Home / Opini / Kosmologi Komprehensif Hingga Agama Universal

Kosmologi Komprehensif Hingga Agama Universal

Oleh : Indra Yudistira

air
ilustrasi

Kalau kamu sibuk menghakimi, kamu tidak punya waktu untuk melayani

-Bunda Theresa-

Satu Islam – Teori-teori yang berkembang dalam ilmu-ilmu alam termasuk dalam pengetahuan kosmologi dengan beragam alirannya sperti materialisme mekanik (newton) hingga materialisme quantum fase pertama (Enstein), dan dari aliran materialisme ini di turunkan lagi menjadi teori materialisme sosial yang dikembangkan oleh Hegel dan Karl Marx. Hingga materialisme quantum postmodern sperti Rene Genon dan Fritjof Capra. Semua aliran ini adalah representatsi pandangan materialisme. Sedangkan pandangan eksistensial transendental atatu Pandangan filosofis hanya membahas kosmologi dalam perspektifnya yang abstrak atau hanya membahas level gradasi dari realitas kosmik baik yang materi dan materi. Dalam pandangan ini segala sesuatu bersifat sangat spiritual sekalipun tertangkap melalui realitas material.

Tingakatan-Tingkatan Jiwa

Realitas materi ini ditandai dengan beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling rendah adalah mineral dengan sifat-sifat mineral. Dengan sebuah proses yang natural, mineral ini menapaki fase lanjutan yakni sesuatu yang tumbuh dan berkembang kita sebut materi jenis ini disebut Tumbuh-tumbuhan (nabat). Pada level selanjutnya dan sesuai dengan proses natural, sesuatu yang berkembang dan tumbuh ini menjadi sesuatu yang berkehendak, materi yang berkehendak berdasarkan prinsip-prinsip naluri yang bersifat biologis ini kita sebut dengan hewan (Hayawan). Level berikutnya suatu yang berkehendak ini menjadi sesuatut yang berkehendak sekaligus melakukan tindakan berfikir sesuatu yang berkehendak (Hewan) dan sesuatu yang memiliki kapasitas untuk melakukan tindakan berfikir ini kita sebutt dengan manusia (insan). Maka sebenarnya materi dapatt dibagi dalam beberapa kategori berdasarkan levelitas naturalnya, yaitu mineral, tumbuh-tumbuhan (nabat), hewan (Hayawan) dan manusia (insan). Kategori-kategori materi ini terjadi dengan sebuah pergerakan natural yang dikendalikan oleh jiwa pada masing-masing level. Sifat-sifa materi pada setiap level adalah realitas natural yang bersifat pasti dan universal. Adanya level-level ini menandai adanya sebuah proses alamiah pergerakan materi yang merupakan “keberadaan” yang kita sebut dengan “apa” menuju simplisitas atau kembali kepada “ada”.

Levelitas dari Keberadaan Adalah Konsekwensi Dari Ketidak Terbatasan “Ada”

Setiap “ada” memunculkan “ada” yang sama, maka kemunculan berdasarkan sifat afinitasnya ini menguat dan melemah tergantung pada jarak kemunculan. Semakin jauh jarak afinitasnya dengan “ada” maka akan semakin lemah pula afinitasnya. Lemah dan kuatnya afinitas ini berimplikasi pada simplisitas dan kompleksitas. Semakin kuat afinitasnya, maka semakin simple, semakin lemah afinitasnya maka semakin kompleks. Untuk mencapai simplisitas ini, setiap “keberadaan” yang jauh harus melucuti kompleksitasnya untuk kembali kepada “ada” dan proses ini seperti menapaki levelitas yang artinya sangat membutuhkan fungsi perantara yang memiliki afinitas yang sama dengan sumber “ada”.

Satu aksioma mengenai Tuhan

Berdasarkan prinsip satu, maka “ada” hanya dapat di identifikasikan melalui premis analitik yang mengindikasikan realitas ontologis yang menjadi basis dari keseluruhan realitas misalnya pada pernyataan 1 + 1 adalah 2, atau pada pernyatan 4 adalah 1+1+1+1, premis analitik ini mengindikasikan tidak satupun pernyataan yang bisa melepaskan diri dari realitas 1. Inilah yang kami maksud dengan realittas ontologis. Dalam bahasa agama, “ada” yang “satu” ini adalah “Tuhan” yang di imani oleh setiap umat beragama yang ternyata pengetahuan ini diperoleh oleh fakultas yang berfungsi memunculkan premis-premis aksiomatik secara huduri seperti premis analitik pada prinsip satu. Namun umat beragama berbeda dalam menjelaskan hubungan-hubungan yang berelasi dengan konsep “Tuhan”. Ada yang menyatakan secara terang-terangan posisi monoteistiknya, ada yang tidak menyatakan secara tegas konsep Tuhan yang dimaksudkannya, namun sekali lagi, penegasan-penegasan terhadap konsep Tuhan ini tidak mempengaruhi kebenaran realitas Tuhan itu sendiri. Dan karena kaidah nir-argument ini, maka dapat dikatakan bahwa sesusungguhnya semua umat beragama mengimani realitas yang sama, yakni Tuhan itu sendiri, atas dasar kesamaan aksioma ini maka dapat dikatakan bahwa seluruh umat beragama yang meyakini “Tuhan” satu Iman.

Analisa Rasional pada predikasi-predikasi terhadap Tuhan

Realitas “satu” itu sendiri adalah “Tuhan” itu sendiri, dan penafian terhadap hal ini adalah tindakan yang keluar dari kaidah-kaidah rasional. Penyebutan “Tuhan itu satu” sebenarnya dalam logika disebut dengan tindakan “Predikasi” dan tindakan predikasi ini adalah cara nalar dalam menyebutkan sebuah ciri intrinsik yang merupakan realitas itu sendiri. Misalnya pada pernyataan “air ini dingin” , bukanlah dimaksudkan bahwa realitas “air” dan realitas “dingin” terpisah dan menempati posisi yang berbeda, melainkan bahwa realitas “air” dan “dingin” ini adalah satu realitas yang digambarkan ciri-ciri intrinsiknya melalui predikasi yakni “air yang dingin”. Berdasarkan prinsip predikasi ini, maka realitas “satu” dan “ada” adalah realitas “Tuhan” itu sendiri. Itulah kenapa penafian terhadap hal ini merupakan sebuah tindakan yang keluar dari kaidah-kaidah rasional.

Mengenai Agama ; Monoteisme

Allah swt yang kita yakini ke esaanya di terjemahkan oleh umat manusia realitasnya dengan beragam tradisi yang berbeda. Adapun tradisi yang paling sering kitat jumpai dalam menafsirkan realitas Allah swt adalah melalui keyakinan Monoteistik namun tentu juga dengan penafsiran terhadap makna monoteisme yang berbeda. setidaknya ada dua jenis monoteisme yang berkembang yaitu monoteisme eksplisit dan monoteisme implisit. Monoteisme eksplisit memandang bahwa Allah swt adalah satu namun merealisasikan kekuasaanya dengan cara lain yakni dengan seolah-olah tidak menafikan keberagaman dalam kuasa metafisik. Monteisme implisit ini kadang juga disebut dengan henoteisme. Dahulu kala penguasa mesir yang bernama Ikhnaton meyakini bahwa kekuasaan terhadap alam terjadi secara bergiliran yang diketahui melalui dampak-dampak alam seperi kuasa metafisik terhadap musim-musim yang tidak akan saling berbenturan. Namun keyakinan ini tidak menafikan bahwa seluruh kuasa ini tunduk pada sebuah kuasa agung yang mengatasi kuasa-kuasa metafisik terhadap alam ini. keyakinan ini terkadang diasumsikan sebagai keyakinan politeisme padahal keyakinan jenis ini termasuk keyakinan monoteisme yang implisit. Persis seperi keyakinan umat islam terhadap kuasa metafisik sepertit malaikat yang memegang kendali tertentu terhadap alam atau keyakinan hinduisme terhadap dewa-dewa yang hanya menguasai secara metafisik kaidah-kaidah alam tertentu dan terbatas.

Bahasa Doktrin dan Tradisi adalah cara paling terbatas dalam menjelaskan Realitas Allah

Penjelasan kami pertama mengenai ragam corak monoteisme ini adalah untuk mengklarifikasi keyakinan-keyakinan monoteisme yang berdasarkan tradisi dan doktrin agar bisa difahami secara prinsip ontologis dan bukan bertujuan membenarkan frase-frase verbal yang digunakan dalam setiap tradisi. Jika kita menyatakan secara verbal Allah itu esa, pengasih, penyayang, dan lain sebagainya maka maknanya adalah esa, pengasih,penyayang dan lain sebagainya dalam segala hal yang tidak dibatasi oleh dimensi-dimensi. Ketika ada pernyataan – pernyataan predikatif terhadap Tuhan, maka munculah sifat-sifat Tuhan yang banyak diyakini oleh berbagai agama. Hal ini terjadi karena keterbatasan kita dalam bahasa yang membutuhkan konsep-konsep “apa” untuk memahami realitas sesuatu. Prinsip-prinsip ontologis hanya dapat menerima sifat-sifat Tuhan ini sebagai kiasan-kiasan saja dan bukan pada realitasnya. Itulah kenapa Tauhid yang sejati adalah menafikan sifatt-sifat pada Tuhan dan melepaskanya dari beragam determinasi konsep, karena konsep adalah “apa” dan “apa” adalah batasan-batasan dan bagian-bagian dan kedua hal ini bukanlah prinsip dari “ada”.

Prinsip “ada” yang non-konseptual Memunculkan Beragam Corak Teori Tentang Tuhan

Sebenarnya beragamnya corak monoteisme dipengaruhi oleh adanya prinsip yang tidak dapat dimakzulkan dalam kaidah rasional yakni prinsip satu itu sendiri. Pada bagian pembahasan kesadaran eksistensi telah kita bahas bahwa prinsip satu meniscayakan bahwa sifat intrinsik “ada” tidak mungkin memunculkan sesuatu yang lebih dari ‘ada” itu sendiri yang artinya “ada” ini sendiri hanya akan memunculkan sesuatu yang memliki afinitas dengannya. Maka yang terjadi bukanlah penggandaan terhada kedirian “ada” melainkan yang terjadi adalah terjadinya sebuah hirarki “ada” yang bersifat gradatif. Gradasi ini memunculkan levelitas dari afinitas “ada” yang ditandai dengan “kuat” dan “lemah”nya intensitas “ada” itu sendiri dalam setiap level gradatif ini. itulah kenapa level yddhaang memiliki afinitas paling kuat terhadap “ada” ini sendiri menjadi perantara bagi level gradasi ‘ada” dibawahnya. Prinsip ini mengandaikan bahwa sifatt-sifatt “ada” yang menjadi sifat intrinsik dalam setiap level gradasi mengindikasikan bahwa keseluruan realitats ini adalah satu realitas, namun dengan kadar afinitasnya yang berbeda maka memiliki peran yang berbeda pula dalam realitas. Prinsip satu yang kami jabarkan ini mempengaruhi cara pandang dari corak Monoteisme dalam seluruh agama terutama dalam kalayang henoteisme yang kami sebutkan tadi.

Satu Iman tapi Tidak Satu Agama

Setelah kita membahas monoteisme dalam tradisi-tradisi agama, kita akan membahasa mengenai apa itu agama. Agama itu sendiri adalah hukum-hukum yang diturunkan dari prinsip keTuhanan. Karena manusia adalah makhluk yang terlibat sejarah dan konteks dan agama itu sendiri relasinya adalah dengan manusia maka agama dari sisi fenomenalnya terlibat dalam reduksi-reduksi konteks dan tradisi. Setelah kita meyakini bahwa agama datang untuk melengkapi nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang artinya agama tidak menjelaskan tentang apa yang baik dan apa yang benar karena konsep-konsep ini telah lebih dahulu diketahui berdasarkan kaidah-kaidah rasional. Maka agama dalam hal ini sebenarnya adalah fungsi penegas dari dari nilai-nilai kebenaran. Misalnya pada pada pernyataan “membunuh itu buruk” sebenarnya pernyataan ini   adalah kaidah moral yang bersifat ontologis sehingga sudah terlebih dahulu diketahui oleh akal sehat manusia. Namun untuk menjelaskan kaidah-kaidah yang dilakukan untuk membatasi manusia dari melanggar kaidah moral ini maka dibutuhkan sebuah perangkat hukum yang juga datang dari sumber yang bersifat ontologis. Darisinilah maka secara rasional untuk merealisasikan aturan-aturan yang bersumber dari realitas ontologis maka dibutuhkan sebuah agama sebagai bentuk hubungan Tuhan dengan Manusia. Karena sifat Tuhan yang tidak terbatas dan sifat tmanusia yang terbatas maka Proses realisasi kebutuhan terhadap agama ini tentu membutuhkan perantara yang memiliki sifat keilahian dan sekaligus sifat kemakhlukan (ingat prinsip satu). Disnilah letak perbedaan agama-agama. pada posisi ini umat beragama mulai memiliki perbedaan. Satu iman, tapi tidak satu agama.

Indra Yudistira

Pemuda Gerakan Pelayanan

About Abu Nisrina

Check Also

Seksi Suriah

Oleh: Anwar Aris Satu Islam – “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.” Godbless Pasca …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *