Home / Opini / Kriteria Kepemimpinan Politik Adiluhur Pancasila

Kriteria Kepemimpinan Politik Adiluhur Pancasila

10388568_853208538059000_7600373708223912272_n“Jika ada anak bangsa, dia paling berpancasila, yang karenanya ia paling berKetuhanan dan Berkemanusiaan, paling terdepan dalam membela bangsanya, maka seluruh anak bangsa, wajib mengangkatnya sebagai pemimpin.”

-Wasiat Kebangkitan-

Satu Islam – Ketika ada di antara mereka manusia-manusia yang lebih menonjol dalam hal kepemimpinan, memiliki karakter-karakter mulia yang lebih di antara anak bangsa yang ada, sangat perhatian dengan nilai-nilai luhur Pancasila, kokoh dalam berketuhanan, mengukir dirinya sedemikian rupa sehingga ia memiliki sifat-sifat mulia, mencintai nusa dan bangsanya, bersikap adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban, sangat cinta akan persatuan bangsa, memiliki kepedulian dan tanggungjawab terhadap negeri dan rakyat Indonesia, dan ia berani mengedepan mengambil tanggungjawab lebih dalam rangka memelihara, dan merawat tanah air, menjaga dan membela falsafah negara dari segala gangguan , dan ia sangat berpegang teguh pada ideologi Pancasila, memahaminya dengan benar, memiliki kesadaran sangat tinggi terhadap nilai-nilainya, paling nyata dalam mewujudkan nilai-nilai luhurnya, maka segenap rakyat Indonesia sudah seharusnya secara bersama-sama, tanpa keraguan, demi membangun kejayaan bangsa dan negara, dengan suara bulat, memohon kepadanya untuk menjadi pemimpin di bumi Pancasila yang kita cintai.

Di sisi lain, saat seorang di antara anak bangsa, yang tidak memiliki karakter-karakter mulia, tidak mempunyai perhatian terhadap nilai-nilai luhur Pancasila, lemah dalam hal ketuhanan, jauh dari sifat-sifat mulia Tuhan, mengabaikan pendidikan dirinya, tidak perhatian terhadap peningkatan kualitas dirinya baik dari segi spiritualitas, intelektualitas, moralitas dan mentalitas, jauh dari tanda-tanda sebagai manusia yang cinta bangsa dan tanah air, jauh dari sikap dan perilaku adil, sangat mendahulukan kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya, memiliki raport merah dalam karir sosial politik dan ekonominya, tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap masyarakat di mana ia hidup, rendah perhatian terhadap persatuan dan keutuhan bangsa, pernyataan , sikap dan tindakannya sering terindikasi mengedepankan intoleransi dan mau menang sendiri, kesadarannya terhadap bangsa, tanah tumpah darah dan ideologi negaranya sangat diragukan, maka segenap anak bangsa, secara bersama-sama, bersatu padu dan dengan suara bulat hendaknya, menjauhkannya dari kepemimpinan politik di negeri tercinta ini. Manusia jenis ini akan sangat merugikan dan kelak akan membangkrutkan bangsa dan negara secara tidak bertanggungjawab sampai diketahui dengan pasti bahwa ia membangun kualitas dirinya seperti yang diinginkan oleh nilai-nilai luhur Pancasila.

Tanggung Jawab dan Hak Politik Bangsa

Setiap warga negara bertanggungjawab untuk memajukan negerinya sendiri sesuai kemampuan dirinya. Namun tentu membangun negara diperlukan organisasi dan tata kelola yang baik. Di sini dengan niscaya harus terjadi hirarki kepemimpinan , ada masyarakat yang dipimpin dan ada yang mengambil tugas sebagai pemimpin.

Untuk terjadinya suatu organisasi kepemimpinan dan keterpimpinan di lembaga yang disebut negara ini, diperlukan partisipasi masyarakat warga negara dalam memilih dan dipilih. Ini yang disebut dalam istilah dunia politik sebagai hak politik, yakni hak untuk memilih dan hak untuk dipilih. Setiap warga negara memiliki hak politik yang sama di dalam suatu negara.

Mereka yang berakal nurani akan memilih pemimpin berdasarkan kesadaran akal nuraninya. Mereka akan memilih pemimpin yang sesuai dengan pilihan akal nuraninya; yaitu pemimpin yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, persatuan, pemimpin yang aktif, kreatif, produktif, progresif, dan responsif, pemimpin yang punya kepedulian, kemandirian dan kemerdekaan, pemimpin yang berakal nurani.

Namun mereka yang dirinya didominasi oleh libido hewani akan memilih pemimpin yang sesuai dengan naluri hewannya, mereka tidak begitu peduli pada kemajuan bangsa dan negaranya, mereka tidak peduli pada perjuangan dan pengurbanan. Satu-satunya kepedulian mereka adalah keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya sendiri, mereka tak pernah memikirkan kemajuan bangsa ke depan. Setiap bangsa dan negara di mana pun hancur oleh mental-mental warganya yang berlibido hewani.

Keterwakilan Politik Ideal dalam Negara Pancasila

Warga negara dalam bahasa lain disebut dengan rakyat. Menjadi tidak mungkin jika dalam setiap mengambil keputusan untuk mengambil suatu kebijakan seluruh warga negara turun dan ikut secara langsung , maka di saat inilah dibutuhkan sistem perwakilan.

Seluruh suara rakyat diwakilkan pada satu kelompok yang dianggap benar-benar dapat mewakili dan menyuarakan aspirasi mereka. Tentu para wakil ini juga berasal dari rakyat pilihan, yaitu mereka yang dianggap memiliki kemampuan menyuarakan mereka. Jika mayoritas warga negara memiliki kesadaran politik yang baik, maka niscaya mereka yang menjadi wakil rakyat adalah berasal dari yang terbaik di antara mereka. Namun jika mayoritas rakyat bodoh, kesadaran politiknya rendah, pasti pula wakil yang dipilih dan terpilih datang dari warga yang lemah.

Maka itu proses pendidikan untuk memajukan dan meningkatkan kualitas warga sangat dibutuhkan. Seiring dengan tingginya kualitas warga negara seraya pula kesadaran politik warga menjadi meningkat. Bilamana kesadaran politik warga negara menguat saat itu pula sistem politik, sistem perwakilan dan keterwakilan menjadi bermutu.

Saat itulah kita menemukan bentuk ideal apa yang disebut sebagai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawaratan/ perwakilan. Tanpa kesadaran politik warga bangsa yang bermutu, kita tidak akan pernah akan sampai pada sistem politik perwakilan yang ideal.

Legitimasi Politik Ideal

Suatu kebijakan pemerintahan menjadi bermutu saat lembaga dan pemegang wewenang mendapatkan legitimasi politik dari segenap kekuatan politik. Kekuatan politik didapat dari kekuatan para pelakunya. Para pelaku politik tidak pernah dapat disebut kuat bila kesadaran politik mereka rendah. Lagi-lagi , dibutuhkan warga negara yang sadar politik untuk mendapatkan kekuatan legitimasi politik yang kokoh.

Indikasi bahwa suatu kepemimpinan itu kuat dapat dilihat dari ketulusan para pendukungnya. Warga negara memiliki hati nurani yang dengan nuraninya dapat melihat, mengamati, menilai dan pada akhirnya mendukung seorang calon pemimpin yang memiliki hubungan emosional dengan mereka, pemimpin yang mencintai , memerhatikan, peduli dan melayani mereka. Warga negara, dengan semakin meningkatnya kesadaran mereka akan nilai-nilai luhur universal Pancasila, dapat membedakan siapakah yang layak dan pantas menjadi pemimpin mereka dan siapakah yang tujuannya tak lain daripada kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya saja.

Lagi-lagi, semakin tinggi kesadaran politik suatu bangsa maka semakin tinggi dukungan mereka, dan semakin rendah kesadaran politik bangsa maka tentu semakin rendah pula dukungan mereka terhadap setiap proses politik yang berlangsung di wilayah negara mereka.

Kepemimpinan Politik dan Bukan Kekuasaan Politik

Warga negara yang berkesadaran politik sadar betul bahwa sikap dan kegiatan politik mereka demi kemaslahatan bangsa, negara dan tanah air. Mereka mengedepan mengambil tanggungjawab lebih untuk mengisi pos-pos kepemimpinan, bukan demi kekuasaan politik, tapi demi kepemimpinan politik yang akan membawa bangsa pada kesejahteraan, dan mengangkat negara pada martabat yang tinggi.

Mereka meraih dan menerima jabatan karena memang mereka pantas, memiliki syarat kelayakan, kualifikasi, dan kompetensi untuk menduduki jabatan publik. Mereka mendapatkannya murni atas kehendak dan keinginan rakyat yang juga murni dan tulus mencintai mereka. Hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin diikat dengan jalinan cinta dan kasih sayang, bukan hubungan jual beli suara, janji-janji manis pada kontestan, dan memaksakan keinginan berkuasa secara berlebihan. Para pemimpin di bumi Pancasila kelak terus bermunculan dari proses dinamika politik yang sehat, perlombaan yang fair, di mana yang paling berkualitas memiliki kepantasan dan kelayakan akan menduduki posisi kepemimpinan dalam masyarakat, dan yang tidak memenuhi syarat memimpin dengan sendirinya tidak diberi mandat oleh rakyat. Dalam proses politik, warga negara yang berkesadaran Pancasila, telah terpilah dan terpilih, sehingga mereka siap menjadi pemimpin dan rela dipimpin.

Penutup

Pancasila tak diragukan lagi dapat dikukuhkan sebagai ideologi negara. Secara konsep nilai-nilai luhur universal Pancasila dapat dipertanggungjawabkan di mahkamah akal dan intelektual, secara nilai , Pancasila dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengganggu nilai-nilai luhur universal setiap agama yang ada di bumi Pancasila.

Idealogi Pancasila disepakati oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai asas negara. Negara Indonesia berasas ketuhanan yang maha esa bukan berasas salah satu agama yang ada. Setiap pemeluk agama di bawah payung Pancasila merdeka untuk menjalankan nilai-nilai agamanya masing-masing. Negara menjamin, melindungi dan memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap pemeluk agama menjalankan agamanya selama mereka sejalan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Di sisi lain setiap pemeluk agama, baik pemukanya maupun umatnya, harus mendukung program-program negara yang dikelola oleh pemerintah dalam rangka menuju Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera. Tak ada alasan logis bagi warga negara yang hidup di wilayah negara Pancasila mempertanyakan keabsahan Pancasila sebagai ideologi negara. Tak ada alasan yang masuk akal bagi warga negara yang tinggal di bumi Pancasila dengan atas nama agama atau golongan memaksakan kehendaknya seolah mereka paling berhak hidup di suatu negara yang dihuni oleh kelompok agama dan keyakinan yang berbeda-beda.

Jika didapati sekelompok warga memaksakan kehendaknya secara tidak toleran dan diskriminatif mempersoalkan agama dan golongan lain yang dianggap tidak sejalan dengan agama dan kelompoknya, maka negara didukung oleh kekuatan pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia secara serentak bersatu padu segera memotong urat nadi gerakan separatis, anarkis, intoleran dan diskriminatif itu sampai gerakan itu tak lagi berpotensi memporakporandakan persatuan yang merupakan basis kekuatan keutuhan bangsa dan negara.

Ideologi Pancasila telah menjadi ideologi negara yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Warga negara berkewajiban menjaga kewibawaan Pancasila dengan terus menerus merawat, memelihara, menjaga dan membela ideologi mulia ini dari bahaya laten yang terprogram dan terencana, baik dari kelompok yang berasal dari dalam negeri maupun dari kekuatan luar yang mengendalikan kelompok tertentu di wilayah nusantara dengan dukungan politik maupun dukungan finansial. Negara Indonesia, didukung dengan kekuatan alat-alat pemerintahan dan segenap rakyatnya, setiap saat siap sedia membela bangsa, negara dan tanah air sampai tetesan darah terakhir.

Ketika warga negara yang tinggal di bumi nusantara ini telah menerima Pancasila sebagai asas berbangsa dan bernegara dan terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya dengan nilai-nilai luhur Pancasila, maka saat itulah kita dapat menyebut bahwa ideologi Pancasila sudah menjadi nafas kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi nusantara ini. Di atas semua itu demi keharmonisan persatuan berbangsa dan bernegara terus memohon kepada Tuhan yang maha esa agar kita sebagai bangsa diberi kemampuan untuk hidup rukun, damai dan sejahtera seraya pula berharap semoga bangsa dan negara ini terlindungi dari setiap gangguan dan rongrongan oleh pihak-pihak yang tak henti-hentinya ingin melemahkan dan menghancurkan kesatuan dan persatuan bangsa dengan berbagai cara.

 

Tuhan,

karuniakan pada kami bangsa Indonesia,

kemudahan untuk setia pada nilai-nilai luhur ketuhanan dan kemanusiaan;

Karuniakan pada kami untuk menjauhi sikap tidak setia pada keadilan, kuatkan tekad kami untuk menjunjung tinggi persatuan;

 

Karuniakan pada kami ketulusan untuk berbakti kepada kepada nusa dan bangsa, anugerahi kami kemampuan menjunjung tinggi kemuliaan;

Luruskan lidah kami agar mampu berkata benar dan penuh hikmat kebijaksanaan; himpunkan kami ke dalam mereka yang sikap politiknya bernilai adiluhur..

 

Tuhan,

 

Sinari nurani kami dengan cahaya kebenaran;

Penuhi akal kami dengan ilmu pengetahuan;

Jauhkan perut kami dari mengkonsumsi makanan yang bukan hak kami, tahan lidah kami dari perkataan yang tidak berguna dan menyakiti orang;

Tahan tangan-tangan kami dari tindakan mencuri dan korupsi,

tundukkan pandangan kami dari pengkhianatan;

Palingkan pendengaran kami dari mendengarkan perkataan yang sia-sia dan menggunjing..

 

Tuhan,

Karuniakan pada tokoh-tokoh agama kami kemampuan menjadi teladan bangsa, karuniakan pada para pelajar dan mahasiswa semangat belajar dan menuntut ilmu, karuniakan kepada rakyat ini kesetiaan mendengar nasihat yang membangun;

 

Tuhan,

Karuniakan kepada para putra-putri Indonesia kesadaran dan kecerdasan;

Sembuhkan warga Indonesia yang sedang terbaring sakit di rumah-rumah mereka maupun di rumah sakit;

Anugerahi jalan keluar pada mereka yang sedang menghadapi masalah kehidupan, karuniakan kepada para pahlawan Indonesia ketenangan hidup di sisiMU;

 

Tuhan,

Karuniakan pada orang tua kami kebahagiaan dan ketentraman di sisa hidup mereka, karuniakan pada para guru kesabaran dan keteladanan mendidik anak-anak bangsa, karuniakan pada para pemuda Indonesia sikap jujur dan setia pada nilai-nilai luhur, karuniakan pada para wanita Indonesia sikap penuh tanggungjawab terhadap diri dan keluarganya;

 

Tuhan,

Karuniakan pada orang-orang kaya sikap rendah hati dan kemurahan;

Karuniakan kepada kaum papa sikap sabar dan rasa syukur,

karuniakan pada para tentara kekuatan dan ketangguhan, kepada para polisi kami kesabaran dalam melayani dan berkhidmat kepada bangsa dan negara;

 

Karuniakan kepada para pegawai dan pekerja ketekunan dan kejujuran;

Karuniakan kepada para pemimpin kami rasa keadilan, kepedulian, keteladanan dan kasih sayang, dan karuniakan kepada seluruh rakyat Indonesia kejujuran dan kebaikan budi pekerti.

Tuhan,

tambahkan kekuatan dan kemampuan kami dalam menjalani tugas dan tanggungjawab kami dalam berbakti kepada nusa dan bangsa.

Tuhan,

Dengarkan dan kabulkan doa kami, bangsa Indonesia..

 

AH Ali Reza, Aktivis Gerakan Pelayanan Bangsa

About Abu Nisrina

Check Also

Opium Des Volkers

Oleh: Zeng Wei Jian Satu Islam – “Relation  is the opium of the people”, kata …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *