harapan ketimbang pengajaran mono religion, yang mengajarkan satu-satunya agama di da¬lam subjek Pendidikan agama

Sumber: RMOL

About Abu Nisrina

Check Also

Opium Des Volkers

Oleh: Zeng Wei Jian Satu Islam – “Relation  is the opium of the people”, kata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *