Home / Opini / Orang Paling Bodoh Pun Tahu

Orang Paling Bodoh Pun Tahu

Oleh: Abrahami

Satu Islam – Sejauh yang saya fahami dalam kuliah-kuliah teologi dan perbandingan agama, tidak ada satupun teks-teks agama yang berasal dari beragam tradisi, baik itu agama abrahamik atau atau non-Abrahamik yang mengatakan bahwa Tuhan itu memiliki asosiasi yang bersifat angka kuantitatif yang dimakn ai secara harfiah. Tidak pula saya menemukan adanya figur-figur intelektual agama baik dimasa lalu atau masa sekarang yang benar-benar sinting hingga menyatakan bahwa Tuhan memiliki jumlah tertentu.

Sebenarnya cara pandang manusia tentang Tuhan tidak akan pernah berubah. Manusia akan tetap mamandang bahwa alam semesta ini berasal dari Sumber Tunggal yang maha Agung yakni Tuhan yang maha esa. Sebagaimana sabda Krisna, “Mereka yang mengenalKu sebagai Yang Esa dalam setiap elemen (Adhibhuta), dalam setiap dewa (Adhidaiva) dan dalam semua pengorbanan atau persembahan (Adhiyagna) – mereka ini yang telah harmonis pikirannya mengenalKu bahkan pada saat-saat kematian (mereka)”.

Atau seperti Sabda Buddha yang mengatakan bahwa “kalau Sang Maha Mutlak tidak ada, maka tak satupun makhluk dapat selamat dari siklus kelahiran”. Mutlak itu memiliki makna yang setara dengan ketunggalan. Atau seperti kata para ahli filsafat bahwa segala sesuatu berasal dari prima kausa, sebab dari segala sebab. tak satupun pandangan yang menganggap sumber alam semesta ini adalah jamak sebagai pandangan yang lazim.

Tak ada satupun orang yang benar-benar bodoh di dunia ini mengatakan bahwa agama-agama yang ada di dunia ini mengajarkan fakta yang berbeda tentang Tuhan dan mengaggap bahwa sebagian agama mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa dan yang lain mengajarkan “tidak” Tuhan itu memiliki jumlah kuantitatif tertentu.

Bahkan kalangan pagan ketika ditanya siapakah yang menciptakan alam semesta ini?, mereka akan menjawab “Tuhan yang maha Esa”. Tidak ada orang atau agama yang benar-benar bodoh yang mengatakan bahwa Tuhan itu banyak.

Yang sebenarnya bermasalah adalah, cara manusia memandang Dunia. ketika ia melihat dengan kesadaran yang pecah dan tak terarah, maka ia melihat dunia ini dalam sudut pandang dualistik, aku atau kamu, kita atau mereka, pro ini atau kontra itu. Ungkapan-ungakapan yang berasal dari kesadaran jenis ini akan memiliki kesan angkuh, memecah belah, sok benar sendiri, dan terburu-buru menyimpulkan atau bahkan terburu-buru merasa bisa bertanggung jawab atas ungkapannya yang memandang rendah tradisi teologis orang lain.

Sebenarnya potensi politeistik lebih banyak berasal dari cara pandang dualistik. Karena sejak awal cara pandangnya sudah dualistik, wajar saja kalau cara pandangnya terhadap Tuhan bersifat negatif dengan konsekswensi bahwa Tuhan yang ia sembah dalam agamanya berbeda dengan Tuhan yang disembah oleh agama lain. Dengan pengandaian ini dia telah memberikan peluang bagi eksistensi Jumlah Tuhan.

Walaupun hal tersebut hanyalah gagasan yang tersembunyi dibawah labirin kesadaran terdalamnya, suatu saat keyakinan tersebut akan terungkap, baik dalam sikap atau dalam perkataan. Sikap-sikap yang akan terungkap ini pasti akan selaras dengan sikap anti-Tuhan yang menghalalkan Dusta, Sikap pengecut, Terburu-buru, Amarah, kebencian, dan sikap Culas. Prestasi terbesar yang ia dapat persembahkan kepada masyarakat adalah, Perpecahan.

About Abu Nisrina

Check Also

Opium Des Volkers

Oleh: Zeng Wei Jian Satu Islam – “Relation  is the opium of the people”, kata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *