Home / Opini / Mozaik Indonesia

Mozaik Indonesia

kewarganegaraanIsu ‘aliran sesat’ seakan mengubah karakter bangsa yang dikenal santun dan pemaaf ini, menjadi bringas, brutal dan anarkis akibat ulah segelintir orang yang menjadi monster-monster berlagak ‘bodyguard kebenaran’. Beragam ormas jadi-jadian muncul dan kelompok paramiliter atas nama jamaah majelis taklim dengan memprovokasi massa merenggut hak sipil sesama warga negara dengan membakar, merusak dan melemparkan tuduhan sesat dan murtad.

Sejarah pemikiran keislaman di Indonesia ditandai oleh munculnya berbagai ketegangan kreatif antara dua corak pemikiran yang sangat berbeda, yaitu antara kalangan simbolis, atau sering juga disebut skripturalis, dan kalangan substansialis. Corak pemikiran skripturalis biasanya bersifat normatif, bertumpu semata-mata pada teks yang dijadikan sebagai pedoman baku, serta kurang memiliki tempat bagi upaya penafsiran baru atas teks-teks tersebut. Acap kali, corak pemikiran demikian menutup rapat pintu dialog untuk mengembangkan wacana pemikiran alternatif serta kurang toleran terhadap perbedaan pendapat karena terkungkung oleh nilai-nilai normatif yang menjadi pegangannya. Corak pemikiran ini lebih mengutamakan dimensi formal dan simbol. Oleh karena itu, tidak heran bila ekspresi pemikiran keislamannya cenderung mementingkan label dibanding substansi, kemasan jauh lebih diutamakan ketimbang isi.

Ide negara Islam dan khilafah Islamiyah telah mengembangkan imajinasi politik yang legalistik dan formalistik. Campurtangan pemerintah dalam penyelesaian persoalan agama telah menimbulkan kesangsian sebagian kelompok minoritas terhadap komitmen kebangsaan. Bila dibiarkan, maka kesatuan dan persatuan akan menjadi kata yang tak bermakna, dan pada gilirannya, negara dan bangsa ini akan menghadapi masa depan yang suram.

Wajah Indonesia bukan hanya Islam, tetapi juga Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan bahkan aliran kebatinan. Wajah Islam Indonesia bukan hanya wajah NU dan Muhammadiyah.

Dalam perspektif realitas sosial tersebut, masing-masing kelompok agama seyogyanya tidak saling menghegemoni, apalagi memaksakan kehendak atas nama agama dan aliran agama tertentu.

Harus diakui bahwa aksi-aksi peusakan terhadap pemukiman dan tempat ibadah kelompok-kelompok minoritas lain yang secara sepihak dianggap sesat telah melumuri wajah Indonesia yang dengan citra kesadisan.

Indonesia berbeda sama sekali dg Pakistan, Lebanon, Irak dan Iran. Mayoritas Muslim di negeri ini tidak tahu apa itu Sunni dan apa itu Syiah. Hanya beberapa orang saja yang kini mulai tahu dua istilah itu, baik dg pemahanan negatif maupun dengan pemahanan positif.

Karena itu mungkin yang lebih efektif dan dikedepankan bukanlah memperkenalkan wacana dan seruan Persatuan Sunni – Syiah, tapi memperkenalkan wawasan kebangsaan dan kebhinekaan sebagai pilar terbentuknya institusi negara bernama Indonesia yang secara real merupakan mozaik ragam suku, bahasa, budaya, agama, daerah dan golongan. [Satu Islam/YS]

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Seksi Suriah

Oleh: Anwar Aris Satu Islam – “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.” Godbless Pasca …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *